Jumat, 26 Okt 2018 17:53 WIB

Kecanggihan IoT 'Blusukan' ke 5 Kota di Indonesia

Rachmatunnisa - detikInet
Para pembicara IoT Forum. Foto: Indonesia IoT Forum Para pembicara IoT Forum. Foto: Indonesia IoT Forum
Jakarta - Indonesia IoT Forum menggelar kampanye IoT Goes to Market 2018. Agenda 'blusukan' ini dimaksudkan untuk memperkenalkan Internet of Things (IoT) sebagai solusi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi bagi industri dan masyarakat.

IoT Goes to Market 2018 akan berlangsung di lima kota, yaitu Bandung, Bali, Jakarta, Medan, dan Yogyakarta, dengan menggandeng Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perindustrian, dan Badan Ekonomi Kreatif.

Melalui keterangan resminya yang dikutip detikINET, Jumat (26/10/2018), Founder Indonesia IoT Forum Teguh Prasetya mengatakan, industri IoT di Indonesia saat ini mulai tumbuh.

Para pemain IoT memanfaatkan berbagai teknologi dan frekuensi yang sudah dapat digunakan, baik licensed maupun unlicensed sambil menunggu aturan alokasi frekuensi non seluler dari regulator.

Kecanggihan IoT 'Blusukan' ke 5 Kota di Indonesia Founder Indonesia IoT Forum Teguh Prasetya. Foto: Indonesia IoT Forum


"Solusi IoT membantu perusahaan dari berbagai aspek, salah satunya mengurangi potensi kerugian akibat aktivitas bisnis atau produksi yang tidak maksimal," ujar Teguh.

"IoT juga membantu memberikan data yang lebih akurat dan cepat sehingga keputusan bisnis dapat diambil dengan lebih tepat," sambungnya.

Tahun ini, Indonesia IoT Forum memulai kampanye IoT Goes to Market yang berisi berbagai kegiatan untuk mengedukasi, melihat potensi bisnis, maupun menggali kemampuan para makers di daerah.

"Sebagai connectivity layer dan salah satu dari lima teknologi kunci, IoT harus didorong untuk tumbuh dan menumbuhkan banyak pengusaha lokal. IoT Goes to Market diadakan untuk memulai hal ini," terang Teguh.

Kampanye IoT Goes to Market 2018 merupakan rangkaian kegiatan berupa seminar, focus group discussion (FGD), dan workshop. Kegiatan seminar diharapkan menjadi ajang edukasi mengenai IoT baik dari sisi layanan maupun teknologi kepada pasar dan masyarakat yang potensial.

Adanya FGD diadakan untuk menyerap masukan dan kebutuhan para pelaku industri yang menjadi landasan kegiatan workshop bagi para makers.

Gathering sebagai kegiatan penutup diharapkan dapat menjadi ajang konsolidasi sesama pemain IoT dan pemangku kepentingan seperti regulator dan asosiasi lainnya, termasuk menetapkan langkah selanjutnya untuk tercapainya target Making Indonesia 4.0.

Bandung menjadi kota pertama berlangsungnya kegiatan FGD bagi para pelaku industri dan workshop bagi para makers di Jawa Barat.

Sementara itu, pada Kamis (25/10), kegiatan di Jakarta dimulai dengan seminar 'Bisnis IoT di Indonesia, Makers: Dari Hobi Menjadi Bisnis.'

Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika Ismail mengatakan, teknologi IoT merupakan teknologi yang unik.

Agar bisa mendapatkan keuntungan dari teknologi tersebut, harus didasarkan pada use case yang bisa mendukung proses bisnis dari suatu aktivitas.

Kecanggihan IoT 'Blusukan' ke 5 Kota di Indonesia Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika Ismail. Foto: Indonesia IoT Forum


"Tujuan yang diinginkan jelas yaitu meningkatkan revenue, efisiensi atau mengurangi cost, atau bisa juga memberikan satu nilai baru dalam proses bisnis. Untuk bisa memperoleh hal tersebut, tentunya diperlukan solusi-solusi lokal yang bisa menyelesaikan permasalahan yang ada," ujarnya.

Ismail menambahkan, solusi lokal ini bisa digali oleh makers atau komunitas lokal yang tahu permasalahan sesungguhnya di pasar. IoT akan siap untuk dibawa ke pasar jika memang terbukti bisa memberikan nilai tambah dengan cost yang tidak semahal solusi lainnya.

"Maka dari itu, mendorong para makers adalah hal yang penting agar tercipta use case yang customized yang pada akhirnya bisa memberikan dampak yang signifikan," ujarnya.

Kesiapan connectivity

Berbeda dengan negara-negara lain yang telah menyelesaikan masalah infrastruktur telekomunikasi, Indonesia masih harus menyelesaikan masalah ini karena tantangan kondisi geografis di Indonesia.

"Diharapkan dengan selesainya Palapa Ring di 2019, permasalahan konektivitas di Indonesia bisa terselesaikan. Dengan begitu, maka tidak akan ada permasalahan dalam konektivitas IoT baik dengan konektivitas langsung (dari end device ke server/cloud) atau dari gateway ke server atau cloud," kata Ismail.

Terkait dengan frekuensi, dengan konsep neutral technology, maka koneksi IoT yang menggunakan jaringan bergerak seluler bisa menggunakan pilihan teknologi yang menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada.

Kecanggihan IoT 'Blusukan' ke 5 Kota di Indonesia VP Technology & System Telkomsel Indra Mardiatna. Foto: Indonesia IoT Forum


Menanggapi hal tersebut, VP Technology & System Telkomsel Indra Mardiatna, mengatakan Telkomsel mendukung roadmap strategi pemerintah, Making Indonesia 4.0 dengan membangun infrastruktur dan fasilitas IoT, seperti teknologi NB IoT, IoT Innovation Lab serta berkolaborasi dengan start-up sehingga mampu mendorong percepatan ekosistem dan bisnis IoT di Indonesia.

Geliat makers lokal

CEO Prasimax Didi Setiadi mengatakan, dari segmen device, sudah mulai tumbuh makers lokal yang menciptakan produk kreativitas dan inovasi. Namun, kecepatan pertumbuhan makers device IoT tersebut tidak secepat makers dari negara lain.

"Makers sangat bisa menjadikan solusi IoT ini sebagai bisnis dengan nilai tinggi, namun mereka juga harus siap menghadapi beberapa tantangan dari sisi regulasi, market dan teknologi," ujarnya.

Kecanggihan IoT 'Blusukan' ke 5 Kota di Indonesia CEO Prasimax Didi Setiadi. Foto: Indonesia IoT Forum


Untuk konteks Indonesia, Didi melihat bahwa para makers masih membutuhkan dukungan pemerintah, selain investor. Pemerintah bisa membantu mendorong melahirkan pengusaha lokal di bidang IoT dengan memberi kemudahan bagi makers untuk mendatangkan atau memproduksi kompenen di Indonesia.

Teguh menyebutkan, peserta workshop dalam IoT Goes to Market difokuskan pada mereka yang sudah pernah membuat solusi terkait dengan IoT sebelumnya sehingga nanti bisa dibawa ke tahap pengembangan selanjutnya menjadi produk yang siap di serap pasar.

Senada dengan Teguh, Direktur Industri Elektronika dan Telematika Ditjen ILMATE Kementerian Perindustrian Achmad Rodjih dalam kesempatan terpisah menambahkan perlunya mengumpulkan data kebutuhan industri untuk dapat dikomunikasikan dengan makers lokal.

"Kami dorong para pelaku industri untuk memanfaatkan solusi yang ada di dalam negeri. Tentu saja solusi yang ada sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat menciptakan proses bisnis yang lebih efisien dan efektif," ujarnya. (rns/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed