Rabu, 30 Mei 2018 21:30 WIB

Blockchain Bisa Lahirkan Startup Unicorn Baru

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Suasana acara. Foto: Muhamad Imron Rosyadi/detikINET Suasana acara. Foto: Muhamad Imron Rosyadi/detikINET
Jakarta - Lahirnya sejumlah startup berlabel unicorn berikutnya diperkirakan menjadi salah satu hasil dalam penerapan teknologi blockchain di Tanah Air

Indonesia dianggap memiliki kesempatan yang sangat besar dalam menerapkan blockchain. Hal tersebut dikarenakan teknologi tersebut masih terhitung baru sehingga seluruh masyarakat Indonesia memiliki posisi yang setara dengan negara-negara lain di dunia untuk berinovasi melalui blockchain.

"Ini kesempatan baru bagi kita dan seharusnya kita bukan sekadar ikut tapi justru untuk me-leapforg. Kami sebagai pihak asosiasi selalu encourage para startup untuk bergabung dengan kami dan untuk melihat teknologi blockchain," ujar Steven Suhadi, Ketua Umum Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), ketika dijumpai dalam sebuah kesempatan.

"Teknologi ini masih sangat muda, bukan cuma di Indonesia tapi juga secara global. Jadi tantangannya adalah untuk mengedukasi. Apa itu artinya blockchain, apa fungsinya, sehingga begitu memahaminya kreativitas mereka bisa mulai keluar untuk menghasilkan solusi menggunakan blockchain yang dapat menyelesaikan sejumlah masalah di indonesia dan dunia," tuturnya menambahkan.

Menurut Steven, teknologi ini merupakan inovasi yang mirip dengan internet karena semuanya berhak memilikinya dan menggunakannya. Bedanya, jika internet mengentaskan masalah koneksi, blockchain menyelesaikan kendala terkait kesepakatan.

"Dulu, internet cuma bisa melakukan koneksi untuk dua orang. Pada saat itu, orang-orang tidak menganggapnya istimewa dan bukan inovasi karena fax dan surat juga bisa melakukannya. Sekarang, internet dengan konsep koneksi tersebut bisa melakukan hal besar," kata Steven.



Menurutnya, salah satu hak besar yang lahir dari koneksi kecil internet tersebut adalah konsep bisnis. Ia mengatakan lahirnya platform e-commerce dan ride sharing merupakan implementasi dari koneksi antara dua orang saja. Jika di e-commerce koneksi yang terjadi adalah pembeli dengan pelanggan, maka di ride sharing ada hubungan antara pengemudi dan penumpang.

"Banyak yang bilang bahwa blockchain itu the next internet. Bisa jadi akan ada saatnya nanti banyak aplikasi yang dibangun di atas blockchain sehingga teknologi ini hanya jadi backbone infrastructure saja. Sama halnya ketika kita pakai Facebook, Email, WhatsApp, itu sebenarnya kita menggunakan internet," ucapnya.

Ia mengatakan hal tersebut kembali didasarkan pada masalah yang dientaskan oleh blockchain, yaitu kesepakatan. Menurutnya, hal tersehut memang kelihatan kecil, namun bukan tidak mungkin bisa menghasilkan inovasi besar.

Di dunia digital, ada masalah yang namanya kepemilikan ganda, atau double ownership, atau double spend. Di internet, semua bisa mengaku suatu data itu miliknya. Kesepakatan jadi solusinya sehingga kepemilikaj di dunia digital bisa sama dengan dunia nyata,"

"Di dalam blockchain, rekaman informasi disimpan di banyak komputer untuk mencapai kesempakatan bahwa data tersebut benar adanya. Konsensus data itu yang busa menghasilkan keercayaan, transparansi, dan inovasi,"

Steven mengatakan bahwa konsep kesepakatan ini bukan tidak mungkin bisa menumbuhkan unicorn baru, tak hanya untuk indonesia tapi secara global. Menurutnya, mirip dengan Tokopedia dan Go-Jek, dua startup unicorn tanah air, yang berangkat dari konsep koneksi, perusahaan rintisan lain juga bisa menerapkan konsep kesepakatan. (fyk/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed