Belum Gol, Domain .xxx akan Dikaji Kembali
- detikInet
Jakarta -
Persetujuan nama domain .xxx mengalami penundaan, karena adanya kecemasan akan dampak pembuatan domain khusus untuk konten vulgar. Pemerintah Amerika Serikat menilai perlu untuk mempelajarinya lebih lanjut.Kekhawatiran para pejabat pemerintah akan dampak nama domain .xxx, membuat pengimplementasian domain tersebut ditunda untuk sementara waktu.BBCNews.com, yang dikutip detikinet, Rabu (17/8/2005) melansir, pejabat dari kantor administrasi Presiden George Bush, menyatakan adanya penundaan rencana nama domain khusus untuk konten esek-esek itu, sampai ada pemahaman lebih dalam mengenai dampak-dampaknya.Sebelumnya permohonan nama domain tersebut telah diloloskan badan penamaan dan pengalamatan internet (Internet Corporation for Assigned Names and Numbers--ICANN) pada bulan Juni. Tetapi beberapa kalangan lalu berpendapat, hal ini malah akan memacu pertumbuhan pornografi di internet.ICM Registry, lembaga nirlaba yang akan mengoperasikan nama domain .xxx, mengatakan pihaknya setuju akan adanya penundaan nama domain selama sebulan. Pihaknya akan memanfaatkan waktu tersebut untuk mengeksplorasi dampak yang saat ini menjadi kekhawatiran.Nama domain .xxx baru diloloskan ICANN dalam waktu lima tahun sejak diajukan pertama kali. Ide pembentukan domain .xxx dimaksudkan agar situs-situs pornografi bisa memakai nama khusus ini. Dengan begitu, konten-konten porno memiliki wadahnya sendiri, sehingga memudahkan orang untuk mencari atau menghindarinya.Di sisi lain ada pendapat, hal ini malah menyebabkan konten-konten bertema seks makin merajalela di internet."Departemen perdagangan telah menerima sedikitnya enam ribu surat dan e-mailyang berisi pendapat masyarakat mengenai dampak pornografi pada keluarga dananak-anak," Ujar Michael Gallagher, asisten sekretaris pada Departemen Perdagangan Amerika Serikat.Di bulan Juni protes terhadap pemberlakuan nama domain ini makin keras disuarakan. Meski begitu, masalah penamaan konten khusus dewasa ini memang harus disikapi dengan bijak. Data dari ICM Registry menyebutkan, lebih dari 10 persen dari lalu-lintas online dan 25 persen dari materi pencarian di internet, merupakan situs dengan konten 17 tahun ke atas.
(nks/)