Jumat, 16 Jun 2017 18:51 WIB

mIRC Jadi Comblang Putri Keraton Yogya dan Pangerannya

Rachmatunnisa - detikInet
GKR Hayu (Foto: Muhammad Ridho) GKR Hayu (Foto: Muhammad Ridho)
Jakarta - Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu akrab dengan internet sejak remaja dan dikenal sebagai pecinta teknologi. Tak heran kalau kisah asmaranya pun 'berbau' IT.

Bermula dari dunia maya, pertemuan Hayu dan suaminya Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro bisa dibilang cukup unik. Mereka dipertemukan melalui layanan chatroom legendaris mIRC.

Pada masanya, mIRC yang hadir pada 1995 ini jadi layanan chat populer para netter. Bagi yang beruntung bisa dapat pacar, tapi yang zonk juga banyak. Nah, Hayu dan Noto termasuk yang beruntung.

Mereka dipertemukan lewat sebuah grup chat SMA mereka sekitar tahun 2000. Saat itu, Hayu baru saja pindah sekolah ke Singapura setelah sebelumnya sempat mengenyam pendidikan selama setahun di SMA 3 Yogyakarta (Padmanaba).

Pada awal kepindahannya di Singapura, Hayu berkomunikasi dengan teman-temannya di SMA 3 Yogyakarta melalui grup chatting mIRC. Di sinilah perkenalan Hayu dengan Noto yang sama-sama alumni SMA 3 Padmanaba dimulai.

"Waktu itu Padmanaba punya semacam grup chatting di MIRC. Nah, mas Noto itu salah satu moderatornya. Dari situ kenal, terus berlanjut jadi sering ngobrol," kenang putri keempat Sri Sultan Hamengkubuwono X dan GKR Hemas ini.

Sama-sama punya rasa, dari chatting yang awalnya hanya di grup, kemudian berlanjut menjadi chat pribadi. Selanjutnya, hubungan Hayu dan Noto semakin dekat. Usut punya usut, ibunda Hayu dan ibunda Noto adalah teman dekat sejak SD sampai dengan SMA.

Hal ini semakin mendekatkan mereka. Apalagi, ketika Hayu berangkat ke Amerika Serikat untuk melanjutkan kuliahnya, GKR Hemas menitipkan putrinya tersebut agar dibantu oleh Noto yang waktu itu juga sedang melanjutkan sekolah S2 di sana.

Melihat Hayu yang dilepas untuk berkuliah sendiri ke New York membuat Noto mengaguminya sebagai sosok yang tak hanya pintar, tetapi juga berani dan mandiri. Musim panas tahun 2003 di AS adalah awal dimulainya kisah cinta mereka. Noto mengungkapkan perasaannya kepada Hayu.

"Mas Noto ini bisa memenuhi kriteria laki-laki idamanku. Orangnya pintar, ramah, pinter nyanyi dan memainkan instrumen alat musik," kata Hayu saat ditanya tentang apa yang disukanya dari Noto.

"Mas Noto juga orang yang ceria dan gampang dekat sama orang, jadi tidak begitu susah untuk dekat sama keluarga," sambung wanita yang juga hobi main game ini.

mIRC Jadi Comblang Putri Keraton Yogya dan Pangerannya(Foto: Kratonwedding.com)


LDR

Berbeda dengan pasangan pada umumnya, Hayu dan Noto selama 10 tahun pacaran sering menjalani hubungan jarak jauh. Namun bagi Hayu yang menekuni dunia IT, menjalani long distance relationship (LDR) atau hubungan jarak jauh tak menjadi kendala.

"Lagipula aku juga bukan tipe yang kemana-mana harus berdua sama pacar," ujar Hayu.

Keduanya memanfaatkan berbagai fasilitas komunikasi meski harus berhubungan jarak jauh, termasuk chatting lewat internet. Biasanya dalam seminggu ada satu waktu yang diluangkan untuk saling bercerita.

"Kami berdua bukan tipe orang yang romantis. Tetapi aku paling suka ketika mas Noto mengirimiku voice note saat dia bernyanyi menggunakan gitar, menurutku itu romantis banget," cerita Hayu.

Perjalanan percintaan selama 10 tahun ini diakui Noto tidak mudah untuk dilalui. Selain jarak, kesibukan masing-masing terkadang juga menimbulkan masalah. Hayu mengaku sempat putus-nyambung dengan Noto.

"Namun yang namanya cinta tidak kemana. Akhirnya toh kami juga kembali lagi," tutur Hayu disusul dengan tawa.

website kratonwedding.comwebsite kratonwedding.com


Pernikahan Bernuansa IT

Hayu dan Noto akhirnya menikah pada 2013. Lagi-lagi, pernikahannya pun tak jauh-jauh dari teknologi. Passion Hayu terhadap IT sudah terlihat dari pola unik dalam undangan yang cukup berbeda dengan undangan resepsi pernikahan Kraton sebelumnya.

Undangan itu berbentuk box berisi lembaran undangan dalam tiga bahasa meliputi bahasa Jawa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang jika dibuka akan muncul sketsa sepasang pengantin Jawa dengan latar belakang bangsal pelaminan adat Jawa.

Seperti pada undangan pernikahan kraton sebelumnya, di dalam box terdapat swipe card, pin, kartu konsumsi driver, kartu parkir dan yang berbeda adlaah online RSVP Card. Online RSVP card berisi delapan digit nomor kode RSVP yang dapat di-entry di website khusus yang tercantum sehingga calon tamu bisa memasukkan kode itu untuk konfirmasi kedatangan. Sistem itu dibuat dengan harapan dapat memudahkan tamu melakukan konfirmasi kehadiran.

Swipe card merupakan kartu untuk menggantikan buku tamu dengan penggunaan yang digesekkan pada alat khusus penerimaan tamu ketika datang, setelah itu alat yang sama akan mengeluarkan selembar kertas dari sisi lainnya untuk digunakan mengambil souvenir. Selain praktis, sistem itu lebih efektif untuk menjaga keakuratan dan kebenaran database kehadiran tamu.

mIRC Jadi Comblang Putri Keraton Yogya dan Pangerannya(Foto: Kratonwedding.com)


Begitu juga dengan souvenirnya, Hayu ingin menggambarkan berbagai latar belakang dirinya yakni sebagai praktisi di bidang IT dan pelestari budaya Jawa dalam satu wujud benda yang dapat di-display.

Prosesi adat pernikahan mereka pun diabadikan di website kratonwedding.com yang belakangan mendorongnya mendigitalkan berbagai kegiatan budaya di dalam Keraton melalui divisi Tepas Tandha Yekti yang dipimpinnya saat ini.


(rns/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed