Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Mitra Netra: TI Perluas Peluang Tuna Netra

Mitra Netra: TI Perluas Peluang Tuna Netra


- detikInet

Jakarta - Keterbatasan indera penglihatan tidak jadi halangan bagi penyandang tuna netra untuk maju. Mereka berkemauan besar untuk memperbaiki hidup dengan mengandalkan teknologi informasi (TI). Salut!Sebagai manusia yang punya panca indera lengkap, kita wajib bersyukur dan berintrospeksi. Tuna netra yang punya kekurangan dalam melihat, punya usaha dan kemauan yang besar. Apalagi usaha mereka untuk memperbaiki kehidupan dengan mengandalkan teknologi informasi.Irwin Dwikustanto, Pimpinan Proyek dari Yayasan Mitra Netra (YMN) mengungkapkan, tuna netra termasuk di dalam kelompok masyarakat yang haknya terdiskriminasi oleh sistim kekuasaan negara dan budaya akibat ketidakseimbangan akses teknologi, komunikasi dan informasi (ICT).Menurutnya, salah satu ketidakseimbangan itu terletak di bidang teknologi komputer yang merupakan penunjang komunikasi untuk mempermudah pekerjaan.Oleh sebab itu, pihak YMN lalu mengembangkan program strategis untuk tuna netra. Hal itu dilakukan karena program dan disain teknologi informasi (TI) yang ada saat ini, belum cukup memadai untuk komunitas mereka.Pernyataan itu diungkap Aria Indrati, Public Relation YMN. "Dengan akses TI, tuna netra bisa mempunyai peluang yang lebih besar dalam mengerjakan sesuatu. Hal itu tentunya berpengaruh besar pada masa depan penyandang kekurangan fisik, seperti masalah pekerjaan," tuturnya kepada detikinet Rabu(3/8/2005)."Tuna netra di Indonesia masih terabaikan, padahal mereka juga punya hak yang sama," kata Aria. "Detikcom sebagai media berita juga belum mendukung," katanya sambil tertawa.Tiga ProgramSaat ini seperti dituturkan Aria, ada tiga program yang sedang dikembangkan oleh YMN. Ketiga program tersebut yaitu 'Inklusi', 'Kembangkan ICT', dan 'Kembangkan Peluang Kerja'.Program 'Inklusi' yang dimaksud Aria ialah semacam program tambahan yang bisa disertakan di sekolah. Hal itu menurutnya perlu dilakukan agar penyandang tuna netra dapat bersekolah di sekolah umum. Hal itu lanjutnya, perlu didukung oleh supporting center seperti YMN sebagai mitra. Kemitraan dalam hal ini bisa berupa buku, dan informasi berupa pelatihan pada guru.Pada program 'Kembangkan Peluang Kerja', Aria menceritakan tentang peluang tuna netra untuk bekerja layaknya manusia yang diberi kesempurnaan fisik. Pekerjaan seperti komposer musik, call center, bahkan sebagai jurnalis. Sedangkan untuk program 'Kembangkan ICT' bisa berupa inovasi-inovasi. "Kami juga punya media online seperti detikcom khusus untuk tuna netra. Mulai dari pimred, redaktur, bahkan sampai wartawan, semuanya tuna netra," ujar Aria.Ketiga program yang sedang dikembangkan itu akan saling berkaitan satu sama lain."Sekolah sebagai basic dan TI sebagai pendukung. Keduanya bermuara di dunia kerja," papar Aria.Ketika diminta detikinet untuk menceritakan programnya lebih detil, Aria menolak untuk membicarakannya saat ini. Menurutnya, program itu akan diikutsertakan dalam lomba ICT yang diadakan oleh Samsung untuk tahun ini. YMN pada tahun 2004 sudah pernah memenangkan lomba bertajuk Samsung DigitAll Hope tersebut."Nanti saja kalau lombanya sudah dimulai, pasti akan saya ceritakan lagi," kata Aria sambil tersenyum.Saat ini, penderita tuna netra di Indonesia diperkirakan berjumlah 3 juta. Jumlah tersebut merepresentasikan 1,5 persen dari jumlah penduduk 200 juta manusia. "Kami seperti kupu-kupu, rapuh. Tapi kami bisa bermetamorphosis jadi sesuatu yang lebih baik," ujar Irwin. "Kami punya kemauan," imbuhnya.Kalau tuna netra saja punya kemauan besar dan mau berusaha, bagaimana dengan Anda? (rou/)




Hide Ads