Jumat, 19 Jan 2018 17:05 WIB

14% Stok Bitcoin dan Ethereum Ternyata Digondol Hacker

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Lambang Bitcoin. Foto: Reuters Lambang Bitcoin. Foto: Reuters
Jakarta - Mata uang digital dan software untuk melacaknya semakin menarik perhatian bagi para hacker.

Kurang dari satu dekade terakhir, para hacker telah mencuri cryptocurrency senilai USD 1,2 miliar atau sekitar Rp 15,9 triliun, yang terdiri dari Bitcoin dan Ethereum.

Hal tersebut diungkapkan oleh Lex Sokolin, Global Director of Fintech Strategy dari Autonomous Research LLP, perusahaan yang fokus pada analisis finansial pada korporasi.

Sokolin berpendapat, pencurian cryptocurrency, atau disebutnya cryptohacking, merupakan sebuah industri baru dengan pendapatan per tahun mencapai USD 200 juta atau sekitar Rp 2,6 triliun.

"Sejauh ini, mereka sudah menggondol lebih dari 14% stok suplai Bitcoin dan Ethereum," ujarnya, seperti detikINET kutip dari Bloomberg, Jumat (19/1/2018).

Tindakan peretasan yang melibatkan cryptocurrency ini merugikan sejumlah perusahaan dan pemerintah senilai USD 11,3 miliar atau Rp 150 triliun terkait dengan hilangnya potensi pemasukan terhadap pajak penjualan mata uang digital tersebut serta transaksi yang tidak terlegitimasi.

Penjelasan tersebut diungkapkan oleh Susan Eustis, CEO WinterGreen Research, sebuah firma analisis pasar. Ia juga mengatakan bahwa ekosistem blockchain tidak luput dari kerawanan terhadap para peretas.

Fenomena ini berpotensi membesar mengingat semakin banyak perusahaan dan investor yang mengarahkan pandangannya ke pasar cryptocurrency, terlebih tanpa menakar potensi bahaya maupun melakukan proteksi terhadap sistem mereka.

Untungnya, sejumlah aksi untuk mengatasi persoalan ini pun sudah mulai bermunculan. Salah satunya datang dari McAfee, firma keamanan siber, yang mengaku sudah mengarahkan produk-produknya ke arah blockchain.

"Dalam beberapa kasus, produk-produk kami dapat membantu mengamankan ekosistem (blockchain). Hal ini memang rawan untuk mengalami ancaman layaknya sistem software lain," ujar Steve Grobman, CTO McAfee.

Pasar terhadap layanan, software, dan hardware untuk mengamankan aktivitas blockchain pun diperkirakan dapat tumbuh hingga USD 355 miliar atau Rp 4.729 triliun, berkaca pada pergerakan ekonomi digital ke cybercurrency dan restrukturisasi besar-besaran dari bank dan badan finansial.

Setidaknya itulah hasil riset dari WinterGreen Research. Angka tersebut bisa dibilang merupakan peningkatan ekstrem dibanding dengan tahun lalu yang hanya mencapai USD 259 juta atau Rp 3,4 triliun. (fyk/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed