Jumat, 10 Nov 2017 23:26 WIB

Google: YouTuber Indonesia dari Daerah Mulai Bergairah

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: Muhamad Imron Rosyadi/detikINET Foto: Muhamad Imron Rosyadi/detikINET
Jakarta - Perkembangan YouTube di Indonesia yang sangat pesat tak lepas dari andil para kreator konten yang tidak henti-hentinya memberikan video-video menarik bagi para penikmatnya.

"Sampai hari ini, ada 50 juta orang yang terus kembali ke YouTube setiap bulannya. Angka ini sudah sangat spesifik, dan tidak hanya di Jakarta saja, tapi sudah di seluruh Indonesia," kata Fibriyani Elastria, Head of Consumer Marketing Google Indonesia di Jakarta, Jumat (10/11/2017).

Ia menambahkan bahwa pertumbuhan yang pesat ini tidak hanya dari sisi penggunanya saja, namun juga dari sisi para YouTuber yang sudah sangat merata di berbagai daerah di Indonesia.

"Di setiap pulau di Indonesia kita sudah punya local YouTuber, seperti Bayu Skak dari Malang, lalu di Medan juga kita ada Devina. Bahkan, di Papua pun sekarang sudah ada Epen Cupen," ujarnya.

Saksikan video 20detik tentang YouTube FanFest di sini:

[Gambas:Video 20detik]

Perkembangan yang sangat signifikan dari para pelaku video blogging (vlog) yang berasal dari daerah secara tidak langsung memunculkan sebuah tren baru di kalangan para YouTuber, yaitu maraknya konten berbahasa daerah yang muncul di YouTube.

"Yang sekarang lagi trending itu adalah banyaknya YouTuber yang kontennya pakai bahasa daerah, sehingga memunculkan mereka sebagai kreator konten yang punya identitas, sekaligus membuat mereka menjadi unik. Contohnya adalah Bayu Skak dengan konten yang menggunakan Bahasa Jawa. Bahkan, ia sudah berpredikat Gold Button sekarang," ia mengatakan.

"Lalu, ada Mas Gamelawan dari Lamongan yang berhasil memadukan music cover yang sekarang sedang marak dengan iringan musik gamelan serta penggunaan Bahasa Jawa dalam liriknya. Terakhir, ada Alif Rizky yang mengadaptasi lagu Despacito menjadi sebuah lagu berjudul Dek Lastri dengan views mencapai 12 juta," ujar Fibri menambahkan.

Ia mengaku bahwa perkembangan ini tak lantas membuat YouTube Indonesia dapat berpuas diri karena masih diperlukan banyak perbaikan di berbagai sisi.

Salah satunya adalah masalah mengenai masih banyaknya masyarakat yang belum berani untuk menonton YouTube karena takut kuota yang mereka miliki akan habis.

Terkait masalah itu, YouTube Indonesia sendiri sudah menghadirkan sebuah solusi dengan meluncurkan aplikasi baru bernama YouTube Go pada Agustus lalu.

Yang membedakan YouTube Go dengan aplikasi YouTube konvensional adalah hadirnya fitur untuk mengatur kualitas video yang ingin ditonton tergantung dari kuota yang dimiliki oleh pengguna. Terdapat tiga kategori, yaitu kualitas rendah, sedang, dan tinggi, yang disertai dengan seberapa besar kuota yang akan dibutuhkan untuk masing-masing kategori.

"Kami sudah berkeliling ke 10 kota di Indonesia untuk membantu masyarakat dalam melakukan download aplikasi tersebut, lalu bagaimana cara aktivasinya. Hal ini kami lakukan karena masih banyak dari mereka yang bingung dan takut kuotanya akan habis," katanya.

"Sampai saat ini, sudah ada 700 ribu download hanya dalam 1,5 bulan sejak peluncuran versi betanya pada 18 September lalu. Kami akan terus berusaha untuk membuat YouTube bisa dinikmati oleh seluruh orang di Indonesia," pungkasnya. (rou/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed