Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Wahai Developer, Jangan Sia-siakan Keahlianmu

Wahai Developer, Jangan Sia-siakan Keahlianmu


Rachmatunnisa - detikInet

Ilustrasi (Foto: yud/detikINET)
Jakarta - Indonesia punya banyak developer dengan keahlian yang mumpuni, tak kalah dengan developer asing. Sayangnya, keahlian ini sia-sia jika tidak dibarengi dengan pengetahuan tentang pasar.

"Insight mengenai apa yang harus dibikin, yang dibutuhkan pasar itu apa, itu yang developer kita agak struggle. Karena kita hanya mengerti how to build. Pengetahuan tentang pasar itu kita kurang," kata salah satu Google Developer Expert Yohan Totting, saat ditemui detikINET di acara Google for Mobile.Β  Β 

Dikatakannya, meski jumlah developer di Indonesia cukup banyak, masih sedikit yang siap membuat aplikasi sesuai tren pasar. Pasalnya, lulusan IT kebanyakan tidak disiapkan untuk memenuhi kebutuhan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau kita lihat, universitas yang meluluskan lulusan Informatika itu gak relevan dengan industri saat ini. Mereka diajarkan buat aplikasi, tapi bukan aplikasi Android misalnya. Karena trennya sekarang kan lagi di Android," sebut Yohan.

Dia mencontohkan, para mahasiswa IT diajarkan mengenai aplikasi C++ di kampusnya. Memang tidak ada salahnya membekali mahasiswa dengan keahlian C++. Sayangnya ketika lulus, pasarnya tidak sesuai.

"Aplikasi ini banyaknya digunakan untuk membuat aplikasi di desktop, misalnya untuk perbankan. Sedangkan yang tren sekarang adalah aplikasi mobile di Anroid. Pasar butuh developer yang bisa java programming, itu pun harus belajar lagi Android development seperti apa," kata pria asal Bandung ini.



Bajak membajak developer

Timpangnya ketersediaan developer dengan permintaan pasar juga memunculkan masalah lain yang membuat komunitas developer menjadi tidak sehat.

"Artinya, semua startup mau bayar mahal agar developer lain pindah ke mereka. Mereka bahkan mau bayar 2-3 kali lipat," papar Yohan. Β 

Menurutnya, bagi startup yang sudah mendapatkan pendanaan jutaan dolar, mungkin tidak masalah untuk membajak developer dengan bayaran mahal. Sebaliknya bagi startup yang belum cukup modal, kondisi ini akan menyulitkan

"Di satu sisi, masalahnya adalah pricing developer jadi naik. Apalagi sekarang banyak startup dari luar yang mau bayar sampai tiga kali lipat. Stratup lokal yang dari Indonesia jadi kesulitan mem-build produk mereka sendiri.

Untuk itu, Yohan bersama teman-temannya di komunitas developer berpikir bagaimana caranya agar celah ini bisa berkurang, salah satunya dengan aktif mendukung program pelatihan developer seperti Indonesia Android Kejar yang diadakan Google Indonesia.

Program ini bekerjasama dengan sejumlah universitas di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Yogyakarta untuk memasukkan kurikulum Android dalam pembelajaran.Β  Β 

"Program semacam ini seharusnya akan efektif. Karena sekarang kan demand-nya memang Android. Jadi harapannya, saat sudah lulus, startup lebih mudah mencari developer yang siap," simpulnya. (rns/rou)
TAGS







Hide Ads