Kamis, 02 Nov 2017 13:34 WIB

Laporan dari Singapura

Gara-Gara Macet, Warga Jakarta Buang Waktu 24 Hari Setahun

Agus Tri Haryanto - detikInet
Brooks Entwistle. Foto: Agus Tri Haryanto/inet Brooks Entwistle. Foto: Agus Tri Haryanto/inet
Singapura - Uber merilis hasil survei tentang kemacetan di sejumlah kota karena dampak melonjaknya kendaraan pribadi di jalanan di Asia. Bila situasi ini terus berlangsung, bisa saja melumpuhkan jalanan di kota-kota di Asia.

Dalam tiga tahun, pengendara di Asia kehilangan 13 hari dalam setahun karena terjebak kemacetan. Sementara di Jakarta sendiri, dampak kemacetan serta mencari parkir dikatakan Uber setara dengan membuang 22 hari dalam setahun.

Rata-rata kemacetan di kota-kota besar di Asia seperti Kuala Lumpur, Manila, Hanoi, Ho Chi Minh, Singapura, Bangkok, hingga Jakarta mencapai 52 menit.

Secara rinci untuk Jakarta, pengendara mobil bisa menghabiskan waktu 68 menit setiap hari gara-gara macet. Selain itu, mereka juga harus mencari parkir yang bisa menghabiskan waktu rata-rata 21 menit per harinya, bahkan 28% diantaranya menghabiskan 30 menit per hari.

Sehingga, dalam setahun, Uber mengungkapkan warga Jakarta menghabiskan waktu 584 jam atau menyia-siakan 24 hari karena persoalan macet dan mencari parkir.

Alhasil, para pengendara Jakarta ini mulai mempertimbangkan untuk menggunakan mobil pribadi atau tidak saat keluar rumah. Dampak kemacetan juga membuat 4 dari 10 pemilik kendaraan di Asia memikirkan berhenti menggunakan mobil.

Survei tersebut hasil dari penelitian terhadap 9.000 responden berusia 18-65 tahun di sembilan kota besar di Asia. Waktu survei dilakukan pada Juli sampai Agustus 2017.

Keberadaan ridesharing dinilai jadi jawaban dari permasalahan kota berupa kemacetan dan kesulitan mencari parkir. Untuk memperkuat hal itu, Uber menggandeng Boston Consulting Group yang mengkaji dampak penggunaan mobil pribadi serta potensi manfaat diadopsinya konsep berbagi tumpangan atau dikenal dengan ridesharing di kota-kota Asia, termasuk Jakarta.

Pada jam-jam sibuk di Jakarta, terdapat 50% mobil lebih banyak dari yang bisa ditampung oleh jalanan dan 50% mobil hanya mengangkut satu orang. Akibatnya, durasi perjalanan ketika jam sibuk memakan waktu 1,8 kali lebih lama dibandingkan jam-jam biasa.

Boston Consulting Group memperkirakan 60% dari kendaraan pribadi saat ini di jalanan Jakarta dapat berkurang apabila ridesharing jadi alternatif dari penggunaan mobil pribadi. Hal itu bisa mengurangi 2,5 juta mobil di jalan dan membebaskan parkir setara dengan 14.600 lapangan sepakbola.

Uber pun coba mengajak warga Jakarta untuk memanfaatkan ridesharing untuk mengatasi pertumbuhan jumlah mobil di jalanan, membantu pemerintah mengoptimalisasi waktu investasi untuk infrastruktur, dan menawarkan tambahan penghasilan yang fleksibel.

"Ridesharing menjadi bagian dari solusi dari kemacetan lalu lintas di sejumlah kota-kota besar. Ini bisa membuat lebih banyak orang untuk menggunakan mobil sendiri. Kita bisa membuka kota kita dan potensinya tapi kita harus melakukan secara bersama-sama," ujar Brooks Entwistle selaku Chief Business Officer Asia Pasific Uber (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed