Rabu, 23 Mar 2016 16:28 WIB

'Emaknya' Programer Go-Jek Bidik Kursi Menteri

Adi Fida Rahman - detikInet
Alamanda Shantika Santoso (Foto: detikINET/Irna Prihandini) Alamanda Shantika Santoso (Foto: detikINET/Irna Prihandini)
Jakarta -

Go-Jek tak selalu Nadiem Makarim. Sebab ada sederet karyawan Go-Jek lain yang memiliki peran tak kalah penting dalam membangun perusahaan ojek online itu.

Sosok tersebut salah satunya adalah Alamanda Shantika Santoso, yang saat ini menempati posisi mentereng Vice President of Technology Product Go-Jek. Ia adalah figur di balik pembuatan aplikasi Go-Jek yang kita gunakan selama ini.

Kiprahnya di Go-Jek dimulai pada Mei 2014. Kala itu Nadiem memintanya untuk membuatkan aplikasi mobile untuk Go-Jek. Mungkin agar lebih terfokus, wanita yang kerap disapa Ala ini diminta untuk bergabung secara penuh. Pada Mei 2015, Ala pun resmi menjadi salah satu punggawa Go-Jek.

Ala menceritakan saat dirinya membuat aplikasi Go-Jek. Butuh waktu empat bulan menggarap aplikasi itu hingga bisa digunakan. Ia mengatakan, waktu tersebut terbilang memakan waktu lantaran ia kekurangan sumber daya kala itu.

"Kami memulai dengan 5 orang, dan itu ada yang berstatus freelance. Dulu nyari orang susah banget. Go-Jek dulu nggak ada yang ngereken," kenangnya.

Namun demikian, Ala mampu membuktikan di tengah keterbatasan mampu meraup kesuksesan. Dalam waktu singkat aplikasi Go-Jek banyak digunakan oleh masyarakat. Ia pun berhasil membangun tim solid. Dari 5 orang kini ia mengomandoi 130 orang engineer.

"Tugas saya kini coaching dan sebagai ibu dari programer Go-Jek," kata wanita kelahiran Jakarta ini.

Banting Setir Jadi Karyawan

Ketertarikan Ala di bidang teknologi sudah sejak belia. Saat di bangku SMP ia sudah mulai berlajar coding. "Saya itu suka mengeksplorasi dan otak-atik apa saja. Jadi di rumah ada komputer dan waktu itu zaman awal internet, saya belajar bikin blog dan terus desain sendiri," ungkap wanita berusia 27 tahun ini.

Karena terpikat dengan dunia teknologi, usai menamatkan SMA, ia lanjut mengambil jurusan IT di Universitas Bina Nusantara. Namun karena suka berhitung dan mendesain, di waktu bersamaan, Ala pun mengambil jurusan matematika dan desain di universitas yang sama.

Konsekuensinya, dengan tiga jurusan yang digeluti, wanita berperawakan mungil ini harus kuliah dari jam 7 pagi hingga 7 malam!

"Hanya desain yang tidak lulus, karena banyak banget tugasnya dan saya anaknya suka bolos," ujarnya, blak-blakan.

Di saat kuliah inilah Ala mulai merintis startup miliknya. Perusahaan rintisannya membuat platform e-commerce. Kala itu 2009, ada sebuah brand jeans terkenal meminta dibuatkan website. Meski merasa ilmunya masih sedikit, Ala memberanikan diri menggarapnya.

Keberhasilan mengembangkan website tersebut membuat nama Ala jadi tersohor di kalangan merek fashion di Indonesia. Ia lantas kebanjiran order untuk mengarap website mereka.

"Sampai akhir 2013, saya sudah membuat 200 web e-commerce," ungkapnya.

Meski startupnya terbilang sukses, Ala memutuskan banting setir menjadi karyawan usai lulus kuliah. Ia lantas bergabung ke perusahaan Nostra milik Rama Notowidigdo yang saat ini menjadi Chief Product Officer (CPO) Go-Jek.

"Saya pikir kalau terus fokus di startup gak pernah merasakan jadi bawahan. Gabung di Nostra jadi bisa lebih banyak belajar dari Rama, soalnya dia lama di Oracle Amerika Serikat dan Silicon Valley," terang anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Ia pun kembali jadi programer, padahal di startup yang di rintisnya Ala sudah punya banyak anak buah programer. Setelah di Nostra, ia lalu pindah ke Berrybenka. Tidak sampai setahun kemudian loncat lagi ke Kartuku sebelum akhirnya berlabuh di Go-Jek.


Bidik Kursi Menteri

Kesuksesannya menggarap Go-Jek rupanya tak membuat Ala berkeinginan untuk menggarap startup baru sendiri. Ia malah ingin fokus pada dunia pendidikan.

Menurutnya, edukasi adalah fondasi dari semuanya. Sayangnya di Indonesia masih dirasa kurang, lebih banyak teori ketimbang praktek. Karena itu ia ingin turut serta mempersiapkan anak-anak bangsa untuk lebih siap lagi nyemplung ke dunia kerja. "Semua berawal dari edukasi. Jika bangsa ini tidak teredukasi dengan baik bakal kalah dari yang lain," tegas Ala.

Wanita yang memiliki hobi membaca itu pun ingin meneruskan pendidikan ke jenjang doktoral di Stanford University.

"Ngambil PhD, balik ke Indonesia saya benar-benar fokus ke edukasi. Jadi dosen, guru besar dan Menteri Pendidikan," ujarnya sembari mengamini.

Saat berkuliah kembali, Ala berencana ingin mengambil jurusan brain atau neuro science. Pasalnya, ia mengaku tertarik dalam bidang perilaku manusia.

"Kita bikin produk untuk mengubah perilaku manusia. Baik edukasi maupun bikin produk punya hubungan dengan otak manusia," jelasnya.

Namun demikian, Ala belum tahu kapan pastinya rencana tersebut dapat terwujud. Ia berharap tidak dalam waktu lama. Saat ini ia tengah fokus meningkatkan kemampuan engineer yang ada di Go-Jek dan membuat perusahaan layanan ojek online itu stabil.

Seperti yang sudah disebutkan di awal, Ala ibarat 'emak' dari para engineer Go-Jek. Menjadi 'ibu' dari para programer Go-Jek membuat wanita ini punya tugas tambahan. Yakni menjadi tempat keluh kesah anak-anaknya di bagian teknologi Go-Jek.

"Seorang leader itu sama persis seperti Ibu. Benar-benar harus tahu satu per satu anaknya lagi kenapa," pungkasnya.

(afr/ash)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed