Senin, 22 Okt 2018 16:25 WIB

Samaira Mehta, Coder Cilik yang Dilirik Google-Microsoft

Virgina Maulita Putri - detikInet
Samaira Mehta. Foto: Business Insider Samaira Mehta. Foto: Business Insider
Jakarta - Samaira Mehta terlihat seperti anak berumur 10 tahun kebanyakan. Tapi siapa sangka, gadis yang tumbuh dan besar di Silicon Valley ini telah menjadi panutan bagi anak seumurannya karena kerjanya sebagai coder dan programer.

Mehta sendiri telah belajar coding sejak berusia enam tahun. Pada usia delapan tahun, dia menciptakan board game pertamanya, CoderBunnyz yang juga mengajarkan anak-anak tentang coding.



Sejak saat itu, sepak terjang Mehta pun banyak diliput media dan ia sering menjadi pembicara di banyak konferensi di Silicon Valley.

Samaira Mehta, Coder Cilik yang Dilirik Google-MicrosoftFoto: Business Insider


Mengajak Anak-anak Belajar Coding

Mehta pertama kali mencuri perhatian ketika tampil di video buatan stasiun TV Cartoon Network yang mencari anak-anak kecil yang diprofilkan sebagai 'Powerpuff Girls' di dunia nyata.

Setelah itu, Mehta yang juga menjabat sebagai CEO CoderBunnyz pun mulai muncul di berbagai media dan menjual board game buatannya di Amazon.

"Kami telah menjual 1.000 kotak, jadi lebih dari USD 35.000 (Rp 531 juta) dan ini baru tersedia di pasar selama satu tahun," kata Mehta, seperti dikutip detikINET dari Business Insider, Senin (22/10/2018).

Selain meluncurkan CoderBunnyz, dengan dibantu ayahnya yang merupakan teknisi Intel, Mehta juga menggunakan game ini untuk membentuk workshop coding bagi anak-anak usia sekolah.

Ia juga meluncurkan inisiatif 'Yes, 1 Billion Kids Can Code' yang memungkinkan orang-orang mendonasikan game ini ke sekolah-sekolah. Mehta pun membentuk workshop untuk membantu anak-anak di sekolah tersebut untuk menguasai game buatannya. Sampai saat ini, CoderBunnyz telah digunakan di 106 sekolah untuk mengajarkan coding ke anak-anak.

Saking suksesnya CoderBunnyz, Mehta pun berkolaborasi dengan adiknya yang masih berusia enam tahun untuk meluncurkan sekuelnya. Masih dalam bentuk board game, game yang disebut CoderMindz ini ingin mengajarkan anak-anak tentang coding menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Dengan CoderMindz, anak-anak akan belajar prinsip-prinsip dasar AI seperti melatih model AI, inferensi dan adaptive learning. Keterampilan ini nantinya dapat digunakan anak-anak untuk membangun robot.

Samaira Mehta, Coder Cilik yang Dilirik Google-MicrosoftFoto: Business Insider


Menarik Perhatian Google dan Microsoft

Meningkatnya popularitas CoderBunnyz, membuat Mehta menjadi semakin sering mengadakan workshop. Sejauh ini, ia sudah melakukan 60 workshop di Silicon Valley yang diikuti 2.000 anak.

Salah satu lokasi workshop ini adalah di markas Google yang bertempat di Mountain View, California, AS. Di situlah Mehta bertemu dengan Chief Culture Officer Stacy Sullivan yang menawarkan Mehta bekerja di Google.

"Setelah beberapa kali workshop di markas Google, kami berbicara selama satu jam. Ia berkata bahwa saya melakukan hal yang hebat dan setelah lulus kuliah saya bisa bekerja di Google," ujar Mehta.

Mehta sendiri berkata kepada Sullivan bahwa ia tidak tahu apakah ia ingin bekerja untuk Google atau tidak. Mehta mengatakan, ia lebih suka menjadi seorang entrepreneur.

Sullivan sendiri sangat terkesan dengan Mehta sampai menjadikannya salah satu pembicara utama di konferensi Diversity in Tech yang diadakan Google pada bulan Agustus. Selain Google, Mehta juga pernah berbicara di konferensi Women in Technology yang diadakan Microsoft.

Mehta juga pernah bertemu dengan beberapa figur penting lainnya. Antara lain bertemu CEO Facebook Mark Zuckerberg saat Halloween. Saat itu, Mehta sedang 'trick-or-treating' di sekitar rumah Zuck.

"Saya akhirnya bisa bertemu dia. Ia sedang membagi-bagikan coklat," kenang Mehta.

"Saya memberitahunya bahwa saya adalah coder muda, dan ia memintaku untuk terus melakukannya dan menyebut saya hebat," lanjutnya.



Selain Zuckerberg, Mehta juga pernah menerima surat dari mantan ibu negara AS, Michelle Obama.

Sama seperti banyak jagoan Silicon Valley lainnya, Mehta juga tidak lupa akan kegiatan amalnya. Ketika bisnisnya mulai mendapatkan keuntungan, ia akan menyisihkannya untuk yayasan amal PATH yang membantu tunawisma.

"Ini akan mengakhiri tunawisma dan membantu orang-orang membangun kembali keterampilannya, dan saya peduli dengan tunawisma," pungkasnya. (rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed