Minggu, 28 Jan 2018 23:43 WIB

Creativepreneur Corner 2018

Chairul Tanjung: Harta Tak Dibawa Mati, Mau Sombong Sama Siapa?

Rois Jajeli - detikInet
Foto: detikINET/Adi Fida Rahman Foto: detikINET/Adi Fida Rahman
Surabaya - Chairul Tanjung dikenal sebagai pengusaha yang sukses. Meski demikian, pendiri CT Corp ini tetap menyampaikan pesan kepada calon entrepreneur, untuk tetap rendah hati meski nantinya menjadi orang sukses.

Demikian disampaikan Chairul Tanjung, pendiri CT Corp. Ia bagi-bagi tips di acara Creativepreneur Corner 2018 yang digelar di JX International, Surabaya, Minggu (28/1/2018).

Acara ini sendiri dihadiri oleh para pembicara top seperti Walikota Surabaya Tri Rismaharini, pendiri 8wood Alice Norin, penyanyi Vidi Aldiano, dan chef pemilik Namaaz Dining Andrian Ishak.

Kemudian ada penulis dan fillmmaker Raditya Dika, CEO Layaria Dennis Adishawara, pendiri Code of Indonesia Prasetyo Andy Wicaksono selaku, dan tentunya Gibran Rakabuming Raka, pendiri Markobar yang juga putra Presiden Joko Widodo.

"Jadi saya kebetulan beragama Islam. Dalam agama saya ada ajaran yang mengajarkan kepada kita, bahwa segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini sifatnya sementara dan hanya titipan. Sehingga tidak bisa dibawa saat meninggal dunia," ujar Chairul Tanjung yang akrab disapa CT.

Chairul Tanjung: Harta Tak Dibawa Mati, Mau Sombong Sama Siapa?Foto: detikINET/Adi Fida Rahman


Meski menjadi pengusaha sukses di negeri ini, CT tetap tidak mau menyombongkan diri. "Kalau mau sombong, mau sombong pada siapa," tuturnya.

Dihadapan ribuan peserta Creativepreneur Corner, CT menceritakan sejarah masa lalunya yang berasal dari keluarga orang biasa, tinggal di perkampungan kumuh di kota Jakarta.

Bahkan tempat tinggalnya di masa kecil dulu, rumahnya tidak ada WC. Setiap buang air besar, CT mengaku melakukannya di saluran air dekat rumahnya yang berdinding seng.

Dia juga menceritakan bagaimana ketika pertama kali menjadi 'entrepreneur' pada saat SMP, walau pada saat itu dia tak sadar kalau usahanya itu adalah bagian dari entrepreneurship.

Dia menyadari bisa membaca peluang dan menangkap peluang itu ketika duduk di bangku kuliah di fakultas kedokteran gigi Universitas Indonesia di Salemba, Jakarta.

Bahkan, saat di kampus, boleh dibilang CT adalah mahasiswa paling kaya, karena setiap kali pergi ke kantin, sekitar 23 orang rekannya sesama mahasiwa selalu minta ditraktir olehnya.

"Saya orang miskin, tapi saat menjadi mahasiswa, saya paling kaya. Karena pada saat itu, di kantin ada 23 orang di belakang saya, karena minta dibayarin," tuturnya.

"Melihat peluang itu kadang-kadang nggak kelihatan. Intinya, bagaimana melihat peluang itu harus melalui sebuah proses. Melihat peluang dan menangkapnya," jelasnya. (rou/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed