BERITA TERBARU
Senin, 20 Mar 2017 11:26 WIB

Kolom Telematika

Mendobrak Kemapanan Melalui Fintech

Penulis: Dimitri Mahayana - detikInet
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Dalam sebuah perjalanan ke kampus penulis di ITB, terangkum percakapan dengan seorang sopir taksi daring sebagai berikut:

"Pakai Go-Pay ya, Pak?" tanyanya.
"Iya," jawab saya. Saya melanjutkan dengan pertanyaan, "emang sekarang lebih banyak yang pakai Go-Pay atau cash, Pak?"
"Sekarang lebih banyak pakai Go-Pay , Pak," jawab driver tersebut.
"Kalau Bapak lebih suka kalau penumpang pake Go-Pay atau cash , Pak?" tanya saya.
"GoPay, Pak," jawabnya.
Saya kembali bertanya "Kenapa?"
Driver tersebut menjawab, "enak, Pak. Praktis."
Saya kembali bertanya, "praktisnya di mana, Pak?"
Driver tersebut menjelaskan, "tidak usah nyiapin uang kembalian. Jadi gak ribet, Pak."
"Terus nanti Go-Jek akan transfer ke Bapak?" tanya saya.
Driver tersebut menjawab, "tiap hari juga bisa diambil, Pak. Tidak usah menunggu-nunggu transferan."

**
Sejumput pengalaman pribadi ini ternyata relevan dan sejalan dengan prediksi Sharing Vision pada awal tahun 2017. Bahwa pengelolaan keuangan berbasis teknologi informasi komunikasi, kita lazim mengenalnya financial technology (fintech), akan kian membumi dan akhirnya booming.

Betapa tidak. Selain pengalaman di atas, survei kami juga menunjukkan, seorang penjual martabak legendaris di Andir, Kota Bandung, bahkan peroleh tambahan omzet hingga ratusan juta rupiah per bulan setelah membuka saluran pemesanan makanan via ojek daring.

Kita bertemu sebuah kondisi bahwa kebutuhan dan habitual masyarakat berkembang demikian pesat, dan di sisi lain terjadi kematangan layanan berbasis aplikasi digital, sehingga permintaan dan layanan berjalan simetris.

Fintech, yang antara lain dilakukan dengan metode virtual account telah nyata mendorong banyak penyedia layanan digital tanah air, seperti Tokopedia dan Gojek, kini gencar memberikan diskon agar pengguna menggunakan pembayaran daring miliknya.

Bahkan, Go-Pay saat ini sudah diperluas cakupan layanannya dengan adanya kerjasama dengan perbankan utama (BCA, Mandiri, BRI, dan BNI) hingga kemudahan proses top-up (via bank atau pengemudi).

Hal ini sejatinya mengikuti tren global, seperti perusahaan aplikasi mobil, Uber, yang kian intens bekerjasama dengan fintech. Contohnya layanan Uber Bankaool, yakni kartu debit Uber dalam kemitraan dengan Mastercard serta bank online Meksiko, Bankaool.

**

Kita sedang menemui berbagai keniscayaan dari terciptanya digital lifestyle di Indonesia. Fintech, termasuk virtual account, adalah pengembangan ketika orang berubah cara belanja dengan seringnya mereka beranjangsana ke marketplace.

Di sana, merujuk survei kami akhir Desember 2016 lalu, media pembayaran yang biasa digunakan pelanggan dalam jawaban terbukanya adalah 94% transfer, 41% cash on delivery, dan 9% kartu kredit.

Ini sejalan dengan metode pembayaran yang disediakan pengelola, yang mana dari 32 e-commerce menyebutkan bahwa 88% cara transfer, 78% kartu kredit, 59% pembayaran internet, 47% internet banking, dan 41% e-Money.

Dengan demikian, melalui cara-cara pembayaran lebih banyak pola daring digital daripada cara manual tunai, maka menjadi hal lumrah jika fintech pun kemudian peroleh tempat yang cukup cepat dalam benak penerimaan masyarakat tanah air.

Bagaimana laju fintech ini ke depan? Penulis mengajak partisipasi semua pihak dalam sesi workshop kami.

So, semua ini adalah konsekuensi logis dari posisi ketika e-commerce lokal, antara lain Tokopedia dan Bukalapak, sudah melewati trafik sekaligus ranking lokal dari e-commerce asing yakni Amazon, Alibaba, dan eBay.

Bukalapak, merujuk data kami, total pageview per harinya pada Desember lalu sudah mencapai 7,764 juta, Tokopedia 7,580 juta. Sementara milik asing, yakni OLX itu hanya 1,431 juta pageview serta Lazada 975.000 pageview.

Data yang kami catat juga menunjukkan jumlah merchant Bukalapak akhir tahun lalu sudah 510.000 unit dan Tokopedia 500.000 unit. Sementara laman asing, contohnya Elevania 160.000 dan Lazada 40.000 merchant.

Jumlah produk yang ditawarkan merchant tersebut mencapai 12 juta di Tokopedia, 7,8 juta unit (Bukalapak), Elevenia (4 juta), dan Blanja.com (3 juta).

Karenanya, transaksi tahunan pada Bukalapak diestimasi sudah hampir Rp3 triliun sementara perputaran uang pada laman Elevania Rp1,3 triliun. Nominal tersebut dihasilkan dari transaksi bulanan Tokopedia 16,5 juta, Bukalapak 7,5 juta serta Elevenia 0.68 juta.

Sharing Vision juga mencatat determinasi pesat e-commerce lokal juga diperlihatkan

Gojek, manakala dari 121 responden mengaku 75.70% menggunakan aplikasi Gojek serta 49.5% pengguna menggunakan layanan minimal sekali seminggu. Kini, total pengemudi Gojek sudah lebih dari 100 ribu dengan aplikasi diunduh lebih dari 10 juta kali.

Padahal, mereka berdiri sejak Oktober 2010 namun masih berbentuk call center dan benar-benar beroperasi di ranah aplikasi sejak Januari 2015. Kini, terutama setelah dapat suntikan dana Rp7,2 triliun, Gojek menjadi perusahaan transportasi dengan valuasi tertinggi yakni Rp17 triliun.

Kita sedang berada dalam situasi ketika dunia bukan hanya berubah, namun berkembang pesat menerobos kemapanan sistem sekian lamanya. Ketika dulu transaksi dominan tunai, maka hari ini dan selanjutnya bakalan kian bertumpu pada virtual account cashless dan fintech.

Anda siap?


*) Penulis, Dr. Dimitri Mahayana adalah Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Bandung. Bisa dihubungi melalui dmahayana@sharingvision.com. (rou/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed