Rabu, 25 Apr 2018 00:59 WIB

Kolom Telematika

Dear YouTube (Sebuah Kegelisahan)

Penulis: Dolly Surya Wisaka - detikInet
Foto: Gettyimages - Andrew H. Walker Foto: Gettyimages - Andrew H. Walker
Jakarta - Saya dan mungkin jutaan pengguna lainnya menjadikan YouTube sebagai pilihan media untuk mencari berbagai informasi dan hiburan yang sesuai dengan selera dan keinginan kita.

Konten on-demand seperti YouTube ini memang sudah menjadi tren dan akan semakin kuat di masa mendatang yang tidak bisa dielakan lagi. Disruptif bagi tatanan ekosistem yang sudah terlebih dahulu ada.

Bentuk layanan on-demand seperti YouTube ini juga memiliki banyak tantangan dan juga peluang bagi para pelaku bisnis. Bagi para pelaku kreatif, YouTube merupakan celah baru untuk menyalurkan kreativitas dan juga menjadi tempat untuk berekspresi.

Indikasinya sangatlah mudah: ingin menjadi Youtuber menjadi keinginan banyak orang. Ingin mendapat pengakuan dan juga menjadikan ladang mencari uang. Wajar dan sangatlah lumrah. Dengan modal konsistensi untuk memproduksi konten yang kreatif dan menarik maka subscriber akan bertambah dan jumlah view semakin meningkat.



Namun apakah semua konten dari para kreator di YouTube layak ditonton? Tentu tidak. Karena di YouTube tidak ada yang melakukan monitoring dan kontrol terhadap isi konten, kecuali jika memang ada konten yang fenomenal dan tidak sesuai lalu menjadi viral, maka barulah YouTube akan mengambil sikap.

Bagaimana dengan konten-konten lain yang tidak pantas namun tidak menjadi bahan perbincangan? Tetap akan ada dan bisa dinikmati. Celakanya, dalam Term of Service YouTube sendiri disebutkan bahwa YouTube tidak diperuntukan bagi anak yang berumur kurang dari 13 tahun!

Apakah anda pernah membaca ini? Hal inipun ada pada artikel nomor 12 yang letaknya sangat bawah dan dikeluarkan pada 14 Juni 2012. Sudah hampir enam tahun yang lalu.

Lalu jika YouTube menyatakan bahwa layanannya bukan untuk orang yang berusia di bawah 13 tahun, mengapa mereka masih memelihara konten-konten bagi anak-anak? Yang notabene anak-anaklah audiencenya. Bahkan YouTube juga mendapatkan uang dari para pengiklan di konten tersebut. Sebuah ambigu.

Kita tidak perlu menampik kenyataan bahwa ratusan ribu orang tua memberikan tontonan YouTube bagi anaknya. Dan sekali kita menggunakan YouTube maka dengan segala teknologi canggihnya, YouTube akan menawarkan konten-konten lainnya untuk ditonton.

Tidak ada jaminan bahwa suatu saat akan ada konten yang tidak sesuai yang tampil di bagian rekomendasi konten. Sebetulnya tidak usah jauh-jauh ke sana, pada bagian trending di YouTube pun menjadi gerbang yang mudah disisipi konten-konten lain bagi anak-anak yang sudah terbiasa menggunakan YouTube.



Belum lagi iklan yang ditampilkan oleh pengiklan, nampaknya YouTube sama sekali tidak melakukan penyaringan terhadap iklan yang ditampilkan. Memang sudah menjadi strategi dan bagi para pengiklan agar iklannya diklik dan mendapatkan hasil yang bagus sesuai keinginan mereka dengan cara apapun. Bayangkan jika iklan seperti di bawah ini tampil saat diakses anak-anak.

Dear YouTube (Sebuah Kegelisahan)Foto: Screenshot iklan YouTube


Saya merasa bahwa YouTube memang harus sudah mulai ditata agar lebih baik lagi. Ditata tanpa mengurangi kebebasan dan kreativitas bagi para pelaku. Dimulai dari peruntukan konten, iklan yang tampil serta kelayakan dari konten yang ada.

Pada dasarnya YouTube adalah platform penyiaran, hanya berbeda media saja jika dibanding dengan institusi penyiaran yang konvensional.

YouTube juga tidak bisa hanya bersembunyi di balik kedok hanya sebagai penyedia platform semata. YouTube harus bertanggung jawab terhadap semua konten yang ada dan peruntukannya.

Jika memang tidak diperuntukkan bagi anak-anak di bawah 13 tahun, jangan menyediakan konten bagi anak-anak di bawah umur tersebut. Atau, hadirkan YouTube untuk anak secepatnya dan lakukan pembersihan konten.

Bagaimanapun, YouTube mendapatkan pemasukan/revenue dari platformnya sehingga tidak boleh lepas tanggung jawab seenaknya.


Penulis, Dolly Surya, merupakan praktisi digital yang bekerja di salah satu perusahaan smartphone terbesar di Indonesia. Dolly bisa dihubungi melalui email dolly@wisaka.or.id. (rou/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed
  • photo 10 Ponsel Unik Android

    10 Ponsel Unik Android

    Senin, 24 Sep 2018 12:45 WIB
    Di tengah momen ultah ke-10 Android sebagai sistem operasi komersial, berikut 10 ponsel unik yang tercatat menggunakan OS itu, seperti dirangkum Android Police.
  • Kisah Bapak Android Dimaki-maki Steve Jobs

    Kisah Bapak Android Dimaki-maki Steve Jobs

    Senin, 24 Sep 2018 12:41 WIB
    Kecaman Jobs pada Android dan pendirinya diulas dalam buku Fred Vogelstein berjudul 'Dogfight: How Apple And Google Went To War And Started a Revolution'.
  • Ponsel Pertama Android Cuma Punya RAM 192 MB

    Ponsel Pertama Android Cuma Punya RAM 192 MB

    Senin, 24 Sep 2018 12:00 WIB
    Ponsel pertama Android adalah HTC G1 atau sering disebut HTC Dream. Ia diperkenalkan pertama kali pada awal tahun 2008 dan dijual menjelang akhir tahun itu.
  • Selamat Ulang Tahun Android!! 20Detik

    Selamat Ulang Tahun Android!!

    Senin, 24 Sep 2018 11:47 WIB
    Sistem operasi Android memasuki usia ke-10 tahun pada 23 September. Wah, selamat ulang tahun ya sistem operasi besutan Google!
  • Android dari Masa ke Masa

    Android dari Masa ke Masa

    Senin, 24 Sep 2018 11:25 WIB
    Android kini berusia 10 tahun, sejak versi komersial pertamanya diluncurkan pada September 2008. Yuk simak perjalanan berbagai versi Android dari masa ke masa.