Kamis, 23 Mar 2017 13:19 WIB

Mengenal Nyonya Bill Gates, Kaya Raya Tapi Sederhana

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Bagi kaum wanita, apa yang akan Anda lakukan jika punya suami dengan harta USD 86 miliar atau sekitar Rp 1.103 triliun? Pergi liburan keliling dunia? Shopping barang-barang mewah? Atau iseng beli pulau untuk bersantai di akhir pekan?

Mungkin segala kemewahan yang bersifat duniawi sudah bosan dirasakan oleh Melinda Gates, istri orang terkaya sejagat dari pria bernama Bill Gates, sang pendiri Microsoft.

Alih-alih pergi bermewah-mewahan dengan kapal pesiar, ia lebih memilih untuk blusukan ke Yogyakarta untuk mempelajari teknologi pemberantasan wabah demam berdarah yang ditemukan oleh periset dari kampus UGM.

Mengenal Nyonya Bill Gates, Kaya Raya Tapi Hidup SederhanaFoto: Facebook

Jangan heran kalau Melinda tiba-tiba Anda temui sedang duduk di lantai untuk mendengarkan keluh kesah warga. Kegiatan seperti ini sudah sering dilakukan Melinda bersama sang suami sejak dua dekade terakhir ketika mereka memutuskan untuk berbagi kekayaan mereka lewat yayasan Bill & Melinda Gates Foundation.

Hidup Sederhana

Bagaimana rasanya menjadi istri orang terkaya sejagat? Tanyakan pada Melinda Gates yang puluhan tahun mengarungi biduk rumah tangga dengan sang pendiri Microsoft, Bill Gates.

Melinda menikah dengan Bill pada tahun 1994 dan telah dikaruniai tiga orang anak. Meski kaya luar biasa, mereka mengaku hidup biasa-biasa saja. Memang dari dulu, keluarga ini terkenal tidak suka neko-neko dalam hal penampilan dan nyaris tidak pernah bikin kehebohan atau skandal.

Bagi yang ingin mengenal lebih jauh sosok Melinda, berikut sedikit petikan wawancara dengan Melinda Gates soal kehidupannya dan pernikahannya, yang dihimpun dari berbagai sumber.

Apa kado ultah dari Bill?

Kalau ada tanggal istimewa, Bill akan selalu membeli kado sendiri untukku. Kadonya adalah sesuatu yang personal,sweater cantik atau sepasang piyama. Kalau dia belanja itu kelihatan sekali karena itu bukan kebiasaannya, jadi tak ada di pikirannya untuk menyembunyikan tas belanjaannya. Anak anak kami selalu tertawa dan berkata, hey lihat, ayah habis belanja.

Apa kegiatan favorit Anda?

Favoritku adalah santai di rumah, memakai celana yoga, membuat semangkuk popcorn dan melihat film bersama anak anak. Tapi karena anak anak tambah dewasa, makin sulit untuk sepakat soal film apa yang akan ditonton. Bill suka film tembak tembakan jadi dia suka melihatnya dengan putra kami. Sedangkan aku dan putriku suka komedi romantis. Kami kadang juga bepergian kalau weekend dengan anak anak.

Kami sebenernya tidak begitu suka melihat televisi, kami suka DVD. Kami suka film. Kalau pergi jauh, kami tidak hanya nonton film yang disediakan hotel, kami membawa satu tas berisi DVD.

Bagaimana Anda pertama kali kencan dengan Bill?

Waktu itu sabtu siang, beberapa bulan setelah pertama kali bertemu, kami berjumpa satu sama lain di parkiran mobil Microsoft dan bicara beberapa lama. Akhirnya, dia bertanya apakah aku punya waktu buat dinner di dua minggu berikutnya.

Aku tertawa dan mengatakan belum tahu apa rencanaku soalnya waktunya masih begitu jauh dan itu tak cukup spontan bagiku. Beberapa jam kemudian, dia meneleponku untuk bertanya apakah malam itu bisa minum bersama setelah dia dinner bisnis. Aku mengiyakan dan begitulah awal semuanya.

Bagaimana Anda membesarkan anak?

Aku sering merasa kepayahan menjadi ibu. Dua anak pertama lebih menantang, bukan karena anakku nakal tapi karena semuanya serba baru dan aku jadi kurang tidur. Aku membaca banyak buku soal jadi orangtua. Tapi seringnya aku tanya pada teman dekat yang punya anak lebih tua dari anakku, dan mereka senang membagikan nasehat mengagumkan.

Kami membesarkan anak senormal mungkin. Mereka memang dikasih uang saku tapi juga tanggung jawab. Kalau mereka ingin punya anjing peliharaan, mereka yang harus memberinya makan dan membersihkannya. Dan mereka melakukannya. Bill dan aku tumbuh di keluarga kelas menengah. Dan kami melakukan banyak hal seperti orang tua kami.

Ceritakan soal kiprah yayasan Anda.

Bill dan aku menginginkan yayasan kami memberikan semua dana sampai 20 tahun setelah kami meninggal. Kami merasa bisa memecahkan beberapa masalah yang dihadapi masyarakat saat ini dan kami memiliki sumber daya. Kami memang tak punya bola kristal untuk memprediksi seratus tahun dari sekarang, namun aku merasa akan ada grup filantrofi lain yang akan hadir setelah masa kami dan melanjutkan apa yang kami mulai. (rou/rou)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed