Jumat, 20 Jul 2018 15:01 WIB

Hoax Tewaskan Warga, India Ancam Hukum WhatsApp

Indissa Salsabila - detikInet
WhatsApp. Foto: detikINET/Irna Prihandini WhatsApp. Foto: detikINET/Irna Prihandini
Jakarta - India mengancam akan menghukum Whatsapp setelah maraknya kabar hoax yang menyebar di platform messaging itu dan menyebabkan tewasnya warga akibat terpancing kabar palsu.

Dalam kasus terbaru, 25 orang ditahan di India pada Minggu (19/7) setelah 2.000 massa menghakimi dan membunuh membunuh pria 27 tahun karena tuduhan tak berdasar sebagai penculik anak. Insiden mematikan ini merupakan kasus kesekian kalinya dalam penganiayaan berujung kematian di India yang dipicu hoax di media sosial.

Oleh karena itu, pemerintah India mengancam Whatsapp dengan tindakan hukum jika tidak bisa menemukan solusinya. Dikutip detikINET dari Business Insider, pemerintah India secara terbuka memepringatkan Whatsapp bahwa mungkin mereka akan mengambil tindakan atas kasus yang terjadi.



"Sirkulasi pesan tidak bertanggung jawab yang merajalela dalam jumlah yang besar pada WhastApp belum ditangani secara memadai oleh mereka," demikian pernyataan Kementerian Teknologi Informasi India.

Mereka juga mengatakan bahwa ketika rumor dan berita hoax disebarkan oleh pelaku kejahatan, media yang digunakan untuk melakukan propaganda ini tidak dapat menghindar dari tanggung jawab.

"Jika Whatsapp hanya menjadi penonton, mereka dapat diperlakukan sebagai kaki tangan dan menghadapi tindakan hukum yang konsekuen," tambah mereka.

WhatsApp saat ini sedang dalam pengawasan intens beberapa bulan terakhir terkait kasus berita hoax yang tersebar melalui platformnya terkait pelaku penculik anak. Menurut Guardian, setidaknya terdapat 20 kasus korban diadili massa karena tuduhan itu.



Pesan yang ada di aplikasi Whastapp dienskripsi guna keamanan para penggunanya, hal ini berarti perusahaan tidak dapat memantau pesan hoax yang beredar pada platform.

Perusahaan milik Facebook ini sedang mengambil beberapa langkah untuk mengatasi masalah yang terjadi, termasuk menandai pesan yang telah diteruskan guna memperjelas bahwa pengirim bukanlah penulis asli pesan tersebut. Juga membuat sebuah iklan di India untuk memperingatkan tentang maraknya berita hoax. (fyk/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed