Sabtu, 24 Feb 2018 12:46 WIB

Di Wilayah Ini, Punya Gaji Miliaran Bukan Orang Kaya

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Silicon Valley. Foto: Getty Images Silicon Valley. Foto: Getty Images
California - Besarnya pendapatan penduduk di Silicon Valley ternyata tidak lantas membuat mereka bisa hidup bergelimang harta di sana. Wilayah ini adalah pusat teknologi tinggi. Google, Facebook, Intel, AMD, Nvidia dan masih banyak lagi bermarkas di sini.

Sebuah media lokal bernama Palo Alto Weekly melakukan survei untuk mengetahui bagaimana taraf hidup orang-orang yang tinggal di Silicon Valley, rumah bagi lebih dari 32.600 startup.

Penelitian yang berlangsung mulai Desember 2017 hingga Januari 2018 ini melibatkan lebih dari 250 orang responden, dengan semuanya merupakan penduduk Palo Alto, jantung Silicon Valley yang berisi tak kurang dari 2.300 startup di dalamnya.

Dari hasil survei tersebut, sepertiga dari total responden mengatakan bahwa dirinya merupakan orang-orang yang masuk ke dalam golongan ekonomi kelas menengah, padahal mereka mendapat penghasilan di antara USD 10.000 (Rp 136,7 juta) hingga USD 399.999 (Rp 5,4685 miliar) setiap tahun.

Lalu, kurang dari 10% responden mengidentifikasi diri mereka sebagai kalangan menengah ke bawah, walaupun beberapa orang di lingkup tersebut bisa meraup penghasilan sebesar USD 349.999 (Rp 4,7 miliar) per tahun.

Sedangkan sekitar 30% responden yang 'cukup percaya diri' untuk mengakui dirinya berada di kelas menengah atas adalah orang-orang dengan pendapatan sekitar USD 50.000 (Rp 683,5 juta) hingga USD 400.000 (Rp 5,4686 miliar) setiap tahunnya.

"Di hampir seluruh daerah di negara ini, kami bisa hidup mewah, namun kami harus bisa bertahan hidup bulan demi bulan di sini," ujar salah satu responden, seperti detikINET kutip dari CNET, Jumat (23/2/2018).

Pergeseran makna 'kelas menengah' di Palo Alto ini pun bukannya tanpa sebab. Berdasarkan data dari US Census, rataan pendapatan sebuah rumah tangga di Palo Alto adalah USD 137.000 (Rp 1,8 miliar), jauh dari rata-rata nasional Amerika Serikat yang hanya USD 57.000 (Rp 779 juta), dengan tiap rumah tangga berisi 2,4 orang.

Hal ini menyebabkan orang-orang yang tinggal di Palo Alto dengan penghasilan antara USD 91.362 (Rp 1,2 miliar) hingga USD 274.086 (Rp 3,7 miliar) per tahun dikategorikan masuk ke dalam golongan kelas menengah.

Angka tersebut membuat Palo Alto hanya kalah dari Los Altos, sebuah kota di California yang berada di sebelah utara Silicon Valley. Kisaran pendapatan per tahun orang-orang yang berada di level ekonomi menengah di sana adalah USD 125.104 (Rp 1,7 miliar) hingga USD 375.312 (Rp 5,1 miliar)

Sedangkan definisi kalangan menengah untuk keseluruhan warga Amerika Serikat adalah mereka yang memiliki pemasukan pada kisaran USD 38.411 (Rp 525 juta) hingga USD 115.224 (Rp 1,5 miliar).

Meski begitu, pendapatan bukan satu-satunya faktor yang menentukan kelas ekonomi seseorang di Palo Alto. Berdasarkan keterangan dari sejumlah responden, tingkat pendidikan, pengeluaran, serta gaya hidup turut menjadi faktor dalam menentukan identifikasi diri bagi warga Palo Alto.

Melihat kenyataan tersebut, tak mengherankan jika Palo Alto lekat dengan stereotip bahwa gelandangan yang hidup di daerah tersebut pun bisa memiliki laptop. (fyk/fyk)