\'Indiana Jones\' di Aceh dan Nias
Wireless, Logistik dan Demam Berdarah
- detikInet
Jakarta -
Kapal rumah sakit milik Amerika Serikat (AS) USNS Mercy, bertolak dari Nias Sabtu (30/4/2005). Demikian halnya dengan Earl E. Campbell (60), sukarelawan yang menggarap koneksi internet di Aceh dan Nias. Bedanya, Earl, demikian dia biasa dipanggil, pulang untuk menjalani perawatan entensif akibat demam berdarah yang dideritanya. Dan Earl berjanji akan kembali ke Nias, dua bulan lagi.Saat berita ini diturunkan, Earl pastinya sudah tiba di kediamannya di New Mexico, AS. Earl, yang melarutkan diri dalam carut-marutnya kawasan bencana tsunami dan gempa di Aceh dan Nias, menyempatkan waktunya untuk menjawab pertanyaan detikinet, mengenai pengalamannya menjadi sukarelawan di Aceh dan Nias. Ketika bertandang ke kantor kami di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Earl tetap semangat menceritakan pengalamannya, meski kondisinya belum terlalu fit. Earl baru selesai menjalani perawatan di kapal rumah sakit USNS Mercy, selama delapan hari karena demam berdarah. Earl datang mengenakan kaos putih, celana jeans biru muda, dan topi cowboy khas Indiana Jones. Earl datang ditemani Idris Sulaeman, anggota Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII), yang juga aktif di yayasan Air Putih. Air Putih adalah yayasan yang mengkoordinasikan pembangunan infrastruktur teknologi informasi di Aceh dan Sumatera Utara, pasca bencana gempa dan tsunami. Earl bergabung dengan tim Air Putih dan menjadi sesepuh disana. Berikut cuplikan percakapan kami:Detikinet: Bagaimana ceritanya Anda sampai datang ke Aceh?Earl: Ketika itu, kami diberi tahu pak Idris, bahwa ada ajakan dari tim Air Putih untuk berbuat sesuatu bagi korban tsunami di Aceh. Waktu itu saya sedang ada di konferensi wireless internasional, di San Jose, California, Amerika Serikat. Langsung saja saya menginformasikan rencana kami untuk datang ke Aceh, dan banyak tanggapan positif dari para peserta konferensi. Saya mendapat banyak bantuan perangkat telekomunikasi wireless 2,4 GHz dan radio amatir. Ketika datang ke Jakarta, kami membawa 40 koper, penuh dengan peralatan. Saya datang bersama dua orang relawan asing lainnya yaitu Jeremy Parr (28) asal Karibia dan Peggy Townsend (50) asal Michigan. Kami tidak saling kenal sebelumnya, termasuk dengan pak Idris. Lalu kami berempat melakukan conference call, sebelum kemudian bertolak ke Aceh. Ketiga relawan asing ini sama sekali tidak bisa bahasa Indonesia.Apa yang Anda lakukan begitu tiba di Aceh?Earl: Masa-masa awal kedatangan kami di Aceh, kami sempat frustasi. Kami tau apa yang harus kami lakukan, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, karena peralatan yang kami bawa belum sampai di Aceh. Barang-barang kami sulit masuk, karena meski pemerintah mengatakan semua barang ke Aceh bebas biaya, tapi kami tetap diwajibkan membayar. Lalu pak Idris membantu dengan melakukan negosiasi dengan Menko Kesra dan Fed Ex, serta Singapore Airline, agar memudahkan pengiriman barang.Lalu kami melakukan perencanaan dan mapping lokasi, sehingga kami tidak gelagapan ketika peralatan datang. Penentuan lokasi tower harus direncanakan dengan baik, sehingga daya pancar peralatan bisa optimal.Ketika peralatan tiba di Aceh, apa langkah pertama Anda?Earl: Kami langsung memasang peralatan di tower-tower dan ada juga peralatan yang disangkutkan di pohon. Beruntung saya dibantu para mahasiswa yang juga menjadi relawan di Aceh. Mereka naik tower dan memasang perangkatnya dengan sigap. Saya cukup sering melakukan hal ini, karena perusahaan tempat saya bekerja dulu, menugaskan saya untuk memasang perangkat wireless dan radio amatir di pelosok. Jadi itu tidak terlalu menyulitkan. Perangkat radio amatir yang kami pasang sangat membantu proses komunikasi di Aceh, dan menjadi perangkat tambahan bagi internet. Meski radio amatir dilarang di Aceh, pemerintah setempat lalu mengizinkan kami memasangnya karena alasan darurat. Saya satu-satunya operator radio amatir yang diizinkan beroperasi di Aceh.Ada kesulitan saat masuk Aceh?Earl: Kami tidak menemui kesulitan berarti saat masuk Aceh. Tapi bagi sukarelawan asing seperti kami, hal yang merepotkan adalah karena setiap dua minggu atau 30 hari sekali kami harus keluar-masuk Indonesia untuk memperpanjang Visa. Tapi saya beruntung, karena Kedubes Indonesia di Kuala Lumpur memberi saya Visa khusus, sehingga saya punya izin tinggal sampai 8 Juni 2005. Hal itu tidak merepotkan saya. Saya bisa fokus bekerja. Hanya saja ketidaktegasan pemerintah Indonesia mengenai masa tinggal relawan asing, sempat mengkhawatirkan saya. Ada juga relawan dari Inggris yang ingin membantu dan membawa peralatan, tapi karena masa tinggal relawan asing dibatasi sampai 26 Maret, dia tidak jadi datang.Hal apa yang paling mengesankan Anda saat menjadi relawan di Aceh dan Nias?Earl: Pengalaman yang paling berkesan adalah di Nias, karena kami menjadi penyedia koneksi internet satu-satunya. Meski kami hanya bisa membangun satu titik internet, yaitu di Pendopo Kabupaten, tapi koneksi internet wireless dari kami mampu menjangkau sampai 3 Km. Banyak lembaga yang mengandalkannya, bahkan USNS Mercy. Mereka bilang, koneksi internet kami lebih baik dibanding sistem yang ada di kapal rumah sakit itu.Di Nias saya bekerja bersama 3 orang mahasiswa Indonesia, yang datang dari Medan, Jakarta dan Jawa Barat. Di Aceh, ada banyak pihak yang menjadi penyedia koneksi internet. Kami membangun 20 titik koneksi internet. Yang juga mengesankan, saya merasa menjadi bagian penduduk sana, penduduk sangat ramah, mereka memanggil saya cowboy. Saya merasa bebas pergi kemana saja, tanpa rasa takut.Koneksi internet ternyata sangat membantu. Masyarakat tertolong karenanya, mereka bisa memanggil dokter, kameranya memungkinkan kami menemukan orang yang terjebak di reruntuhan bangunan. Internet jadi satu-satunya link ke dunia luar, ketika tower telepon seluler dan telepon kabel banyak yang rusak.Bagaimana dengan peran pemerintah?Earl: Di Nias, pemerintah 100 persen membantu. Tapi di Aceh, pemerintah tampaknya lebih sibuk menangani urusan lain, sehingga kami dibiarkan sendiri. Tapi itu malah memberi keleluasaan bagi kami.Apa kesulitan yang Anda rasakan selama menjadi relawan di Aceh dan Nias?Earl: Kesulitan lebih dalam hal logistik. sulit mendapatkan makanan dan minuman. Di Nias lebih sulit, bantuan banyak datang, tapi tertahan di bandara dan sulit membawanya ke tempat kami. Di Aceh, tenda kami dekat dengan dapur umum yang didirikan Palang Merah Indonesia. Di Nias, dapur umum baru didirikan akhir-akhir ini.Earl tiba di Aceh tanggal 19 Januari, dan langsung ke Nias setelah bencana gempa menimpa kawasan tersebut. Pria dengan rambut, kumis dan jenggot putih ini telah menghabiskan empat bulan di Aceh dan Nias. Selama itu, dia berkomunikasi dengan istri dan keluarganya melalui internet dan web cam. Internet memungkinkan mereka tetap terhubung. Pria yang sempat menerima penghargaan dari Kapten Kapal USNS Mercy ini, akan menjalani perawatan intensif selama dua bulan di kampung halamannya. Setelah itu, dia akan kembali ke Nias, bersama istrinya. Selama di Nias, Earl merasakan gempa yang masih sering datang. Gempa yang terjadi bisa mencapai 6,5 Skala Richter, dia menyaksikan bagaimana penduduk panik. "Banyak penduduk mengira akan datang tsunami, dan mereka akan mati," katanya.Lama-kelamaan, gempa yang terjadi beruntun, malah membuat masyarakat jadi terbiasa karenanya. "Kami merasakan guncangan gempa yang berlangsung sampai tiga menit, sambil melihat seismograf (alat pengukur kekuatan gempa-red). Dan setelah gempa selesai, kami hanya berkata 'oh, sudah selesai!' Dan kami kembali menekuni kegiatan kami," tuturnya.Meski begitu, Earl merasa kagum dengan keindahan Nias. "Nias itu indah sekali," katanya. "Selama dua bulan di AS, saya akan memberi keterangan pada koleksi foto saya selama di Aceh dan Nias."Ditengah kesibukannya, Earl tetap meluangkan waktu membuat situs. Cerita dan foto-foto mengenai pengalamannya bisa diakses di http://wirelessrelief.net.
(nks/)