Rabu, 17 Okt 2018 11:07 WIB

Mengharukan, Kenangan Bill Gates Soal Paul Allen

Fino Yurio Kristo - detikInet
Bill Gates bersama Paul Allen. Foto: Bill Gates Bill Gates bersama Paul Allen. Foto: Bill Gates
Jakarta - Paul Allen telah meninggal dunia karena kanker di usia 65 tahun. Sahabatnya Bill Gates pun berduka cita. Tak heran, mereka bersahabat sejak zaman remaja dan kemudian mendirikan Microsoft, perusahaan yang akhirnya jadi raksasa software dunia.



Meski sering berbeda pandangan bahkan bertengkar hebat, mereka tetaplah sobat. Bill Gates pun mengenang kembali kebersamaannya dengan Allen dalam catatan yang ia tulis di blog resminya. Berikut tulisannya yang menyentuh:

Paul Allen, salah satu teman terlama dan mitra bisnis pertamaku, meninggal dunia kemarin. Aku ingin mengucapkan duka buat saudarinya, Jody, buat keluarganya, dan teman-teman serta koleganya di seluruh dunia.

Aku bertemu dengan Paul ketika aku kelas 7 dan hal itu mengubah hidupku.

Aku menjadikan dia panutan. Dia dua tahun di atasku, sangat tinggi dan terbukti sangat jenius soal komputer. Di kemudian hari, dia juga punya jenggot yang sangat keren. Kami mulai akrab, terutama ketika komputer pertama tiba di sekolah. Kami menghabiskan semua waktu luang kami mengutak atik komputer yang bisa kami pegang.

Ini saat kami berada di sekolah dulu. Paul berada di sisi kiri, teman kami Ric Weiland dan aku berada di sebelah kanan.
Mengharukan, Kenangan Bill Gates Soal Paul AllenFoto: Bill Gates

Paul meramalkan bahwa komputer akan mengubah dunia. Bahkan di SMP, sebelum kami semua tahu apakah itu komputer personal, dia sudah memprediksi chip komputer akan menjadi super powerful dan akhirnya mengangkat seluruh industri baru. Pandangan itu adalah batu pijakan semua yang kami lakukan bersama-sama.

Faktanya, Microsoft tidak akan pernah tercipta tanpa Paul. Di Desember 1974, dia dan aku tinggal di Boston, dia bekerja dan aku kuliah. Suatu hari dia datang, mendesakku pergi ke toko koran terdekat. Saat kami tiba, dia menunjukkan cover majalah Popular Electronics edisi Januari. Menampilkan komputer bernama Altair 8800, dijalankan dengan chip baru yang powerful. Paul menatapku dan berkata, "Hal ini terjadi tanpa kita!". Momen itu menandai berakhirnya kuliahku dan mulainya perusahaan baru kami, Microsoft. Hal itu terjadi karena Paul.

Sebagai mitra pertamaku, Paul menetapkan standar yang hanya bisa dicapai segelintur orang. Pikirannya luas dan memiliki bakat istimewa menjelaskan sesuatu yang kompleks dalam cara sederhana. Karena aku cukup beruntung mengenalnya dari umur begitu muda, aku sudah melihat hal itu sebelum seluruh dunia tahu.

Sebagai remaja, aku sangat ingin tahu tentang bensin. Aku bertanya pada orang paling berpengetahuan yang aku tahu. Paul menjelaskannya dengan cara yang sangat jelas dan menarik. Itu adalah salah satu dari banyak percakapan mencerahkan yang kami lakukan.

Paul lebih keren daripada aku. Sebagai remaja, dia sangat gemar Jimi Hendrik dan aku ingat dia memainkan lagu Are You Experienced? untukku. Dulu aku tidak punya banyak pengalaman dan Paul ingin membagikan musik mengagumkan itu denganku. Orang semacam itulah dia. Dia mencintai kehidupan dan orang-orang di sekitarnya, dan itu ditunjukkannya.

Olahraga adalah passion lainnya yang senang dibagikan Paul dengan teman-temannya. Pada tahun-tahun berikutnya, dia akan membawaku melihat pertandingan Portland Trail Blazers yang disukainya dan dengan sabar membantuku mengerti semua hal yang terjadi di lapangan.

Ketika aku berpikir tentang Paul, aku mengingat manusia penuh passion yang selalu memperhatikan keluarga dan teman-temannya. Aku juga mengingat teknolog brilian dan dermawan yang ingin mencapai hal-hal besar dan melakukannya.

Paul pantas mendapatkan lebih banyak waktu. Dia akan benar-benar memanfaatkannya. Aku akan sangat merindukannya.




Tonton juga 'Mengenal Kanker Limfoma yang Merenggut Nyawa Pendiri Microsoft':

[Gambas:Video 20detik]

(fyk/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed