Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Hewan Percobaan Diganti Komputer

Hewan Percobaan Diganti Komputer


- detikInet

Jakarta - Menurut kelompok In Defense of Animals, setiap tahun 18 juta hewan mati akibat penelitian medis. Untungnya belakangan ini mulai ada komputer pengganti hewan percobaan. Komputer canggih itu mampu mensimulasikan organ tubuh, sistem biologis bahkan hingga seluruh organisme itu. Salah satunya dilakukan oleh American Diabetes Association dan perusahaan obat Entelos. Bulan Mei 2005 ini mereka telah menuntaskan proyek pembuatan tikus virtual untuk menguji obat diabetes tipe 1.Tikus non obese itu hidup dalam sebuah server. Nantinya tikus itu akan memungkinkan peneliti menguji efek samping obat yang mereka kembangkan terhadap sel, jaringan, organ tubuh dan proses-proses fisiologis. Demikian dijelaskan Barry Sudbeck, manajer business development dari Entelos, kepada Wired yang dikutip detikinet, Sabtu (21/05/2005).Apa yang dilakukan tikus itu hanya bisa menggantikan beberapa tahapan uji coba pra-klinis. Namun menurut Sudbeck hal itu mampu menyelamatkan nyawa ratusan tikus. Atau dari perspektif lain menghemat biaya pengadaan tikus. Tidak Menghapus Hewan PercobaanPerkembangan terbaru ini belum tentu akan menghapuskan percobaan pada binatang. Peraturan Food and Drugs Administration (FDA) di Amerika Serikat (AS) mengharuskan uji coba obat pada binatang. Peraturan itu sudah ada sejak tahun 1930-an.Kelompok Americans for Medical Advancement, mengatakan dana riset seharusnya diarahkan pada penelitian gen, sel-cangkokan dan penelitian berbasis komputer untuk menganalisa efek obat pada manusia. Ray Greek, dokter pendiri kelompok itu, mengatakan bahwa reaksi manusia terhadap obat bisa berbeda tergantung orangnya. "Bagaimana kita bisa mengatakan uji coba obat pada spesies lain akan memiliki reaksi yang sama pada manusia?" ujarnya.Model yang dikembangkan Entelos juga bisa digunakan untuk menguji efek obat pada manusia. Meskipun untuk membuat manusia virtual sebagai objek percobaan masih belum ada data yang cukup. "Data yang ada belum cukup untuk mewakili semua bagian tubuh," tutur Sudbeck.Lain lagi pendapat Arthur Caplan, direktur Center for Bioethics di Universitas Pennsylvania AS. Caplan berpendapat uji coba terhadap hewan adalah perlu. Menurut Caplan uji coba terhadap hewan selama ini selalu dilakukan dengan berperikemanusiaan. Lagipula, tidak mungkin uji coba dalam tahap percobaan dilakukan terhadap manusia. Ia juga tidak yakin simulasi dan model komputer bisa menggantikan percobaan terhadap mahluk hidup. (wsh/)







Hide Ads