Hal tersebut tertuang dalam studi yang dilakukan Microsoft. Bertajuk Asia Workspace 2020, studi tersebut melibatkan 4.200 karyawan profesional dari 14 negara di Asia. Dari Indonesia sendiri ada 312 responden yang mengikuti studi tersebut.
"Kenapa kami memilih Asia, karena penetrasi mobile tertinggi di dunia sehingga menjadikan kawasan ini paling terhubung," kata Davina Yeo, Chief Operating Officer Microsoft Indonesia, saat peluncuran aplikasi Teams di Jakarta, Selasa (11/4/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebanyak 58% dari responden merasa dipersiapkan oleh budaya organisasi dan manajer mereka untuk dapat bekerja sama secara produktif dan kolaboratif.
Sementara hanya 38% responden setuju bahwa kepemimpinan organisasi mereka berkomitmen untuk memastikan setiap karyawan termasuk dalam rencana untuk meningkatkan kemampuan digital di lingkungan kerja.
Foto: Adi Fida Rahman/detikINET |
Microsoft mencatat 63 dari 100 responden di Indonesia siap untuk memasuki "New World of Work", dimana organisasi telah memiliki sumber daya manusia, tempat dan prinsip-prinsip teknologi yang tepat di tempat kerja untuk menciptakan tenaga kerja yang produktif, kolaboratif dan inovatif.
Sebanyak 62% responden menghargai integrasi pekerjaan dan gaya hidupdi mana batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi telah menjadi kabur. Namun di sisi lain telah memungkinkan para profesional yang mobile untuk dapat berkolaborasi dan bekerja secara virtual.
Tidak dipungkiri pergeseran tempat kerja telah menimbulkan cara-cara baru untuk bekerja, di mana teknologi telah memungkinkan peningkatan kerjasama antara individu dan tim di tempat yang berbeda. Namun Microsoft mendapati ada sejumlah kesenjangan yang dapat menghambat kolaborasi dan hasil produktif dari tim, yakni:
- Terlalu banyak mengambil waktu untuk melatih anggota baru di dalam tim
- Terlalu banyak pertemuan tatap muka yang mengganggu produktivitas
- Anggota tim tidak akomodatif dengan jadwal flexy-work
- Tim terlalu kaku dan tidak bisa membuka diri dengan cara bekerja yang baru
- Tim membutuhkan banyak waktu untuk merespon isu-isu internal
Namun, responden merasa bahwa akses teknologi untuk kolaborasi (56%), serta manajemen terbuka (41%), dan kepemimpinan dengan visi yang kuat (41%) dapat membantu membangun tim yang lebih kolaboratif.
Studi ini turut menemukan bahwa responden mencari perangkat yang lebih baik untuk membantu mereka menjadi lebih produktif di tempat kerja.
Di luar kebutuhan hardware, 37% responden berharap untuk memiliki akses ke informasi dan data pada perangkat mobile mereka serta 32% responden berharap dapat memiliki akses ke perangkat produktivitas berbasis awan (cloud).
Ketika ditanya tentang teknologi terkini yang akan membantu membangun lingkungan kerja yang lebih baik pada tahun 2020, responden berpikir bahwa artificial intelligence akan membantu dalam menyelesaikan tugas secara mandiri.
Mereka pun berharap real-time intelligence akan membantu mereka membuat keputusan di tempat kerja. Selain itu responden ingin perusahaan memiliki jaringan sosial dengan kemampuan video dan suara untuk meningkatkan kolaborasi
"Perubahan sifat pada pekerjaan, bagaimana karyawan berkolaborasi dan bekerja sama akan berpengaruh ke depannya. Hal tersebut menjadi penting bagi pemimpin bisnis dan pemimpin SDM untuk mencari cara untuk memberdayakan individu dengan lebih baik lagi dan menghilangkan hambatan untuk berkolaborasi pada era digital," kata Davina.
"Namun, juga penting bagi organisasi untuk menjembatani kesenjangan antara kepemimpinan dan karyawan dengan lebih berfokus pada orang-orang dan budaya," pungkasnya. (afr/rou)
Foto: Adi Fida Rahman/detikINET