Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Marah pada Bos, Jaringan Perusahaan Disabotase

Marah pada Bos, Jaringan Perusahaan Disabotase


- detikInet

Jakarta - Kecewa dengan sikap bos, ternyata banyak dijadikan alasan untuk mensabotase komputer dan jaringan perusahaan. Hal ini terungkap dari studi, yang disponsori Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat -- Department of Homeland Security (DHS).DHS mengkaji kasus-kasus seputar sabotase komputer yang terjadi dalam enam tahun belakangan. Penelitian lebih diarahkan pada alasan yang mendasari para karyawan, tentang mengapa mereka merasa 'butuh' menyerang jaringan, mencuri data dan menimbulkan kerusakan teknologi di perusahaan mereka. Seperti dilansir NewsFactor dan dikutip detikinet, Kamis (19/5/2005), studi menunjukkan bahwa kebanyakan serangan disebabkan bukan karena alasan finansial, tapi karena dilandasi rasa ingin balas dendam terhadap atasan. Hasil studi juga mencatat, kebanyakan penyerang bekerja di divisi yang menangani teknologi -- seperti divisi TI -- dan punya alasan kuat untuk merasa sakit hati, seperti karena dipecat atau tak kunjung naik jabatan.Kasus yang Kerap TerjadiSetelah mengkaji sejumlah kasus, diketahui bahwa ada sejumlah teknik yang biasa digunakan untuk mengacaukan sumber daya teknologi suatu perusahaan. Penyerang biasanya menghapus software dan data yang dinilai penting, memajang gambar porno di situs resmi perusahaan, bahkan ada yang sampai melumpuhkan seluruh jaringan. Pelakunya sudah pasti tidak ingin tertangkap basah. Untuk itu, hampir seluruh penyerang -- yang notabene adalah karyawan -- melakukan langkah-langkah yang dinilai perlu untuk menutupi identitas mereka. Bahkkan tak jarang ada yang berlagak menjadi rekan kerja yang baik.Penelitian juga menunjukkan, aksi sabotase internal yang dilakukan karyawan, sering kali tidak dilaporkan meski mengakibatkan kerugian finansial.Laporan yang dirilis oleh Secret Service and CERT Coordination Center dari Carnegie Mellon University, menyarankan agar perusahaan lebih memperhatikan karyawan-karyawan yang sedang dikenai sanksi. Para peneliti juga menyarankan, perusahaan sebaiknya menerapkan prosedur 'hukuman' yang formal untuk meminimalisir suhu panas antara jajaran manajer dengan karyawannya.Sedia Payung Sebelum HujanMenanggapi hasil studi ini, John Challenger, CEO sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja Challenger, Gray & Christmas, menggarisbawahi pentingnya proses seleksi calon karyawan. Tidak hanya itu, perusahaan juga perlu waspada dengan sikap karyawan."Tidaklah sulit untuk tahu bahwa seorang karyawan sedang mengalami suatu masalah," katanya. "Sering tidak masuk, produktivitasnya rendah dan melakukan hal-hal negatif lainnya di tempat kerja."Perusahaan-perusahaan yang berisiko tinggi terhadap masalah ini, harus mulai memperhatikan karyawan yang bermasalah. "Ini sangat mendasar," katanya. "Karyawan yang gembira menguntungkan perusahaan, sementara karyawan yang kecewa bisa menumpahkan kekecewaannya dengan berbagai cara," paparnya. (nks/)







Hide Ads