Rapor BSA Soal Pembajakan Software:
Indonesia Masih di Lima Besar Dunia
- detikInet
Jakarta -
Soal pembajakan piranti lunak Indonesia ternyata masih 'kokoh' di jajaran lima besar dunia. Meski demikian, rapor Indonesia boleh dibilang masih wajar. Lho kok?Peringkat itu terungkap dalam studi International Data Corporation (IDC) yang disponsori Business Software Alliance (BSA) mengenai tingkat pembajakan piranti lunak di tahun 2004. Indonesia berada di posisi kelima dengan persentase 87%. Posisi itu masih diungguli Vietnam (92%), Ukraina (91%), Cina (90%), dan Zimbabwe (90%). Demikian siaran pers BSA yang diterima detikinet, Rabu (18/05/2005).Meski demikian Indonesia boleh dikatakan masih setara dengan rata-rata negara tetangga. Penggunaan piranti lunak bajakan di Indonesia mengalami penurunan satu persen dibandingkan tahun 2003. Sebagai perbandingan, Thailand juga mengalami penurunan satu persen, sedangkan Malaysia 'unggul' dengan penurunan dua persen.Namun jika dilihat dari sisi persentase, Indonesia memang tidak boleh berbangga hati. Thailand mencatatkan hanya 79 persen komputer yang memakai software bajakan. Malaysia agak lebih baik dengan tingkat pembajakan 61 persen.Negara dengan prestasi terbaik di Asia Tenggara mungkin adalah Singapura. Penurunannya memang hanya satu persen, namun Singapura sekarang berada di jajaran empat negara paling 'bersih' di Asia Pasifik bersama-sama Jepang, Selandia Baru dan Australia. Persentase pembajakan Singapura adalah 43 persen.Kawasan dengan tingkat pembajakan software tertinggi adalah Amerika Latin (66%). Disusul oleh negara Eropa non Uni Eropa (61%), Afrika plus Timur Tengah (58%), Asia Pasifik (53%), Uni Eropa (35%) dan Amerika Utara (22%).Kerugian MeningkatDi kawasan Asia Pasifik, persentase penggunaan piranti lunak bajakan masih tetap pada tingkat 53 persen. Akan tetapi, kerugian yang terjadi akibat pembajakan justru mengalami peningkatan. Tahun 2003 pembajakan di Asia Pasifik mencetak kerugian US$ 7,5 miliar. Tahun 2004 angka itu meningkat US$ 340 juta menjadi hampir US$ 8 miliar.Hal sama terjadi secara global. Tahun 2003 kerugian akibat pembajakan diperkirakan mencapai US$ 29 triliun, sedangkan di tahun 2004 kerugiannya mencapai US$ 31 triliun. "Di seluruh dunia, satu dari tiga kopi piranti lunak yang kini digunakan diperoleh secara ilegal," ujar CEO BSA Robert Holleyman. Studi tersebut menggarisbawahi kekhawatiran pada maraknya pembajakan secara online. Menurut pernyataan BSA, pembajakan lewat warez group, spam, situs-situs lelang dan jaringan peer to peer bisa terus berkembang. Hal itu konon turut dipacu oleh semakin tingginya penggunaan internet broadband. Jaringan broadband memungkinkan transfer data berukuran besar, seperti software, dilakukan dengan lebih cepat. Menurut IDC, pada tahun 2004 jumlah pengguna broadband di Asia Pasifik mencapai 7,5 juta rumah tangga. Secara global pengguna broadband mencapai 33 juta rumah tangga.
(wsh/)