Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Dibuka Lowongan Kerja: Cuma Tiduran Gajinya Rp 227 Juta

Dibuka Lowongan Kerja: Cuma Tiduran Gajinya Rp 227 Juta


Rachmatunnisa - detikInet

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Kalau Anda pernah berkhayal bisa digaji besar hanya dengan santai-santai, tawaran yang satu ini mungkin bakal menarik minat Anda.

Para ilmuwan dari Institute for Space Medicine and Physiology (Medes) di Prancis, sedang mencari orang untuk melakukan eksperimen dengan menghabiskan waktu di tempat tidur selama 60 hari, tanpa sekalipun menjejakkan kaki di lantai.

Yang mereka cari adalah pria, berbadan sehat, berusia di rentang 20-45 tahun, tidak merokok, rajin berolahraga dan tidak memiliki alergi. Sebanyak 24 kandidat yang lolos seleksi, nantinya akan dibayar masing-masing 16.000 euro atau sekitar Rp 227 juta untuk pekerjaannya tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para kandidat ini nantinya akan membantu riset mempelajari efek kondisi tak berbobot di ruang hampa udara pada tubuh manusia. Mereka akan ditempatkan pada posisi sedikit miring, kurang dari 6 derajat, dengan kepala sedikit di bawah kaki mereka. Dalam kondisi demikian, mereka harus makan, mencuci, dan pergi ke toilet.

Dibuka Lowongan Kerja: Cuma Tiduran Gajinya Rp 227 Juta Ilustrasi: Sandra Bullock dalam film bertema luar angkasa, Gravity (Foto: Warner Bros)


"Aturannya, mereka harus menjaga setidaknya satu bahu 'kontak' dengan tempat tidur atau kerangkanya," kata Dr Arnaud Beck yang mengatur eksperimen ini, seperti dikutip dari Mirror, Kamis (6/4/2017).

Namun para ilmuwan mengingatkan efek samping bagi partisipan yang berminat mengikuti eksperimen. Tubuh mereka akan mengalami perubahan serius selama eksperimen berlangsung.

Sistem kardiovaskular partisipan akan melemah, massa otot, massa tulang dan daya imun akan berkurang. Mereka juga kemungkinan akan menjadi bungkuk dan siklus metabolisme dan tidur juga akan terkena dampaknya.

Sebagian partisipan akan diberi asupan koktail berisi antioksidan dan suplemen anti-inflamasi beberapa kali sehari, sementara kelompok lainnya tidak.

Jika sudah lewat 60 hari, mereka akan menghabiskan 2 minggu masa 'pemulihan', dan melakukan sejumlah tes lebih lanjut, untuk mengetahui apakah suplemen tersebut membantu mengurangi efek kondisi tak berbobot yang tak diinginkan.

Eksperimen ini sudah dilakukan sebelumnya, dan kini para ilmuwan sedang merekrut orang yang berminat mengikuti eksperimen fase kedua, yang akan berlangsung September hingga Desember 2017. Tertarik ikutan?

(rns/fyk)







Hide Ads