Rabu, 09 Mei 2018 22:15 WIB

Industri Digital Perlu Tenaga Kerja Asing, Kenapa?

Adi Fida Rahman - detikInet
Foto: Adi Fida Rahman/detikINET Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Nusa Dua - Polemik banyaknya tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia masih hangat diperdebatkan. Namun bagi industri digital sendiri, kehadiran TKA cukup penting dan diperlukan, kenapa?

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan memang baiknya lebih strategis lagi mendatangkan TKA. Misalnya yang didatangkan adalah sifatnya pelatih atau profesor, sehingga dapat melatih orang kita. Hal ini berlaku untuk sektor teknologi informasi.

"Dari pada kita kirim ratusan orang ke luar negeri, lebih murah kita datangkan beberapa orang ke sini untuk mengajarkan ribuan orang di sini, jadi lebih strategis," lata Thomas di acara 1st NectICorn Internasional Summit yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Rabu (9/5/2018).


Senada dengan Kepala BKPM, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan ketimbang kita mengikuti pelatihan di luar, lebih baik gurunya di datangkan ke Indonesia. Hal ini dapat membantu stabilitas keuangan, meskipun jumlahnya kecil.

"Kalau ke luar kita mengeluarkan valas. Tapi kalau kita undang ke sini, keluarganya mereka akan belanja pakai rupiah, ukm kita bisa lebih hidup lagi," kata Rudiantara.

Sementara CEO sekaligus Founder Go-Jek Nadiem Makarim kehadiran tenaga kerja asing yang high skill harus diundang sebanyak-banyaknya ke Tanah Air. Sebab tidak ada sekolah yang bisa mengajari skill tersebut secara cepat dan efektif, hanya bisa dilakukan magang langsung orang yang berpengalaman.

"Untuk bisa coding jago, harus belajar dari senior, tidak ada subtitusi. Jadi secepat dan sebanyak mungkin dihadirkan," kata Nadiem.

CEO & Co-Founder Tokopedia William Tanuwijaya juga mengatakan kalau punya pilihan industri digital maunya hanya memperkerjakan orang indonesia. Dalam persaingan global, kita harus mengakselerasi skill yang dimiliki orang-orang di Indonesia dengan luar. Jadilah dibutuhkan guru-guru dari luar.

"Bayangkan selama ini anak-anak Indonesia bercita-cita, harus kuliah di amerika, tapi saat di sana mereka tidak pulang lagi. Coba kalau kita bisa mendatangkan guru-guru tersebut dan mengajari kita," tutur William. (jsn/asj)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed