Dennis bersama kedua temannya -- Dion dan Eno -- membangun Layaria pada November 2012. Kala itu mereka hanya bermodalkan kamera, tabungan dan ruang baca milik Dennis yang berukuran cukup mungil.
"Kira-kira ukurannya tiga petak liang kuburan," selorohnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jerih payah mereka mulai berbuah manis. Layaria semakin berkembang. Ini ditandai dengan makin banyak personil yang bergabung di dalamnya.
"Dari ruang buku merambah ruang TV di rumah saya. Kemudian menjajah ruang seluruh lantai satu rumah saya. Terus akhirnya kita pindah ke sebuah gedung dua lantai. Tapi karena makin banyak anggota keluarga Layaria, rencananya kami akan pindah ke gedung yang lebih besar lagi," ungkap pria kelahiran Malang ini.
Kuliah Bisnis
Keberhasilan Dennis membawa Layaria ke posisi sekarang tentu tidak terlepas dari jiwa bisnis yang dimilikinya. Sejak kecil ia telah memperlihatkan bakat tersebut.
"Saya pernah jualan komik bekas waktu SMA. Pernah juga bantu usaha rental DVD punya bokap. Jadi juru pengantar kembang, macam-macam sih dari kecil. Mungkin keluarga saya basic-nya punya usaha. Adik saya saja sekarang punya usaha konveksi," terangnya.
Tapi lucunya meski sudah melihat bakatnya, Dennis malah mengaku tidak menyukai dengan dunia bisnis. "Dulu pas SMA mikir bisnis boring, lebih nyeni banget," katanya.
Karena itu pendidikan D3 dan S1 mengambil jurusan penyiaran dan televisi. Tapi seiring waktu Dennis mulai sadar akan pentingnya dunia bisnis.
"Film maker hidup dalam ekosistem bernama industri film. Begitu saya menyadari posisi saya dalam ekosistem tersebut, di situ saya merasa belajar bisnis itu penting," ungkap Dennis.
Untuk mendalami dunia bisnis, pria berusia 33 tahun ini lantas mengambil pendidikan master di jurusan binis kreatif. Selain itu ia kerap mengikuti kursus singkat dan kelas online untuk makin mengasah kemampuannya.
"Saya tidak hanya mendapatkan ilmu baru, tapi juga networking baru. Saya bisa melihat satu hal dari berbagai sudut pandang. Setiap hari kita harus lebih pintar dari sebelumnya dan harus lebih tahu," kata Dennis.
Drop Out
Sembari berkuliah di jenjang S2, Dennis tak berhenti mengembangkan Layaria. Ilmu yang didapatnya dirasa berguna dalam memperbesar startupnya itu.
Namun pada satu waktu, dia harus mengambil lisensi YouTube Premium Partner di Singapura. Tapi di saat yang sama, ia dituntut untuk menyelesaikan tesis yang tinggal sebulan lagi dari batas waktu pengumpulan.
Dennis dihadapkan pilihan yang sulit. Bila fokus pendidikan S2, sejatinya ia bisa mengantongi ijazah dan masih bisa membangun Layaria. Tapi Layaria juga butuh perhatian lebih untuk bisa tancap gas.
"Sempat bikin galau, tapi akhirnya saya memilih Layaria ketimbang kuliah," ujarnya.
"Salah kampusnya juga sih, ngajarin soal Bill Gates, Steve Jobs dan Mark Zuckerberg. Mereka sukses meski DO. Ya udah aku DO aja," timpalnya bercanda.
Dennis beralasan ilmu yang didapat dari bangku kuliah sudah cukup menjadi bekal dan ia menganggap Layaria-lah yang menjadi ujian nyatanya. Itulah mengapa lantas ia memilih fokus ke Layaria ketimbang menyelesaikan S2.
"Bukan saya mengecilkan kampus, well ini ada ujian di depan mata. Saya melihat kalau tidak sekarang ya kapan lagi. Saya mengambil momen itu," terang pria yang identik dengan tokoh Mamet di film 'Ada Apa Dengan Cinta?' ini.
"Buat saya ijazah itu penting bagi yang bisa mendapatkannya. Tapi ujian di dunia nyata jauh lebih penting. Lebih aplikatif, lebih seru dan lebih terpakai," lanjutnya.
Keputusan itu rupanya tepat, Layaria melajut pesat. Kini mereka telah menaungi ratusan pembuat konten video online di seluruh Indonesia. (afr/ash)