Rabu, 29 Jun 2016 15:45 WIB

Karakter Generasi Milenial: Penuh Ide!

Rachmatunnisa - detikInet
Yoris Sebastian (Foto: detikINET/Rachmatunnisa) Yoris Sebastian (Foto: detikINET/Rachmatunnisa)
Jakarta - Langganan menjadi juri kompetisi inovasi, membuat pendiri OMG! Creative Consulting Yoris Sebastian memahami karakter berbagai generasi. Dia mengaku terkesan dengan generasi milenial yang penuh ide.

"Generasi milenial itu peka terhadap persoalan yang ada di sekitarnya. Mereka banyak ide, namun seringnya gak kejadian. Baru sedikit yang membuatnya jadi action, critical-nya di situ," ungkap Yoris usai penganugerahan Samsung IdeAction di Ice Palace, Lotte Shopping Avenue, Jakarta, Selasa (28/6/2016) malam.

Itu sebabnya, keberadaan event seperti Samsung IdeAction menurutnya sangat penting. Kompetisi ide dan inovasi semacam ini mendorong terjadinya perkawinan antara ide dengan aksi sehingga mewujudkan solusi inovatif.

Karakter penuh ide pula yang menarik perhatian Yoris pada generasi milenial. Diperlukan mentoring untuk mengarahkan mereka fokus mengembangkan hal yang paling punya dampak.

"Di Samsung IdeAction ini kita para juri menemukan begitu banyak tim yang berpikir too many things. Tidak apa-apa, bukan salah mereka. Karena milenial memang karakternya seperti itu. Banyak maunya. Semua ingin dicarikan solusinya," sebut Yoris.

Untuk itu, Yoris dan juri lainnya tak lupa untuk selalu mengingatkan para peserta kompetisi ini untuk fokus memulai dari hal paling kecil dengan dampak paling besar.

"Kita sarankan mereka untuk menulis lagi tujuan dari aplikasi itu apa, di-simplify lagi. Seperti Go-Jek itu kan dulu juga cuma punya satu layanan, ojek. Gak langsung ada Go-Food dan lainnya. Go-Jek sukses karena cita-citanya terwujud dan berdampak besar," kata Yoris memberikan contoh.

Yoris menambahkan, generasi milenial atau sering juga disebut sebagai generasi Y, saat ini berada di era terbaiknya untuk mengembangkan ide dan inovasi. Salah satunya karena ada banyak investor yang membidik karya anak-anak Indonesia.

Startup seperti Go-Jek dan Tokopedia menurutnya secara tidak langsung membuka jalan bagi startup asal Indonesia berikutnya untuk berkolaborasi dengan investor.

"Memang mereka harus kolaborasi dengan yang sudah mahir. Kalau dulu cari investor sulit. Siapa coba yang mau invest dengan perusahaan baru, karyawan cuma tiga orang, kerjanya dari rumah? Tapi sekarang, sudah ada seperti Go-Jek dan Tokopedia mendului. Jadi saya gak setuju kalau modal jadi hambatan," simpulnya.

Menurutnya, selama idenya brilian, kreatif dan punya dampak besar memecahkan persoalan di sekitar, generasi milenial siap-siap saja dilirik investor. (rns/ash)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed