Sabtu, 19 Mei 2018 19:43 WIB

Bagaimana Caranya Astronot Salat di Luar Angkasa?

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: Dok. REUTERS/Shamil Zhumatov Foto: Dok. REUTERS/Shamil Zhumatov
Jakarta - Bila sebelumnya, astronot Malaysia Sheikh Muszaphar Shukor tidak diwajibkan untuk melakukan puasa di luar angkasa. Lantas, bagaimana dengan ibadah sehari-hari, yaitu salat?

Shukor menjadi orang dari sedikit orang yang bisa merasakan hidup di ruang hampa di dunia, khususnya bagi warga Malaysia pertama yang berkesempatan tinggal di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Ia meluncur dari Bumi ke ISS dengan menggunakan pesawat antariksa Soyuz di Baikonur, Kazakhstan pada 10 Oktober 2017.

Persoalan salat di luar angkasa yang dihadapi oleh Shukor, telah didiskusikan Dewan Fatwa Nasional Malaysia sehingga keluarlah pedoman yang berjudul Muslim Obligation in the International Space Station.

Pedoman yang terdiri dari 12 halaman ini berisikan bahwa astronot Muslim tidak berkewajiban menjalankan puasa saat sedang bertugas di antariksa. Selain itu, pedoman ini juga mengatur bagaiman salat di luar angkasa.

Dikutip dari Space, Sabtu (19/5/2018) pada umumnya umat muslim menegakkan salat selama lima kali dalam sehari. Tetapi, bagi astronot hanya berlaku tiga kali dalam sehari.

Hal itu tak terlepas dari kesulitan yang dihadapi oleh astronot karena ISS bisa mengelilingi Bumi sampai 16 kali dalam satu harinya.

Dalam aturan ini juga memberikan kemudahan astronot dengan tidak diharuskan melakukan sujud, mengingat sulitnya gerakan tersebut bila sudah berada di gravatasi nol. Selain itu, soal wudhu pada umumnya, melainkan dengan handul basah karena ketersedian air di ISS sangat terbatas.

Sheikh Muszaphar pun menghabiskan waktu 12 hari di ISS. Di stasiun tersebut, pria yang mendirikan perusahaan e-commerce Aladdin Street ini menjalankan berbagai percobaan di bidang kesehatan, mengingat prosesi Sheikh Muszaphar sebagai seorang dokter.

Pria kelahiran 27 Juli 1972 ini melakukan percoban mengenai karakteristik dan perkembangan sel-sel kanker hati dan leukimia, serta kristalisasi berbagai protein dan mikroba pada gravitasi rendah.

Sementara itu, pengiriman astronot Negeri Jiran ke ISS ini tak lepas dari bagian dari paket pembelian 18 jet tempur Sukhoi yang dibeli Malaysia dari Rusia pada 2003. Setelah itu, Malaysia mengadakan seleksi kepada 11 ribu calon astronot yang telah mendaftarkan diri. Kemudian terpilihlah Sheikh Muszaphar sebagai calon utama astronot dan Faiz Khaleed menjadi astronot cadangan. (asj/asj)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed