Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
d'Youthizen
Kisah Jatuh Bangun Bukalapak
d'Youthizen

Kisah Jatuh Bangun Bukalapak


Adi Fida Rahman - detikInet

Foto: detikINET - Adi Fida Rahman
Solo - Saat awal-awal berdiri, tak ada sama sekali yang mau mengakses Bukalapak. Para pelaku UKM pun tak sudi untuk ikut bergabung. Untungnya, Achmad Zaky pantang menyerah.

Kegigihan Zaky, sang CEO bersama pendiri Bukalapak lainnya itu pun akhirnya membuahkan hasil. Selang enam tahun kemudian, perusahaannya telah menjadi salah satu e-commerce terbesar di Indonesia.

Tapi untuk mencapai posisi itu tidaklah mudah. Zaky pun berbagi kisah itu untuk ikut memotivasi ratusan anak muda yang hadir di acara d'Youthizen di Emerald Grand Ballroom, Hotel Solo Paragon, Sabtu (26/11/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diceritakannya, enam tahun lalu saat Bukalapak didirikan banyak yang tidak mempercayai. Alhasil pihak UKM menolak saat diajak untuk berjualan. Walau demikian hal tersebut tidak menyurutkan semangat Zaky.

"99% UKM menolak, tapi namanya entreprenuer, tekad kami bulat. Teknologi harus dimanfaatkan oleh UKM," ujarnya dengan gaya ngenes.

Lebih lanjut dituturkannya, saat awal-awal berdiri, Bukalapak tidak memiliki trafik sama sekali. Adapun hanya mereka sendiri yang mengakses.

Lagi-lagi Zaky tidak menyerah. Ia mencari cara bagaimana terus menyakinkan pihak UKM dan konsumen yang saat itu masih belum akrab dengan bisnis online. "Kami menawari tiap hari, selain itu ngajakin teman-teman," kenangnya.

Kerja keras pria asal Sragen ini terbayar. Selang sembilan bulan, Bukalapak sudah memiliki trafik yang cukup baik. Jumlah penjualnya pun mencapai sembilan ribuan.

"Beruntunglah sekarang, banyak yang sudah pakai gadget. Tarif internet juga murah. Berbeda sekali dengan enam tahun lalu," pungkas Zaky. (rou/rou)







Hide Ads