Jumat, 01 Des 2017 07:58 WIB

Kolom Telematika

Mengenal Bioinformatika yang Masih Langka

Penulis: Arli Aditya Parikesit - detikInet
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Bioinformatika memiliki pasar yang sangat bagus untuk dikembangkan. Di pasar global nilainya USD 2,9 miliar pada 2012, dan akan segera mencapai USD 7,5 miliar pada 2017 ini. Mengapa pasar bioinformatika begitu besar?

Hal ini tidak lain karena penggunaan teknologi bioinformatika yang sangat ekstensif, seperti pada bidang kesehatan, farmasi, pertanian, lingungan, dan forensik. Walaupun demikian, Wall Street Journal melaporkan, bahwa sektor kesehatan atau medis adalah pasar terbesar untuk bisnis bioinformatika.

Data pasar bioinformatika untuk Indonesia sejauh ini belum tersedia. Namun, akan disajikan data pasar beberapa negara tetangga, untuk menjadi proxy bagi Indonesia. Di India, pasar bioinformatika bertumbuh sebesar 7%, senilai USD 55 juta.

Total, India memiliki sekitar 80 perusahaan yang bergerak di bidang bioinformatika, baik secara eksklusif ataupun inklusif, dan mereka memiliki kerja sama yang sangat baik dengan perguruan tinggi setempat.

Tidak hanya India, negeri jiran Malaysia juga sangat intensif berinvestasi di bidang bioinformatika. Biotechcorp adalah perusahaan bioinformatika dan bioteknologi, yang merupakan patungan antara pemerintah dan swasta. Biotechcorp telah membantuk investasi terhadap lebih dari 200 perusahaan, dengan total nilai investasi 2,118 miliar ringgit.

Masih Langka

Walaupun bioinformatika sudah menjadi bagian dari Agenda Riset Nasional (ARN) Kemenristek dan sudah banyak dijadikan riset unggulan di perguruan tinggi nasional, namun industri yang bergerak secara khusus di bidang ini masih sangatlah langka.

Sudah ada beberapa bio-industri yang menggunakan bioinformatika sebagai instrumen proses produksi mereka, seperti Nutrifood, Kalbe Farma, Charoen Pokphand, dan Biofarma. Namun mereka tidak secara khusus mengerjakan bioinformatika, dan mereka bukanlah korporasi yang bergerak pada bidang komputasi data.

Kita membutuhkan sebuah insentif kebijakan, yang khusus mengembangkan bioinformatika, seperti di India dan Malaysia. Sementara itu, kebutuhan untuk mengkomputasi data bioinformatika di Indonesia sangatlah besar, seperti yang akan segera kami kaji.

Berdasarkan analisis segmentasi, maka pasar bioinformatika dibagi menjadi analisis software dan jasa, konten database, dan infrastruktur IT. Targeting market tidak terbatas hanya pada industri IT saja, namun juga kepada institusi medis (rumah sakit dan pelayanan kesehatan) dan perusahaan farmasi.

Market positioning produk yang ada jelas sangat unik, karena pipeline molecular analysis yang telah ada, sudah secara khusus dibutuhkan untuk dieksekusi oleh konsultan rational molecular drug/vaccine design.

Sudah ada cukup banyak perusahaan obat/vaksin nasional dan multinasional yang berada di Indonesia, dan mereka berinvestasi dalam jumlah besar terhadap pengembangan obat dan vaksin.

Mereka membutuhkan konsultan yang bergerak secara spesifik dalam bidang bioinformatika, sebab data eksperimentasi biologi yang sangat besar jumlahnya perlu dikomputasi oleh pakar bioinformatika.

Sementara itu, industri farmasi dan medis memerlukan solusi komputasi data yang berbiaya rendah (low cost), efektif, dan efisien. Hal ini dapat dikerjakan tanpa harus overspending pada pengembangan infrastruktur, yaitu dengan sistim komputasi awan (cloud).

Sejauh ini, dengan langkanya, kalau tidak dibilang tidak ada, jasa konsultasi bioinformatika, maka persaingan di pasar ini memang tidak terlalu intensif. Namun, dengan berjalannya waktu, maka ke depannya akan semakin banyak pemain baru di pasaran, dikarenakan supply and demand yang begitu kuat di sektor ini.

Di sini, diperlukan komitmen untuk menyediakan inovasi yang berkelanjutan, dengan membukukan paten-paten yang dapat diaplikasikan.

Perlu Dukungan Negara

Secara hukum, industri bioteknologi telah lama mendapat dukungan legalitas dari negara. Keanekaragaman hayati, termasuk gen dan protein, telah mendapatkan perlindungan hukum dari negara.

Hanya saja, sesuai dengan kesepakatan internasional, hanya gen atau protein yang telah dimodifikasi yang dapat dipatenkan, sementara gen/protein wild type tidak dapat, dan harus menjadi milik komunitas ilmiah. Di sisi legalitas ini, maka konsultasi bioinformatika dapat memberikan jasa untuk membantu penemuan gen/protein modifikasi yang dapat dipatenkan.

Secara ekonomis, sistim cloud dapat membantu mencapai skala efisiensi yang kita inginkan. Berdasarkan contoh, maka komputasi skala besar sudah dapat dilakukan pada sistim cloud, dengan biaya yang murah.

Dalam perspektif cost effective analysis, maka turunnya biaya untuk sekuensing genome manusia adalah salah satu faktor yang membantu membuka pasar bioinformatika.

Awalnya, biaya sekuensing genome manusia mencapai sekitar USD 300 juta, sekarang hanya sekitar USD 1.000. Diprediksikan, bahwa segmen yang dipengaruhi oleh pasar bioinformatika akan bertumbuh sebesar 30%.

Sementara itu, Swiss Bioinformatics Institute, salah satu institut bioinformatika terbesar di dunia, telah mengurangi biaya penyimpanan data multi-petabyte dengan menggunakan solusi storage high performance. Hal ini menyebabkan penurunan biaya dalam investasi infrastruktur IT korporasi bioinformatika.

Bioinformatika juga menghadapi kontroversi hangat yang tidak jauh berbeda dengan teknologi 'saudara sepupunya', yaitu rekayasa genetika, karena persinggungannya dengan kehidupan sehari-hari. Sains tidaklah 'bebas nilai', sehingga aspek sosbud persinggungannya dengan kemanusiaan sangatlah kental.

Di beberapa negara lain, ilmu bioinformatika mulai dipertimbangkan untuk digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk polis asuransi. Hal itu disebabkan data genetika aplikan akan ditapiskan untuk menemukan kelainan genetika, dan hal ini bisa mempengaruhi kontrak pada polis.

Indonesia memerlukan sebuah industri bioinformatika mandiri, yang mendukung industri farmasi, kedokteran, dan bidang-bidang lain yang membutuhkan dukungan ilmu hayati.

Sementara itu, penanaman modal untuk industri bioinformatika masih sangatlah langka di tanah air. Padahal, industri bioinformatika sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah kesehatan, seperti pengembangan vaksin berbasis molekular.

Percepatan investasi di bidang teknologi tinggi, seperti pada bidang bioinformatika, akan sangat membantu penguatan ekonomi nasional, terutama pada sektor riil. Penanaman modal di bidang bioinformatika adalah sesuatu hal yang dapat membantu percepatan pertumbuhan industri kesehatan itu sendiri.


*) Penulis, Dr.rer.nat Arli Aditya Parikesit, adalah Ketua Program Studi S1 Bioinformatika Indonesia International Institute for Life Sciences yang dapat dihubungi pada akun twitter @arli_ap. (rou/rou)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed