Rabu, 24 Okt 2018 15:16 WIB

'Uang Arab Saudi di Jagat Teknologi Harus Disetop'

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Ro Khanna, anggota Kongres Amerika Serikat, mengatakan bahwa aliran dana investasi Arab Saudi ke perusahaan teknologi di Silicon Valley harus disetop. Foto: Instagram/reprokhanna Ro Khanna, anggota Kongres Amerika Serikat, mengatakan bahwa aliran dana investasi Arab Saudi ke perusahaan teknologi di Silicon Valley harus disetop. Foto: Instagram/reprokhanna
Jakarta - "Silicon Valley harus secara secara gamblang mereka tidak akan menerima penanaman modal apapun dari Arab Saudi," ujar Ro Khanna, anggota Kongres Amerika Serikat mewakili California.

Pernyataan itu merujuk pada aliran dana investasi dari negara penghasil minyak tersebut ke perusahaan-perusahaan teknologi asal Negeri Paman Sam. Uber, Lyft, Twitter, sampai Tesla merupakan beberapa di antaranya.


Dalam salah satu unggahan di Facebook miliknya, Khanna juga berujar hal serupa. Kali ini, ia menyinggung soal nilai moral yang harus dimiliki para pelaku bisnis di Silicon Valley.

"Sudah bukan rahasia lagi bahwa Arab Saudi melakukan investasi besar-besaran di Silicon Valley. Tapi mengingat mereka terus menunjukkan kebrutalan mereka, salah satunya perang di Yaman yang membuat 12 juta orang di ambang kelaparan, kita harus menanyakan kepada perusahaan di Silicon Valley apakah mereka masih mau menerima uangnya," tuturnya.

"Rezim Arab Saudi tidak memiliki nilai yang sama dengan kita. Mereka mematikan kebebasan sebagaimana kita melihat pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Saya mendorong para pemimpin bisnis di Silicon Valley untuk mempertimbangkan nilai moral dari masyarakat kita dan menolak investasi Arab Saudi. Kita harus dibimbing oleh nilai kita," ujarnya menambahkan.



Hal serupa juga diungkapkan oleh Wesley Chan. Ia merupakan Managing Director dari Felicis Venture, perusahaan pendanaan yang berbasis di Silicon Valley dan sempat bekerja di Google.

"Jika kamu menerima miliaran dollar dari orang yang nilainya tidak sesuai denganmu, kamu tidak bisa mengatakan dengan wajah datar bahwa kamu tidak setuju atau berbeda pendapat (terhadap hal tersebut)," katanya.


"Kamu tidak bisa mengatakan kamu percaya terhadap kebebasan berpendapat dan debat politik, dan seketika menerima uang dari orang-orang yang sudah terlibat dalam pembuhuhan yang menghebohkan dan mengerikan terhadap jurnalis yang terhormat," ujar Chan menambahkan.

"Hal tersebut berdampak besar pada moral orang-orang yang memilih untuk bekerja sama dengan mereka," pungkasnya, sebagaimana detikINET kutip dari Politico, Rabu (24/10/2018).

Sebelumnya, laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Agustus lalu juga memberi tekanan terhadap industri teknologi. Analis mereka menemukan bahwa koalisi militer yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menjadi dalang dari kejahatan perang di Yaman sehingga menyebabkan ribuan warga sipil tewas akibat serangan udara.

"Masih banyak uang di Silicon Valley dan kita tidak perlu untuk menerima investasi dari orang-orang tangannya sudah kotor akan darah dari ribuan mayat warga Yaman," kata Khanna menanggapi hal tersebut.

Sampai saat ini, masih belum tampak perusahaan teknologi yang menunjukkan sikap untuk menghentikan aliran dana dari Arab Saudi. Walau begitu, Richard Branson sudah menjadi pionir bagi pelaku bisnis lain terhadap kasus ini.


Ia baru saja memutuskan untuk mundur dari jabatan Chairman Virgin Hyperloop One. Menariknya, hal tersebut dilakukannya tak lama setelah Arab Saudi membatalkan kerja samanya dengan perusahaan yang berusaha menciptakan moda transportasi modern hyperloop itu.

Pembatalan itu bermula dari keputusan Branson yang membekukan kerja sama antara keduanya sampai kejelasan mengenai pembunuhan Jamal Khashoggi. Arab Saudi dilaporkan melakukan investasi sebesar USD 1 miliar pada bisnis ini.



Tonton juga 'Bahas Kematian Jamal, Erdogan Panggil Semua Menteri':

[Gambas:Video 20detik]

(mon/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed