Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Bellua Cyber Security 2005
Hacker Berpotensi di Kendaraan Perang
Bellua Cyber Security 2005

Hacker Berpotensi di Kendaraan Perang


- detikInet

Jakarta - Apa jadinya kalau hacker jahat 'mengendarai' kendaraan perang? Apa yang dilakukan untuk memenangkan pertempuran?Kalau satuan pasukan tempur dilengkapi hacker, apa yang bisa dilakukan serdadu yang jago menyusup ke celah-celah sistem ini? Seorang konsultan independen bidang keamanan sistem TI, bercerita soal potensi serangan yang bisa dilangsungkan hacker dalam peperangan.Roberto Preatoni, konsultan asal Italia yang juga dikenal sebagai pendiri situs Zone-H.org, berbicara di konferensi Bellua Cyber Security Asia, yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (23/3/2005), Preatoni menceritakan teknologi yang sedang dikembangkan Amerika Serikat, Future Combat Systems (FCS). Menurut dia, ada kelemahan dalam sistem yang dipakai di kendaraan perang tersebut. Salah satunya adalah teknologi ini banyak mengandalkan kendaraan perang yang tidak dikendalikan langsung, tapi dari jarak jauh. "Pastinya ada sistem jaringan yang digunakan untuk mengendalikannya," kata Preatoni. Dijelaskannya, kelemahannya pertama yang mungkin muncul adalah sistem tersebut potensial untuk di-hack. Selain itu, teknologi tersebut dikembangkan oleh sebuah konsorsium yang terdiri dari banyak perusahaan. Setiap perusahaan memiliki manajer proyek, dan setiap manajer proyek memiliki e-mail."Bagaimana kalau e-mail tersebut di-hack, bayangkan informasi apa yang bisa didapatkan dari situ," katanya.Kelemahan berikutnya adalah, setiap proyek yang dikembangkan masing-masing perusahaan pasti memiliki kelemahan. Ketika digabungkan, kelemahan tersebut akan jadi besar. Hal ini, kata Preatoni, menyebabkan kelemahan yang ada jadi besar, sehingga potensi untuk diserang akan lebih besar."Hacker akan menjadi senjata yang efektif untuk peperangan. Karena mereka relatif murah, selalu online. dan meski secara geografis mereka berjatuhan, mereka tidak merasa hal itu menjauhkan mereka. Mereka tetap merasa dekat satu dengan yang lain," papar Preatoni. (nks/)






Hide Ads