Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Sisi Positif dari Kasak-kusuk Pehobi Foto Instagram

Sisi Positif dari Kasak-kusuk Pehobi Foto Instagram


Rachmatunnisa - detikInet

Foto: detikINET/Irna Prihandini
Jakarta - Melihat orang sibuk mengambil foto untuk dipamerkan di media sosial bukan pemandangan yang mengherankan. Mereka bisa berulang kali menjepret sebuah objek demi foto yang Instagrammable alias bagus untuk dipajang di Instagram.

Sebagian orang beranggapan, orang-orang seperti ini harusnya bisa lebih santai, menaruh ponsel mereka, sehingga menikmati momen. Pikir dua kali sebelum menilai satu sisi orang-orang seperti ini, karena inilah yang sebenarnya mereka lakukan.

Setidaknya, hasil studi yang satu ini menjadi pembenaran bagi para pehobi foto yang serius mengabadikan jepretan terbaik untuk di-upload di Instagram. Studi yang dipublikasikan Journal of Personality and Social Psychology menyebutkan, mengambil foto membantu orang lebih menikmati momen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para peneliti dari University of Southern California Marshall School of Business, Amerika Serikat, melakukan sembilan rangkaian eksperimen yang melibatkan 2.000 partisipan.

Seperti dikutip detikINET dari Tech Times, Kamis (16/6/2016), eskperimen ini dilakukan untuk menguji tingkat kesenangan yang dialami setiap orang ketika mereka bisa dan tidak bisa mengambil foto.

Eksperimen ini melibatkan partisipan di Reading Terminal Market di Philadelphia, simulasi safari, wisata keliling menggunakan bus dan di museum.

Dalam setiap eksperimen, sebagian partisipan didorong untuk menggunakan kamera mereka, sedangan sebagian partisipan yang lain tidak dibekali kamera sehingga tak bisa memotret.

Para partisipan kemudian diminta menjawab sejumlah pertanyaan di lab, untuk mengukur kadar kesenangan mereka. Hasil penelitian menemukan, mereka yang mengambil foto, memiliki lebih banyak waktu menikmati momen dan lebih senang dibandingkan yang tidak.

Contohnya, dalam eksperimen wisata keliling menggunakan bus, partisipan yang mengambil foto merasa lebih senang dibandingkan partisipan yang hanya bisa melihat-lihat.

Saat di museum, partisipan yang memotret terbukti lebih memperhatikan detail apa yang mereka lihat ketimbang mereka yang tidak bisa memotret.

Demikian juga dalam eksperimen di safari, mereka yang tidak mengambil foto lebih merasa ketakutan saat melihat singa, dibandingkan mereka yang mengabadikannya dengan kamera.

Logika di balik temuan ini sederhana, ketika seseorang mengambil foto, mereka akan fokus pada aktivitas dan mengabadikan momen untuk mengingatnya dan menceritakannya pada orang lain. Terlibat dalam sebuah momen, terbukti membantu meningkatkan kegembiraan saat mengalaminya.

Yang menarik, hal ini juga berlaku ketika seseorang hanya berpikir untuk mengambil foto. Jadi, ketika Anda tidak diperbolehkan mengambil foto di suatu tempat, bebaskan saja imajinasi seolah-olah Anda memotretnya.

Kesimpulan ini mungkin menjadi pembenaran bagi para penggila media sosial seperti Instagram untuk sibuk memamerkan jepretan mereka. Namun hal ini tidak berlaku bagi mereka yang terlalu sibuk untuk bisa segera meng-upload-nya di Instagram. Kebiasaan tersebut akan mengalihkan perhatian seseorang terhadap sebuah momen.

Jadi sebaiknya, ambil foto sebanyak-banyaknya saat aktivitas atau -- untuk makanan -- sebelum menyantap hidangan, namun beri waktu untuk meng-upload-nya kemudian, ketika sudah selesai aktivitas atau makan. (rns/ash)
TAGS






Hide Ads