Kala itu, ia menjabat sebagai Ketua OSIS di SMA Negeri 3 Surakarta. Dikepimpinannya, OSIS kerap mengadakan berbagai kegiatan. Hanya saja dana kegiatan yang telah dianggarkan kerap disunat oleh pihak sekolah.
Timbul keresahaan dalam dirinya. Ia tidak ingin hal itu terus terjadi. Tidak hanya pada angkatannya, tapi generasi selanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dermawan kemudian membuat sebuah gerakan untuk mengungkap praktik korupsi yang dilakukan pihak sekolahnya.
"Saya mengumpulkan teman yang dapat dipercaya dan media untuk membongkar praktik kecurangan pengelolaan dana," katanya.
Foto: detikINET/Achmad Rouzni Noor II |
Akhirnya kasus tersebut berhasil terungkap. Sejumlah pihak yang bertanggung jawab dikenakan sanksi, mulai dipindahtugaskan hingga dicopot dari jabatan.
Namun adanya kasus ini, memberikan banyak hikmah bagi diri Dermawan sendiri, baik di kehidupan pribadi maupun saat menjalankan bisnisnya. Ia mengaku makin kritis bila melihat penyimpangan yang terjadi di sekitarnya, terutama soal korupsi.
"Hidup itu bukan bagaimana kita kaya. Tapi berkelanjutan dan mendapat sukses sejati," ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Dermawan juga mengajak peserta d'Youthizen untuk melakukan perubahan. Tidak perlu besar, tapi cukup memberikan pengaruh di sekitar.
"Tidak perlu memikirkan Jakarta, lebih baik memikirkan sekitar kita," ajaknya. "Sekarang enak ada media sosial dan detikcom yang akan membantu gerakan perubahan kita. Dulu cukup sulit, jadi beruntunglah generasi muda saat ini," pungkasnya. (afr/rou)
Foto: detikINET/Achmad Rouzni Noor II