Jumat, 10 Nov 2017 12:32 WIB

Amplifive

Unik, Pemuda Ini Bikin Startup Buat Peternak Sapi

Josina - detikInet
Foto: Dok.Karapan Foto: Dok.Karapan
Jakarta - Berbekal pengalaman dari semasa bekerja sebagai konsultan Kementerian Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam) untuk analisa kebijakan persapian di Indonesia, pemuda asal Surabaya ini tergugah membangun startup di sektor agrikultural, khususnya peternakan sapi.

Selama empat bulan bekerja di Kementerian Polhukam, dia menilai ketidakadilan pemerintah terhadap peternak-peternak sapi di Indonesia. Dikatakannya, pemerintah lebih fokus terhadap sapi impor ketimbang lokal.

"Pemerintah lebih banyak melakukan sapi impor sementara peternak rakyat cuma dikasih program pembibitan bukan dibimbing ataupun dikoneksikan," ujar Badrut Tamam Hikmawan Fauzi, pendiri startup Karapan kepada detikINET.

Berdasarkan data yang ia ketahui, ada sekitar 5 juta peternak sapi di Indonesia yang kurang pembinaan. Tamam, sapaan akrabnya, melihat potensi ini sebagai peluang bisnis di sektor persapian sekaligus menjadi salah satu cara mensejahterahkan para peternak sapi di Indonesia.

Setelah selesai bekerja di Kementerian Polhukam dan lulus kuliah tahun 2016 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, ia pun memfokuskan diri dengan startup besutannya itu.

Agar lebih terarah, dia mencoba mengikuti program Gerakan Nasional 1000 Startup Digital Surabaya yang digelar Kibar dan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Dia pun sukses menorehkan prestasi hingga bisnisnya bisa masuk top 13.

Karapan bertujuan menghubungkan secara online para peternak sapi potong dengan rakyat agar bisa menjual ke pasar yang lebih tinggi seperti restaurant, retail hingga pasar swalayan.

Masalah Peternak Sapi

Awalnya, Tamam mencoba mencari tahu apa yang dibutuhkan para peternak sapi ini sampai menginap dua bulan lamanya di peternakan sapi di kawasan Tuban. Dikatannya, yang dibutuhkan mereka adalah penjualan.

Selain survei peternakan, Tamam pun mencoba berkeliling di tempat penjualan seperti retail dan rumah makan. Hasilnya, mereka tidak mau membeli daging dari para peternak dengan alasan kurang berkualitas dan higienis.

"Saya keliling market mereka banyak yang tidak mau karena banyak alasan seperti kualitas daging jelek hingga kurang bersih. Jadi tantangan saya adalah bagaimana retail ini mau membeli daging lokal," tambahnya

Diakui Tamam, ketika ia survei di rumah potong hewan, kebanyakan pedagang tidak memikirkan higienitas, cenderung hanya ingin langsung dipotong lalu dijual, bahkan masih banyak yang motong sendiri.

Padahal seharusnya, mereka memiliki sertifikat halal atau nomor legalitas (nomor Kontrol Veteriner) rumah potong hewan yang menandakan sudah layak uji potong.

Kini, Karapan sudah bekerjasama dengan satu koperasi di Surabaya, koperasi ini memiliki ratusan peternak sapi potong. Tamam pun berhasil menggaet perusahaan. Setidaknya, ada lima perusahaan yang menggunakan jasa Karapan dan pastinya membeli daging sapi lokal. Mereka menjamin daging yang dijual halal dan berkualitas.

"Peternak mitra kami sering cerita ke orang-orang yang berkunjung ke peternakan itu. Sampai akhirya bisa terhubung ke Bank Indonesia untuk kolaborasi bagaimana menstabilkan inflasi daging di Surabaya. Dari situ mulai gaet kolaborator lain seperti rumah potong hewan modern, pusat pelatihan peternakan dan akhirnya bisa jual ke retail market yang sebelumnya mereka tidak mau beli daging lokal," ujar pemuda kelahiran 9 Januari 1994 ini.

Cara Kerja Karapan

Sistem kerja Karapan tidak rumit. Ketika ada permintaan daging sapi, Karapan akan melanjutkannya ke koperasi peternakan untuk memilih sapi yang layak potong. Selanjutnya, sapi tersebut dibawa ke Rumah Potong Hewan modern. Setelah melewati proses pemotongan dan pelayanan 24 jam, daging divakum agar udara tidak masuk. Kemudian, daging baru dikirim ke retail dan perusahaan kuliner.

Sejak diluncurkan Mei 2017, Karapan diklaim Tamam memberikan keuntungan signifikan bagi para peternak sapi yang telah bergabung dengannya. Terlebih lagi, yang membeli daging sapi kebanyakan partai besar dari restaurant hingga retail market.

"Penjualan sapinya meningkat karena Karapan jual ke target market berbeda, dalam 4 bulan (Mei-Agustus), transaksi daging up to Rp 1 miliar. Kami juga bantu jual daging qurban kemarin, terjual ratusan, total hingga Rp 3 miliar lebih," tambahnya.

Dari sini, Karapan mengambil untung sekitar 1-5% tergantung jenis dagingnya. Dengan penjualan selama empat bulan, Karapan sudah bisa mengantongi untung puluhan juta.

 Dicuekin Pemerintah, Pemuda Ini Bikin Startup Untuk Peternak SapiFoto: Dok.Karapan


Dengan bisnis startup yang dirintisnya ini, Tamam berharap jika Karapan bisa menjadi solusi bagi masyarakat, khususnya peternak sapi, dalam mewujudkan swasembada daging sapi.

Karapan juga menargetkan pada Desember ini bisa membuka pesanan daging untuk memenuhi pesanan partai kecil. Saat ini, sudah mulai banyak pesanan datang dari ibu rumah tangga atau rumah makan level kecil untuk memenuhi kebutuhan daging harian.

Peran besar dari Gerakan Nasional 1000 Startup Digital dan Amplifive sendiri diakui Tamam membuat Karapan menjadi lebih dikenal. Dampaknya, event semacam ini membuka jalan bagi Karapan untuk banyak berkolaborasi dengan pihak lainnya. (jsn/fyk)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed