Selasa, 04 Jul 2017 09:25 WIB

Dulu Terjebak Utang Ratusan Juta Kini Hartanya Rp 44 Triliun

Fino Yurio Kristo - detikInet
Airbnb. Foto: Istimewa Airbnb. Foto: Istimewa
Jakarta - Terjebak utang ratusan juta demi berbisnis akhirnya berbuah manis bagi pria ini, Brian Chesky. Dia adalah pendiri startup Airbnb dan sekarang sudah berlimpah harta berkat perjuangan kerasnya.

Airbnb kini salah satu startup paling diperhitungkan yang bergerak di bidang sewa penginapan online. Beroperasi di 65 ribu kota di 191 negara dengan 3 juta tempat penginapan, valuasi Airbnb diperkirakan sudah tembus USD 30 miliar.

Tentu butuh perjuangan untuk membuat Airbnb sebesar sekarang dan membuat sosok pendirinya jadi triliuner. Mereka adalah Brian yang juga CEO bersama kedua temannya, Joe Gebbia dan Nathan Blecharczyk. Bagaimana kisahnya?

Dikutip detikINET dari CNBC, pada tahun 2007 Brian dan Joe tinggal di sebuah apartemen di San Francisco. Waktu itu ada konferensi dan semua hotel penuh, sehingga mereka berinisiatif menyewakan kasur yang ternyata diminati.

Berawal dari peristiwa itulah, mereka menggagas situs Airbedandbreakfast.com. Tapi website itu kurang laku. Bahkan setahun kemudian pada 2008, hanya ada sekitar 10 booking per hari.

Padahal Brian sudah habis-habisan membangun situs itu hingga terbenam utang USD 25 ribu atau di kisaran Rp 334 juta. Tagihan kartu kreditnya pun membengkak. Maka mau tak mau, dia pun putar otak untuk menambah penghasilan.
Para pendiri Airbnb, Brian Chesky paling kanan. Foto: Inc

Kala itu, sedang seru pertarungan capres Barack Obama dan John McCain. Brian berinisiatif membuat sarapan sereal dengan kemasan khusus bertema pemilu yang ternyata laku, sekaligus mempromosikan situsnya yang memang berakhiran breakfast

"Kami membuat ribuan boks sereal yang bisa dikoleksi. Aku harus mengelem sekitar seribu kemasan sereal," sebut Brian.

Kesuksesan itu membuat Airbnb dilirik investor Silicon Valley dari Y Combinator, Paul Graham. Dia pun mengusulkan Brian serius mengembangkan Airbnb dan mencaritahu apa yang diinginkan mereka yang mau menyewakan tempat tinggalnya melalui website tersebut.

Brian dan kawan-kawannya itu lantas melakukan survei dalam rangka mengetahui keinginan klien, kadang dengan menyamar. Singkat cerita, nama Airbnb makin dikenal dan diluncurkan secara global pada tahun 2010.

Di tahun 2011, startup itu mendapatkan pendanaan USD 1 miliar. Namun belum ada kantor tetap dan kadang para tuan rumah mengeluh karena beberapa tamu bertingkah dan melakukan pengrusakan di properti mereka.

Untuk mewadahi keluhan itu, Brian pun membuat layanan konsumen 24 jam penuh. Ia pun ingin perusahaannya dikelola profesional. "Tidak ada manajemen, tidak ada rapat dan tidak ada komunikasi. Aku tidak tahu bagaimana menjalankan perusahaan," kisah Brian.

Startup itu makin besar dan manajemennya kian bagus. Mereka mendapatkan lagi pendanaan USD 4,4 miliar dari investor terkemukan seperti Sequoia Capital, Greylock Partners, Andreessen Horowitz dan Founders Fund.

Praktis dan harganya lebih murah, Airbnb pun cukup mengancam bisnis hotel. Tapi Brian belum berencana melantai di bursa saham atau IPO.

"Kami belum berencana IPO. Kami belum memerlukannya. Kami masih memiliki beberapa miliar dolar di bank," pungkas Brian.

Dari Airbnb, Brian yang sempat terjebak banyak utang kini kaya raya. Forbes mengestimasi harta terakhirnya di kisaran USD 3,3 miliar atau sekitar Rp 44 triliun. (fyk/fyk)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed