Kamis, 09 Agu 2018 16:09 WIB

Teknologi Bikin Negara Ini Tak Bahagia

Indissa Salsabila - detikInet
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi perlahan menghilang karena terpaan teknologi modern. Bhutan, sebuah negara kecil di Asia, didefinisikan sebagai negara yang sukses, bukan dari segi ekonomi, namun dari tingkat kebahagiaan warganya.

Gagasan 'Gross National Happiness' diperkenalkan kaum Budha di Bhutan untuk mengukur kesejahteraan negara. Perdana Menteri Bhutan juga pernah menyebutkan bahwa Bhutan merupakan negara yang paling bahagia di dunia.

Namun ternyata, masyarakat Bhutan merasa bahwa persepsi itu tidak selalu sama dengan kenyataan yang ada. Terlepas dari usaha yang dilakukan pemerintah, saat ini Bhutan menempati peringkat ke-97 dari 156 negara pada daftar laporan 'World Happiness' edisi terbaru PBB.



Salah satu penyebabnya, mungkin berhubungan dengan masuknya teknologi modern ke Bhutan. Meskipun selama beberapa dekade Bhutan telah melarang teknologi masuk ke negaranya, tampaknya kemajuan teknologi seperti ponsel, TV, dan komputer secara perlahan mulai masuk dan membawa permasalahan baru, serta menyebabkan cara hidup lama masyarakat Bhutan mulai menghilang.

Dalam beberapa tahun terakhir, TV dituding menjadi salah satu penyebab 'berkurangnya kebahagiaan' warga Bhutan karena berbagai macam hal yang terjadi di sana, mulai dari tindak kejahatan yang terus meningkat, hingga berubahnya demografi negara karena penduduk pedesaan pindah ke kota-kota besar untuk mencari pekerjaan.

Iklan yang ditampilkan pada TV dinilai telah membangun keinginan masyarakat, yang tidak dapat mereka peroleh dengan kondisi ekonomi mereka saat ini.


Phuntsho Rapten dari Centre for Bhutan Studies menyebutkan, kejahatan dan korupsi sering lahir dari hasrat ekonomi. Perubahan iklim, dan isu modern lainnya, juga mengambil peran pada perubahan yang terjadi di Bhutan.

Gletser yang mencair, mengancam industri tanaman yang menjadi penyongkong energi negara. Hal itu tentu menghambat kemajuan negara mengingat Bhutan dianggap PBB sebagai negara yang paling tidak berkembang di dunia.



"Kami mengalami kenaikan kesenjangan pendapatan, meningkatnya pengangguran muda, dan degradasi lingkungan," ungkap Needrup Zangpo, Direktur Eksekutif Jurnalists' Association of Bhutan.

Survei kebahagiaan yang dilakukan Bhutan menggambarkan transformasi keadaan masyarakat Bhutan saat ini. Menurut laporan 'Gross National Happiness' tahun 2015, jumlah orang yang melaporkan emosi negatif, seperti marah, takut, dan sifat egois meningkat dibandingkan survei yang dilakukan sebelumnya. Sementara itu, emosi positif dari masyarakat Bhutan cenderung menurun.

Meskipun 90% dari responden secara keseluruhan dapat dikatakan bahagia, sebagian besar dari mereka, yakni 48% memilih untuk menggambarkan diri mereka sebagai 'orang yang nyaris bahagia', di samping pilihan lainnya yakni, 'sangat bahagia' atau 'sangat amat bahagia'.




Tonton juga 'JK ke Capaja: Teknologi Jadi Ancaman Baru!':

[Gambas:Video 20detik]

(rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed