Kegigihan Zaky, sang CEO bersama pendiri Bukalapak lainnya itu pun akhirnya membuahkan hasil. Selang enam tahun kemudian, perusahaannya telah menjadi salah satu e-commerce terbesar di Indonesia.
Tapi untuk mencapai posisi itu tidaklah mudah. Zaky pun berbagi kisah itu untuk ikut memotivasi ratusan anak muda yang hadir di acara d'Youthizen di Emerald Grand Ballroom, Hotel Solo Paragon, Sabtu (26/11/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"99% UKM menolak, tapi namanya entreprenuer, tekad kami bulat. Teknologi harus dimanfaatkan oleh UKM," ujarnya dengan gaya ngenes.
Lebih lanjut dituturkannya, saat awal-awal berdiri, Bukalapak tidak memiliki trafik sama sekali. Adapun hanya mereka sendiri yang mengakses.
Lagi-lagi Zaky tidak menyerah. Ia mencari cara bagaimana terus menyakinkan pihak UKM dan konsumen yang saat itu masih belum akrab dengan bisnis online. "Kami menawari tiap hari, selain itu ngajakin teman-teman," kenangnya.
Kerja keras pria asal Sragen ini terbayar. Selang sembilan bulan, Bukalapak sudah memiliki trafik yang cukup baik. Jumlah penjualnya pun mencapai sembilan ribuan.
"Beruntunglah sekarang, banyak yang sudah pakai gadget. Tarif internet juga murah. Berbeda sekali dengan enam tahun lalu," pungkas Zaky. (rou/rou)