Kamis, 19 Jul 2018 21:09 WIB

Ilham Habibie dan Gerakan Teknologi Lewat Pendidikan

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: Ardan Adhi Chandra-detikFinance Foto: Ardan Adhi Chandra-detikFinance
Jakarta - Berkarya Indonesia, sebuah gerakan nasional dengan moto membudayakan teknologi, berharap dapat menampung dan mendorong ide dan karya anak bangsa serta menemukan solusi berkesinambungan atas persoalan IPTEK nasional.

Untuk itu, gerakan yang digawangi oleh Ilham Habibie ini fokus pada usahanya untuk mengubah pola pikir bangsa dari pola pikir konsumen semata menjadi pola pikir produsen.

Berkarya Indonesia meyakini bahwa berubah menjadi bangsa produsen adalah kunci utama untuk mengubah nasib bangsa kedepan.

"Teknologi mampu menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan daya saing serta memberikan manfaat bagi negara dan bangsa dan dapat digunakan untuk mengubah pola pikir bangsa. Hampir 60% dari Produk Domestik Bruto Indonesia dari konsumsi, terutama konsumsi barang impor, dan hal inilah yang perlu dibenahi," jelas Ilham Habibie di Jakarta, Kamis (19/7/2018).



Hal ini sejalan dengan keinginan pemerintah untuk menggenjot pendidikan sumber daya manusia (SDM) lokal guna mendukung pengembangan Revolusi Industri 4.0 di dalam negeri. Kompetensi antar SDM lokal sangat dibutuhkan agar Indonesia tak hanya menjadi penonton dalam Revolusi Industri 4.0.

Terlebih, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Hanya saja, SDM lokal ini masih perlu didorong menggunakan pelatihan ilmu yang sesuai dengan ekonomi digital dalam Revolusi Industri 4.0.

Tapi membudayakan teknologi untuk mengubah pola pikir bangsa tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu usaha berkesinambungan dan perlu dilakukan sedini mungkin. Dan salah satu caranya adalah dengan membudayakan teknologi lewat pendidikan.

Ilham Habibie dan Gerakan Membudayakan Teknologi Lewat PendidikanFoto: Berkarya Indonesia


"Berkarya Indonesia menyakini, untuk membangun generasi muda yang kuat maka pendidikan mengenai ilmu pengetahuan, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika perlu diberikan sedini mungkin pada generasi muda Indonesia," ujar Ilham Habibie.

Itu sebabnya, membudayakan teknologi lewat pendidikan ini tidak bisa dimulai dari sekolah menengah atas, harus lebih dini lagi. Bahkan bila perlu sudah diperkenalkan dari pre-school.

Jika dilakukan secara konvensional, maka akan sulit untuk mencapai target secara nasional yakni meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Perlu dikawinkan dengan pendidikan digital atau education technology.

Misalnya, seperti Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dan online learning yang akan menjadi sebuah program strategis untuk dikembangkan. Walaupun pembelajaran secara face to face juga tetap dibutuhkan.



"Jika didukung dengan pendidikan berbasis digital atau education technology maka materi pembelajaran, khususnya terkait science, diharapkan dapat lebih mudah diserap. Karena pendidikan berbasis teknologi memungkinkan topik pembelajaran disesuaikan dengan karakter siswa," kata Ilham menambahkan.

Ilham meyakini bahwa karakter para siswa-siswi Indonesia yang beragam perlu diperhitungkan dalam menentukan metode pembelajaran yang tepat sehingga tujuan untuk membangun generasi muda yang kuat juga tercapai. Selain itu, model pembelajaran dengan menggunakan alat bantu teknologi secara tidak langsung juga akan membudayakan teknologi itu sendiri.

Untuk itu, Berkarya Indonesia menggandeng Extramarks - penyedia digital learning solution, untuk bersama-sama membudayakan teknologi lewat Pendidikan.

"Di Extramarks, kami membayangkan untuk menyebarluaskan pendidikan ke seluruh spektrum pembelajaran. Melalui solusi pembelajaran kami yang berdasarkan pedagogi Learn, Practice and Test yang dapat diterima secara global, kami membuat pembelajaran menjadi menarik, mudah, dan menyenangkan," kata Mr. Atul Kulshrestha Founder, Chairman and Managing Director of Extramarks.

Selain itu, pendekatan yang dilakukan oleh Extramarks dalam memberikan solusinya sudah menyesuaikan dengan karakter para siswa yakni V.A.K atau visual, audio, dan kinesthetic. Dalam menggunakannya pun, aplikasi ini dapat diakses secara online maupun offline pada komputer maupun smartphone.

Konten yang digunakan juga sudah disesuaikan dengan kurikulum yang digunakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Dan, tentu saja, sudah menggunakan Bahasa Indonesia.



"Harapannya, para siswa bisa melalui proses belajar dengan senang karena konten yang digunakan sesuai dengan karakternya. Jadi diharapkan penyerapan terhadap konten juga lebih cepat dan pada akhirnya bisa meningkatkan nilai pada saat ujian," ujar Fernando Uffie, Country Manager Extramarks Indonesia.

Apalagi, Extramarks dapat dimanfaatkan oleh guru, murid, sekolah maupun orang tua murid secara terintegrasi satu dengan yang lain. Dengan demikian, menggunakan education technology milik Extramarks ini semua stake holder bisa saling bekerjasama untuk membudayakan teknologi lewat pendidikan dan juga meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. (rou/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed