Senin, 30 Jul 2018 19:19 WIB

Tak Hanya Bitcoin, Blockchain Juga Potensial untuk Pertanian

Rachmatunnisa - detikInet
Foto: HARA Foto: HARA
Jakarta - Menurut data World Bank, perekonomian Indonesia saat ini termasuk dalam urutan ke 16 dalam kategori perekonomian terbesar di dunia. Sebanyak 33% angkatan kerja bekerja di sektor pangan dan pertanian.

Selain itu, sebanyak 13,95% Produk Domestic Bruto (PDB) berasal dari sektor pangan dan pertanian yang berjumlah US$ 129.6 miliar.

Sebagai negara agraris, beragam tantangan dihadapi Indonesia, antara lain produktivitas padi dari petani Indonesia yang masih rendah (14,5% lebih rendah dibanding Vietnam), membuat biaya produksi menjadi yang termahal se-Asia menurut data dari International Rice Research Institute (IRRI).



Selain itu, dilansir dari McKinsey Research, rendahnya efisiensi rantai distribusi antar petani ke konsumen juga mengakibatkan para petani Indonesia masih harus menghadapi kerugian dalam hal penurunan kualitas pasca panen sebesar 20% setiap tahunnya.

Berbagai tantangan ini antara lain bersumber dari ketidakmerataan data dan ketidakseragaman informasi terkait dengan kapasitas, pasar dan pembiayaan bagi seluruh pemain di sektor pertanian.

Berkembangnya teknologi blockchain, bisa menjadi solusi bagi tantangan riil yang dihadapi Indonesia dalam sektor ini. Itulah dibidik HARA, proyek blockchain pertama untuk menciptakan dampak sosial positif di Indonesia.

Blockchain secara sederhana adalah struktur data yang tidak dapat diubah, hanya bisa ditambahkan. Setiap data dari blockchain saling terhubung. Jadi jika ada perubahan di salah satu block data, akan berpengaruh terhadap data berikutnya.

Tak Hanya Bitcoin, Blockchain Juga Bisa Bermanfaat untuk Pertanian Foto: HARA


Dengan menggunakan blockchain sebagai teknologi di balik pertukaran data terdesentralisasi pada sektor pangan dan pertanian, HARA berupaya mengatasi masalah ketersediaan informasi asimetris, yang menghambat bisnis dalam rantai pasokan agar lebih efisien dan efektif.

Sebagai salah satu ekonom terpandang di Indonesia, Chatib Basri yang pernah menjabat Menteri Keuangan Republik Indonesia di Kabinet Indonesia Bersatu II, melihat peran krusial teknologi blockchain dalam meningkatkan produktivitas pertanian Indonesia.

"Pengembangan blockchain dan teknologi digital tidak diragukan lagi akan membantu mendorong perekonomian Indonesia melalui penyederhanaan birokrasi, memotong biaya transaksi, dan membuat proses transaksi menjadi lebih cepat," ujar Chatib yang resmi bergabung sebagai Board of Advisor HARA.

Disebutkannya, dalam hal ini, blockchain HARA akan membantu petani di Indonesia meningkatkan produktivitas mereka, memotong biaya transaksi dan meningkatkan pendapatan mereka.

Chatib sendiri mengaku merasa terhormat menjadi bagian dari penasihat HARA. Dirinya berharap sumbangsihnya dalam Board of Advisor HARA bisa berkontribusi dalam implementasi teknologo blockchain untuk pertanian.



Dia percaya, penggunaan teknologi blockchain dapat merevolusi sektor pertanian melalui ketersediaan data dan pemerataan informasi. Karenanya, HARA mengajak seluruh pemangku kepentingan di sektor pertanian baik pemerintah, instansi keuangan, dan organisasi non-profit untuk bergabung dalam ekosistem HARA yang berkelanjutan.

Sementara itu, CEO HARA Regi Wahyu menyebutkan pihaknya merasa terhormat bisa dibimbing secara langsung oleh Chatib Basri dalam usaha menciptakan terobosan di bidang agraris.

"Melalui teknologi blockchain, akan memberikan dampak positif bagi sektor pertanian di Indonesia dan mendukung Indonesia mencapai visinya sebagai lumbung pangan dunia pada 2045," ujar Regi. (rns/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed