Sosok yang dimaksud adalah Alamanda Shantika Santoso. Namanya mulai dikenal luas kala dirinya menjadi 'emaknya' programer Go-Jek.
Terhitung 3 Oktober 2016, wanita yang kerap disapa Ala ini bergabung ke Kibar Kreasi Indonesia. Kepindahan tersebut sempat membuat penasaran, sebab ia rela meninggalkan jabatannya sebagai Vice President di Go-Jek yang memberinya gajinya cukup tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lewat Kibar, Ala mengaku dapat mewujudkan cita-citanya untuk pengembangkan dunia digital di Tanah Air. Dan benar saja, sejak bergabung di startup besutan Yansen Kamto itu, Ala langsung disibukkan dengan sejumlah kegiatan. Salah satunya Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital yang digagas oleh Kominfo dan Kibar.
"Satu Go-Jek saja bisa menghidupkan 250 ribu keluarga. Kalau ada seribu startup seperti Go-Jek artinya bisa menghidupkan 250 juta orang," ujarnya.
Foto: detikINET/Adi Fida Rahman |
Cetak Srikandi Digital
Masih minimnya programer wanita di Indonesia membuat Ala tergugah untuk mencetak lebih banyak lagi srikandi digital di Tanah Air.
"Meski terus meningkat, tapi masih kecil. Waktu di Go-Jek, ada 10% developer cewek," ujar wanita yang hobi membaca ini.
Pola pikir disebut Ala menjadi biang keladi masih sedikitnya srikandi di dunia digital. Banyak yang menilai wanita tidak mampu. Sayangnya mindset tersebut tertanam di kaum hawa sendiri.
"Kalau ada yang tanya saya, 'susah tidak wanita di teknologi? Saya jawab, biasa aja kok. Terkadang pikiran tidak mampu itu yang menjatuhkan wanita itu sendiri, padahal kita bisa," tegasnya.
Untuk meningkatkan wanita yang berkecimpung di dunia digital, Ala mewujudkannya lewat program FemaleDev. Program ini juga digagas oleh Kibar.
Foto: detikINET/Adi Fida Rahman |
FemaleDev sendiri akan memiliki konsep yang hampir sama dengan 1.000 Startup. Peserta akan mendapat workshop hingga mentoring. Dari sini diharapkan tidak saja melahirkan developer, tapi juga mencetak pemimpin di jagat teknologi.
"Kami ingin melahirkan pemimpin wanita di dunia teknologi yang benar-benar dari kalangan programing. Mendidik mereka dari developer hingga nantinya menjadi leader," jelas Ala.
Lebih lanjut dikatakannya program ini sangat terbuka bagi kaum hawa yang sudah berkecimpung di bidang lain tapi ingin belajar coding dan mendirikan startup.
"Tidak perlu developer banget, tapi setidaknya punya dasar programing. Itu sudah cukup untuk mendirikan startup. Nadiem (Makarim, pendiri dan CEO Go-Jek) sendiri tidak begitu mengerti dengan programing. Tapi akhirnya mau gak mau dia akhirnya mempelajari," paparnya.
FemaleDev sendiri akan bergulir 29 Oktober mendatang di 6 kota di Indonesia. Bali akan menjadi kota pertama yang disambangi program ini. Ala berencana membawa program ini ke global, sebab di luar negeri pun developer wanita belum begitu banyak.
"Program ini akan dibawa ke global, karena memang belum ada yang spesifik untuk wanita. FemaleDev akan bekerja sama dengan Google Developer," pungkas Ala. (afr/rou)
Foto: detikINET/Adi Fida Rahman
Foto: detikINET/Adi Fida Rahman