Kamis, 01 Nov 2018 14:07 WIB

Zaman Sudah Canggih, Teknologi Black Box Masih Jadul

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Black box sudah ditemukan sejak lama, tapi sayang sejumlah teknologi canggih tidak bisa dinikmatinya. Foto: Rengga Sancaya Black box sudah ditemukan sejak lama, tapi sayang sejumlah teknologi canggih tidak bisa dinikmatinya. Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Penyelam TNI AL, Sertu Hendra, baru saja mengonfirmasi bahwa black box Lion Air PK-LQP telah ditemukan utuh di Perairan Karawang pada kedalaman 30 meter. Penemuan kotak hitam ini menjadi elemen penting dalam penyelidikan lebih lanjut terkait insiden jatuhnya pesawat Lion Air JT 610.

Hal tersebut lantaran black box menyimpan misteri yang bisa mengungkap penyebab kejadian kecelakaan. Ia berfungsi untuk menyimpan percakapan yang terjadi antara pilot kepada krunya atau menara pengawas.

Selain itu, black box juga bisa menyimpan berbagai informasi dari banyak sensor di pesawat terkait masalah yang bisa jadi penyebab kecelakaan. Nantinya, informasi yang terekam akan dijadikan petunjuk oleh pihak berwenang untuk mengungkap misteri penyebab kecelakaan.




Walau memiliki kemampuan mumpuni, namun alat ini disebut sudah jadul alias ketinggalan zaman. Apalagi di tengah pesatnya perkembangan teknologi pada zaman saat ini.

Tahukah Anda kalau black box yang jamak digunakan saat ini pertama kali ditemukan pada 1950an? Lantas di bagian mana ketinggalan zamannya? Sebelum sampai ke bagian itu ada baiknya kita menelusuri lebih dulu secara singkat perjalanan lahirnya black box.

Adalah Dr. David Warren dari Australia yang pertama kali mendesainnya. Ia terinspirasi dari kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa ayahnya pada 1934 saat dirinya masih berusia 9 tahun.

Prototipe pertama black box dibuat pada 1956 dengan nama ARL Flight Memori Unit. Butuh sekitar 5 tahun bagi Warren hingga perangkat buatannya dianggap penting oleh dunia penerbangan.

Sejak saat itu, tidak ada perubahan berarti terhadap fungsi maupun fitur yang dimilikinya. Black Box terdiri dari dua bagian, yaitu Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (VCR).

Berdasarkan keterangan dari Anthony Brickhouse, dari Embry-Riddle Aeronautical University, kampus penerbangan di Amerika Serikat, FDR bertugas menyimpan parameter penerbangan selama 25 jam sebelum ditimpa dengan rekaman baru. Informasi tersebut meliputi kecepatan, ketinggian, waktu, hingga arah pesawat.

Sedangkan VCR menyimpan percakapan antara pilot kepada krunya atau menara pengawas. Periode rekamannya selama dua jam, dan setelahnya ia akan terus merekam ulang dengan sendirinya dan menimpa data sebelumnya.

Black box terbaru telah menggunakan memori jenis solid-state sebagai media penyimpanannya -- dalam satu hal ini memang tak ketinggalan zaman. Adapun kapasitas penyimpanannya bisa menampung sampai 700 parameter data penerbangan.

Selain itu, ada standar keamanan juga yang harus dimiliki black box, yaitu tahan api, tahan air, dan mampu menahan tekanan hingga di kedalaman 6.000 meter di bawah permukaan laut. Oh ya, black box tak berwarna hitam, melainkan jingga agar mudah dilihat.




Melihat sederetan kemampuannya itu, di bagian mana sih ketinggalan zamannya? Nah, hal ini mulai tampak dari cara untuk menemukan black box.

Ketika ia jatuh ke dalam air, maka black box akan mengirimkan getaran. Sayang, alat pelacaknya itu memiliki baterai yang hanya tahan sampai 30 hari. Lewat dari situ, pencariannya akan semakin sulit.

Salah satunya terjadi pada kasus kecelakaan Air France pada 2009. Petugas butuh waktu sampai dua tahun untuk menemukan black box.

Sejak kejadian tersebut, Prancis punya sejumlah ide untuk memberikan pengembangan terhadap perangkat tersebut. Beberapa di antaranya adalah mekanisme ketapel ketika ia jatuh di permukaan air, sampai peningkatan ketahanan pelacaknya sampai 90 hari.

Mungkin ada yang berpikir, kenapa tidak disematkan GPS saja? Sayang, tidak seperti smartphone, teknologi tersebut sulit diterapkan pada black box.

Alasannya, perangkat ini butuh bandwidth super besar untuk mengirimkan informasi karena besarnya data yang disimpannya. Selain itu, kecepatan akses data di tiap negara juga berbeda-beda sehingga cara tersebut masih sulit diimplementasikan.

Oke, jika cara menemukannya sulit diubah, bagaimana dengan metode penyimpanan datanya? Salah satu ide yang muncul adalah mengirim data rekaman di kokpit serta informasi penerbangan ke satelit dan disimpan di media penyimpanan miliknya.

Tidak hanya menghilangkan kekhawatiran jika black box tidak dapat ditemukan, tapi rekaman yang bisa didengarkan secara real-time juga berpotensi untuk mencegah kecelakaan dengan mendeteksi masalah yang terjadi. Kedengarannya bagus, tapi implementasinya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Faktor penghalangnya adalah uang. Ide tersebut akan sangat mahal untuk diwujudkan. Pihak maskapai penerbangan harus menambahkan komponen-komponen tertentu di seluruh armadanya, memesan satelit, dan mengamankan penyimpanan data.

Sekadar informasi, bandwidth data menggunakan satelit juga sangat mahal. Biayanya sekitar USD 1 per kilobyte, dengan potensi terus meningkat seiring waktu berjalan.




"Seperti semua hal, kalian tahu uang akan selalu jadi masalah," ucap Brickhouse, sebagaimana detikINET kutip dari Popular Science, Kamis (1/11/2018).

Menarik untuk ditunggu bagaimana black box akan berkembang mengikuti inovasi-inovasi yang ada di teknologi. Mengingat peran vitalnya di dunia penerbangan, tentu jadi kabar baik jika black box bisa lebih kekinian lewat tambahan teknologi canggih pada zaman now.


(mon/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed