"Pak Presiden tadi minta saya untuk bikin riset, tapi jangan Kominfo yang melaksanakan. Soalnya kalau dilaksanakan kementerian, lalu startup-nya rugi maka dihitung sebagai kerugian negara," terangnya saat ditemui detikINET di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Tangerang Selatan, yang berlangsung 27-28 April 2016.
Seperti diberitakan sebelumnya, Jokowi sempat menitipkan soal program seribu startup ini setelah melihat inkubator Plug and Play di Silicon Valley, Amerika Serikat, dan melihat pergerakan negara lain yang juga punya kepedulian terhadap usaha rintisan digital itu. Misalnya, Thailand.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyanggupi permintaan ini, Rudiantara pun langsung gerak cepat. Ia pun menggandeng sejumlah pegiat startup yang kompeten untuk ikut membantu program seribu startup ini. Salah satunya Kibar yang digawangi oleh Yansen Kamto.
"Bentuknya nanti berupa riset akademis, bisa saja bekerja sama dengan perguruan tinggi atau tidak. Kita bicara dulu dengan industrinya," jelas menteri yang akrab disapa Chief RA itu .
Indonesia memang punya rencana besar untuk pengembangan ekosistem usaha rintisan digital. Antara lain melalui upaya mencetak seribu startup dan mencanangkan roadmap untuk membesarkan e-commerce. Keduanya ditarget terwujud pada 2020 mendatang.
Sementara menurut Yansen yang ditemui di tempat yang sama, upaya untuk merintis seribu startup ini telah dimulai dengan menggandeng akademisi, bisnis, pemerintahan, dan media.
"Program seribu startup ini adalah program nasional. Itu sebabnya, konsentrasi pencariannya bukan hanya di Pulau Jawa saja, tapi juga di kota-kota besar lainnya secara nasional," kata pegiat startup itu.
"Maka itu kami akan bangun innovation hub yang terdiri dari co-working space dan inkubator. Kami akan membangun ekosistem di 10 kota untuk menyebarkan virus startup teknopreneur," paparnya lebih lanjut.
Adapun 10 kota yang sudah dijajaki sejak awal 2016 ini adalah Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Malang, Medan, Makassar, Pontianak, Denpasar, dan Surabaya.
"Itu baru tahap awal saja. Nantinya tidak hanya di 10 kota, tapi mungkin bisa 50 kota secara bertahap. Kami ingin menyebarkan virus startup teknopreneur, sehingga dapat menjadi wabah yang bisa menjangkiti seluruh wilayah Indonesia," pungkasnya.
Selain soal pusat riset, Jokowi juga sempat meminta ada bantuan modal awal untuk para perintis usaha digital. Penerapan ide itu, kata Rudiantara, masih perlu pembahasan lebih lanjut dengan berbagai pemangku kepentingan.
"Jadi sekarang masih dibahas bagaimana mengonversi alokasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi dana startup, bentuknya bisa saja venture capital. Apakah nanti melalui Danareksa atau lainnya," jelasnya.
Pembahasannya antara lain dengan Menko Perekonomian Darmin Nasution, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, dan tentunya Kominfo. Harapannya, kata Rudiantara, bisa diterapkan mulai tahun 2016 ini.
"Total dana KUR saat ini sebesar Rp 120 triliun. Rencana alokasi untuk startup tak perlu besar, bila ada Rp 1 triliun saja itu sudah cukup sebenarnya," pungkas Chief RA. (rou/ash)