Kamis, 09 Feb 2017 15:08 WIB

Surat Terbuka

Bapak Blogger: Mengenali Karakter Prajurit dan Pemandu di Medsos

Enda Nasution - detikInet
Jakarta - Dalam keseharian kita mengkonsumsi dan memproduksi informasi di media sosial, seringkali kita berhadapan dengan 'musuh' atau 'teman'.

Teman, adakah mereka yang ramah dan bersahabat dengan kita, mendukung dan setuju dengan pernyataan maupun tindakan kita.

Musuh adalah mereka yang berpandangan bahwa pendapat kita salah, logika kita buruk, tindakan kita ngaco dan layak untuk disalahkan, diejek bahkan untuk di-bully.

Dalam pertemuan tersebut, apalagi jika yang kita temui musuh, akhirnya seringkali kita memasuki karakter prajurit. Adrenalin kita naik, kita bereaksi secara refleks untuk melindungi diri kita maupun para pendukung kita dan menyerang sang musuh.

Sebagai seorang prajurit, cara kita untuk memproses informasi dipengaruhi oleh emosi, motivasi alam bawah sadar dan juga hasrat untuk secara cepat bereaksi. Beberapa pernyataan dan ide seperti mendukung kita, dan kita ingin ide dan informasi itu menang. Beberapa yang lain terasa seperti lawan, dan kita ingin ide-ide itu hilang, bahkan mati kalau bisa.

Itulah karakter Prajurit. Dalam kondisi sebagai Prajurit, informasi, meme, link, photo, video semua adalah senjata kita. Kita akan gunakan semua itu secepat dan semaksimal mungkin untuk mengakibatkan kerusakan sebesar-besarnya pada musuh kita. Kita ingin musuh kita mati.

Karena itu kita tidak peduli apakah amunisi informasi kita ini akurat, berdasarkan fakta, hoax atau bukan. Kita akan gunakan untuk mencederai lawan kita.

Ketika kita dalam karakter prajurit, maka kita tengah berada di medan perang dan media sosial adalah lapangannya. Kita hajar musuh-musuh kita semampu mungkin. Dengan kata-kata yang menyakitkan, ejekan, makian, emoji, gambar, kita tidak peduli.

Di sini, para pembuat hoax berjasa memproduksi amunisi dalam peperangan di media sosial ini. Setiap meriam salvo dari sisi A akan ditangkap dan langsung disiapkan tembakan balasannya oleh sisi B.

Tidak mempedulikan lagi apakah amunisi tadi benar atau tidak, hoax atau tidak, membuat lebih banyak kerusakan daripada manfaat atau tidak.

Menjadi dan memasuki karakter Prajurit di medan perang media sosial karenanya adalah sebuah pilihan, sayangnya banyak kita sekarang tidak sadar bahwa kita bisa memilih.

Apa pilihan lainnya?

Kita juga bisa memasuki karakter seorang Pemandu.

Apa itu karakter Pemandu?

Seorang Pemandu secara alaminya adalah karakter yang penuh rasa ingin tahu, Pemandu juga sadar dan realistis akan kondisi sekitarnya sehingga nilai diri mereka tidak terikat pada berapa betul atau salah mereka terhadap sebuah topik.

Pemandu lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi informasi, apalagi informasi baru, dia harus memilih dan memilah informasi seakurat mungkin. Buat seorang Pemandu, informasi bukanlah amunisi atau senjata, tapi feedback dari lingkungan sekitar yang terus menerus berubah dan membuatnya selalu mengevaluasi kebenaran yang sudah dia punya sebelumnya.

Kita semua bisa dan kadang menjadi Prajurit, dan bisa juga menjadi Pemandu di media sosial. Perbedaan antara Prajurit dan Pemandu bukanlah tentang berapa pintar, cerdas atau berapa banyak hal yang kita tahu, tapi adalah tentang apa yang kita rasa.

Kita harus belajar untuk berbangga dan bukannya malu ketika kita mengetahui bahwa kita ternyata salah tentang sesuatu. Jujur pada diri sendiri, dan layaknya seorang Pemandu, mengenali bahwa kesalahan tersebut wajar dan bisa kita akui di mana seorang Prajurit harus mati-matian membela diri dan mencari kesana kesini amunisi baru untuk melancarkan serangan balasan.

Kita harus belajar bagaimana merasa tergugah dan bukannya merasa menjadi korban ketika kita menemukan informasi yang berkontradiksi dengan hal-hal yang kita percayai.

Media sosial bisa kita jadikan medan perang dengan berjuta korban, korban teman, korban kewarasan, korban perasaan ketika kita jadi prajurit dan mati-matian menggunakan segala cara, termasuk hoax dan fitnah, agar menang.

Atau media sosial bisa menjadi ceruk ceruk diskusi dimana kita berdialog, saling mengkoreksi, saling berbagi, berenang dalam kolam hangat yang bernamakan kemanusiaan dengan segala kekayaannya.

Keputusan ada di diri kita. Dan kita mengambil keputusan itu setiap hari.


Enda Nasution, Blogger dan Penggiat Media Sosial


Hantam Hoax merupakan program detikcom dalam memperingati Hari Pers yang didukung oleh sejumlah tokoh dalam bentuk surat terbuka. Selengkapnya klik di sini.


(rns/rns)