Selasa, 08 Agu 2017 13:26 WIB

Kolom Telematika

Melirik Tren Sharing Bisnis Berbasis Teknologi di China

Penulis: Alvian Bastian - detikInet
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Beijing - China tengah dilanda demam sharing bisnis memanfaatkan Teknologi Informasi. Kemudahan pembayaran menggunakan aplikasi smartphone seperti WeChat dan AliPay membuat startup di Negeri Panda ini berinovasi melahirkan layanan berbasis teknologi.

Ada banyak sharing bisnis di China yang memanfaatkan teknologi. Mulai dari berbagi sepeda (bike sharing), berbagi mobil (car sharing), berbagi payung (umbrella sharing), berbagi tempat tidur (bed sharing), berbagi charger (power sharing) dan berbagi bola basket (basketball sharing). Dengan cukup memindai (scanning) QR-code, masyarakat di China dapat melakukan transaksi pembayaran.

"Jika mengendarai sepeda terasa melelahkan, menggunakan transportasi umum cukup lama, menggunakan taksi dan mobil cukup mahal, kenapa tidak menggunakan car sharing. Praktis dan hemat biaya." Semboyan ini menjadi slogan bagi car sharing di China.

Melirik Tren Sharing Bisnis Berbasis Teknologi di ChinaFoto: Istimewa


Di China, kita mengenal Didi Chuxing, perusahaan yang didirikan oleh Didi Kuadi yang telah berhasil membeli Uber China. Sama seperti car sharing di Indonesia, car sharing di China juga memerlukan aplikasi smartphone untuk memesannya.

Bike sharing menjadi cerita sukses perusahaan teknologi di China. Bike sharing merupakan konsep penggunaan sepeda secara bersama-sama. Pada awalnya, konsep bike sharing dimulai di Amsterdam pada 28 Juli 1965 dengan nama Witte Fietsen atau White Bikes.

Kemudian berkembang di beberapa negara di Eropa, Amerika, dan Asia. Inovasi yang lebih baik diluncurkan di China. Tanpa melalui docking station (stasiun penyimpan sepeda), pengguna dapat menggunakan sepeda memanfaatkan aplikasi smartphone di mana pun sepeda berada, sehingga memberi kemudahan.

Melirik Tren Sharing Bisnis Berbasis Teknologi di ChinaFoto: Istimewa


Ada berbagai perusahaan startup yang mengoperasikan bike sharing di China. Tetapi yang cukup menonjol yaitu Ofo dengan investor Didi Chuxing dan Xiaomi serta Mobike dengan investor dari Tencent dan FoxConn.

Untuk penggunaannya, cukup dengan melakukan scan QR-code ke sepeda sehingga dapat membuka pengunci sepeda. Transaksi pembayaran melalui transaksi elektronik dengan memanfaatkan aplikasi smartphone.

Selain menggunakan QR-code, Ofo juga dapat dibuka dengan mengirimkan kode sepeda ke server untuk mendapatkan kode pembuka kunci. Untuk pembiayaan, kita memerlukan 1 RMB (sekitar Rp 2.000) per jam atau setengah jam pemakaian dengan deposit 299 RMB untuk Mobike dan 99 RMB untuk Ofo.

Untuk pemanfaatan teknologi, Ofo lebih sederhana dibandingkan dengan Mobike. Hal ini dapat dimaklumi dengan segmen pengguna yang berbeda. Ofo menyasar kalangan pelajar dan Mobike menyasar kalangan menengah ke atas.

Sepeda Mobike telah dilengkapi chainless transmission terbaru sehingga menggunakannya lebih nyaman. Setiap sepeda Mobike memiliki intelligent lock (pengunci) berbasis sistem Internet of Things (IoT), berbeda dengan sepeda Ofo yang menggunakan mechanical lock.

Bike sharing tanpa docking station di China memang memiliki beberapa keunggulan dengan kemudahan akses penggunaan, selain keunggulan seperti meminimalisir penggunaan kendaraan bermotor, mengurangi pemakaian bahan bakar, murah, nyaman, peningkatan kesehatan dengan bersepeda, dan kesadaran terhadap lingkungan.

Bukan Tanpa Masalah

Pertumbuhan bike sharing di China bukanlah tanpa masalah. Berbagai masalah yang ada di antaranya:

1. Parkir sepeda sembarangan di pedestarian sehingga menghalangi pejalan kaki
2. Tidak adanya jaminan keselamatan dan tidak tersedianya peralatan keselamatan bersepeda seperti helm, dan sebagainya
3. Kekurangan komponen sepeda karena produksi massal yang berlebihan
4. Tidak ada pembatasan umur pengguna sehingga banyak anak-anak di bawah umur yang menggunakannya
5. Ketidakjelasan penggunaan dana deposit di awal pendaftaran.

Berbagai masalah tersebut mendorong pemerintah China untuk mengeluarkan regulasi penggunaan bike sharing.

Setelah kesuksesan bike sharing, maka terbitlah bed sharing (berbagi tempat tidur). Xiangshui Space sebuah perusahaan teknologi dari Beijing mengembangkan bed sharing untuk membantu para pekerja yang memerlukan sedikit tidur setelah beraktivitas.

Melirik Tren Sharing Bisnis Berbasis Teknologi di ChinaFoto: Istimewa


Bed sharing mirip dengan kapsul hotel di Jepang dengan kemudahan akses penggunaan. Di dalam tempat tidur, telah tersedia lampu, kipas angin, colokan listrik, perlengkapan tidur sekali pakai, selimut, bahkan penutup telinga. Setiap orang hanya perlu melakukan scan QR-Code untuk menggunakannya.

Biaya penggunaannya yaitu 10 RMB setiap setengah jam untuk pemakaian di jam sibuk (jam 11.00-14.00), 6 RMB untuk pemakaian di waktu lainnya, serta biaya maksimal 58 RMB dalam sehari. Akan tetapi, bed sharing tidak mendapatkan rekomendasi dari pemerintah Shanghai karena tidak memenuhi standardisasi pengamanan kebakaran. Selain itu juga diragukan higienitasnya oleh beberapa orang, karena pemakaian yang bergantian.

Melirik Tren Sharing Bisnis Berbasis Teknologi di ChinaFoto: Istimewa


Sharing E Umbrella (startup berbagi payung) diluncurkan pada April 2017 dengan nilai investasi 10 juta yuan. Pengguna akan menerima sebuah kode setelah melakukan pembayaran menggunakan aplikasi smartphone. Deposit pada awal pengguaan sebesar 19 Yuan dengan biaya penggunaan 0.5 Yuan selama 30 menit pemakaian.

Akan tetapi karena ketiadaan informasi bagi pelanggan bagaimana cara mengembalikannya, menyebabkan E Umbrella kehilangan 300.000 payung di 11 kota. Walaupun kehilangan banyak payung tidak membuat E Umbrella menyurutkan niatnya meluncurkan jutaan payung lagi di seluruh China pada akhir tahun. Perusahaan lain selain E Umbrella yang mengoperasikan berbagi payung yaitu Molisan.

Melirik Tren Sharing Bisnis Berbasis Teknologi di ChinaFoto: Istimewa


Basketball sharing memungkinkan kita untuk tidak membawa bola basket lagi ke lapangan. Dengan melakukan scan QR-code pada vending machine, kita dapat menggunakan bola basket dari Zhulegeqiu ini. Untuk dapat menggunakan kita perlu menyetorkan deposit sebesar 29 RMB dengan biaya 1.5 RMB untuk penyewaan selama sejam.

Melirik Tren Sharing Bisnis Berbasis Teknologi di ChinaFoto: Istimewa


Setiap bola basket juga telah dilengkapi GPS Tracker sehingga memudahkan pemantauan dan mencegah kehilangan. Untuk power sharing (berbagi charger) ada tiga perusahaan di China yang membuat stasiun pengisian yaitu Laidian, Xiodian, dan Jiedian. Cukup dengan membayar 1 RMB dengan cara memindai QR-Code untuk pemakaian selama sejam.


Penulis, Alvian Bastian, merupakan Master Student at Information and Communication Engineering di Beijing Institute of Technology. (rou/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed