Jumat, 22 Jun 2018 17:02 WIB

Sisi Negatif VAR yang Bisa Merusak Piala Dunia 2018

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Salah satu peralatan VAR. Foto: REUTERS Salah satu peralatan VAR. Foto: REUTERS
Jakarta - Video assistant referee (VAR) diklaim sebagai sistem tanpa cela yang mampu membantu wasit agar terhindar dari kesalahan dalam mengambil keputusan. Selain itu, teknologi tersebut juga diharapkan dapat membantu sang pengadil yang luput terhadap sebuah kejadian di dalam sebuah pertandingan.

Nyatanya, VAR tidak sepenuhnya tanpa masalah. Implementasi teknologi tersebut ternyata masih belum sempurna karena menimbulkan gangguan dalam pertandingan, yang bisa-bisa membuat perhelatan Piala Dunia 2018 ikut kena getahnya.

Salah satunya tampak dari pertandingan di Liga Australia yang mempertemukan Melbourne Victory melawan Newcastle Jets. Saat itu, wasit gagal melakukan konsultasi dengan tim VAR mengenai kejadian gol berbau offside lantaran sistem yang terganggu.

Terkait dengan hal tersebut, Football Federation Australia (FFA) pun angkat bicara. Kesalahan pada software menjadi alasan mengapa sistem VAR menjadi terganggu sehingga tidak dapat membantu wasit dalam mengambil keputusan.

"Berdasarkan keterangan dari Hawkeye, salah satu vendor teknologi, software yang bertugas untuk mengunggah siaran pada VAR kehilangan koneksi 30 detik sebelum gol terjadi karena adanya kesalahan teknis," ujar organisasi tersebut

"Butuh waktu beberapa menit untuk software kembali bekerja sebagaimana mestinya, tapi sudah terlalu terlambat untuk membantu wasit," kata pihak FFA menambahkan, sebagaimana detikINET kutip dari Engadget, Jumat (22/6/2018).


Kejadian serupa tidak hanya berlangsung di Australia. International Football Association Board (IFAB), organisasi yang bertanggung jawab dalam yang merancang Laws of the Game, aturan dalam sepak bola, mengatakan bahwa Major League Soccer (MLS), atau liga sepak bola Amerika Serikat, juga mengalami pengalaman tidak mengenakkan dengan VAR.

Paling tidak, terdapat dua pertandingan MLS yang jalannya terhambat karena masalah pada VAR. IFAB menyebutkan, butuh waktu hingga 6 menit bagi sistem tersebut untuk bekerja kembali setelah sempat mengalami gangguan.

Selain dari sisi teknis, sebuah studi pun menyebutkan bahwa hadirnya VAR juga mampu memengaruhi jalan pikir wasit. Sebagaimana diketahui, sistem tersebut menyediakan layar yang mampu menampilkan reka ulang dengan format slow motion terkait sebuah kejadian di dalam lapangan.

Studi tersebut menunjukkan bahwa video slow motion cenderung membuat wasit berpikir bahwa sebuah pelanggaran dilakukan secara sengaja, alias ada maksud untuk membuat pelanggaran, atau bahkan mencederai lawan. Maka dari itu, sang pengadil pun memiliki kecenderungan untuk memberikan kartu merah setelah melihat reka ulang secara gerak lambat tersebut.

Meski begitu, tidak selamanya rekaman slow motion memberikan efek negatif. Studi tersebut juga menyebutkan bahwa wasit memiliki persentase lebih baik dalam mengambil keputusan (63%) saat mereka melihat tayangan gerak lambat dibanding menyaksikan reka ulang dengan kecepatan normal (61%).

Simak juga video 'Yang Harus Kamu Tahu soal Teknologi VAR di Piala Dunia 2018':

[Gambas:Video 20detik]



(mon/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed