Bukan bully biasa saja melainkan cukup parah. Hal itu pernah diakui sendiri olehnya, tertuang dalam buku Elon Musk: Tesla, SpaceX and the Quest for a Fantastic Future.
Elon yang lahir di Pretoria, Afrika Selatan pada 46 tahun lalu, memang bukan bocah biasa. Ia gila membaca buku, suka hal-hal berbau fiksi sains dan komputer. Senang menyendiri, Elon juga agak canggung bergaul. Maka ia jadi incaran pelaku bully di sekolahnya.
Elon Musk kecil. Foto: istimewa |
Elon jadi bulan-bulanan di sekolahnya, kadang dihajar sampai pingsan. Terluka karena dijatuhkan dari tangga ke lantai bahkan sampai harus masuk rumah sakit pun pernah dialaminya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu yang membuat masa pertumbuhanku sukar. Beberapa tahun tidak ada jeda. Kamu dikejar-kejar geng di sekolah yang mencoba memukulku dan aku pulang ke rumah dan di sana kondisinya juga buruk," katanya lagi.
Di rumah, Elon memang mendapat didikan keras dari orang tuanya. Dan di usia 9 tahun, bapak ibunya berpisah alias cerai. Pengalaman yang buruk itu, baik di sekolah maupun di rumah, membuat Elon akhirnya meninggalkan Afrika Selatan.
Tepatnya pada umur 18 tahun dia pindah ke rumah pamannya di Montreal, Kanada dan mendapat kewarganegaraan di sana. Mengejar ambisi-ambisi besarnya, ia pindah ke Amerika Serikat dan menjadi warga negara adidaya itu sejak tahun 2002.
Kini, korban bully itu jadi salah satu nama terkenal di jagat teknologi. Sampai-sampai ia dijuluki Iron Man karena gemar mengembangkan teknologi canggih, bahkan meyakini bisa merintis jalan sehingga manusia bisa menghuni planet Mars.
Forbes menaksir harta kekayaan Elon saat ini sekitar USD 17,4 miliar atau di kisaran Rp 231 triliun. Kekasihnya pun aktris Hollywood yang super cantik, Amber Heard. Nantikan di artikel-artikel selanjutnya sisi menarik sang Iron Man di dunia nyata ini. (fyk/fyk)
Elon Musk kecil. Foto: istimewa