Data Kartu Kredit HSBC Dicuri
- detikInet
Jakarta -
Musibah pencurian data menimpa para pemilik kartu kredit HSBC, setelah menggunakannya untuk berbelanja di butik Polo Ralph Lauren Corp. Akibat insiden ini, pihak bank mengimbau ribuan nasabah untuk mengganti kartunya.Peristiwa naas ini menimpa HSBC Amerika Utara, salah satu cabang HSBC Holdings PLC yang bermarkas di London, Inggris. Pencurian yang terjadi dikhawatirkan akan menjadi jalan masuk bagi para kriminal, untuk menguras informasi rahasia yang ada di kartu MasterCard berlabel General Motor (GM), yang dikeluarkan HSBC.Seperti dikutip dari Associated Press, Jumat (15/4/2005), Stephen E. Cohen, juru bicara HSBC mengatakan, pencurian ini berdampak pada 180.000 kartu berlabel GM. Dia menambahkan, pihaknya telah melakukan segala cara yang mungkin dilakukan, untuk mengatasi masalah ini.Sementara itu, juru bicara Polo Ralph Lauren memilih bungkam dalam menanggapi masalah yang pertama kali diungkap surat kabar The Wall Street Journal. "Untuk saat ini kami tidak akan berkomentar apa-apa," katanya.Belum jelas berapa banyak kartu kredit akan terancam dari peristiwa ini. Kronologi pencurian datanya juga tidak dibeberkan. Namun begitu, Visa USA Inc. dan MasterCard -- perusahaan kartu kredit terbesar di Amerika Serikat (AS) -- akan membahas masalah ini lebih lanjut dengan Polo Ralph Lauren. Investigasi juga telah dilakukan, bersama-sama dengan pihak aparat, MasterCard dan Visa USA, bank-bank, serta toko dan merchant yang masuk dalam jaringan kedua raksasa kartu kredit tersebut.Senat AS Turun TanganBelakangan ini pencurian data marak terjadi di Amerika Serikat dan Eropa, dan menjadikannya masalah pelik di kawasan tersebut.Sebelumnya, broker informasi LexisNexis yang merupakan anak perusahaan Reed Elsevier, juga mengalami musibah serupa. Mereka kebobolan 310.000 data pribadi milik para kliennya. Peristiwa serupa juga menimpa ChoicePoint Inc., perusahaan penyedia layanan identifikasi dan verifikasi informasi yang bermarkas di Atlanta, AS. Lebih dari satu tahun, kasus pencurian data milik 750 orang yang dikelolanya, belum terungkap. Jaringan toko sepatu asal Columbus, Ohio, DSW Shoe Warehouse, juga kecolongan 100.000 data konsumen dari database-nya.Masalah ini bahkan sampai menarik perhatian Senat AS. Mereka mengumpulkan kesaksian dari para eksekutif dari LexisNexis. Rencananya, mereka akan mengeluarkan undang-undang baru untuk mengatasi terjadinya kasus serupa. Undang-undang tersebut juga mewajibkan kalangan bisnis untuk memberi informasi kepada para konsumennya, jika data rahasia mereka dicuri.Saat ini, hukum AS memang tidak mengharuskan perusahaan-perusahaan untuk menginformasikan resiko keamanan data, kepada para kliennya.Hal itu merupakan kewenangan warga, jika ingin mengajukan kritik bahwa hal ini merupakan dampak dari kurangnya perlindungan dan usaha-usaha nasional dalam mencegah kejahatan kartu kredit. Mereka juga berhak mengajukan permohonan penyusunan undang-undang khusus untuk mengatasi masalah ini.
(nks/)