Diketahui, dua orang tentara Israeli Defense Force (IDF) sedang berpatroli dengan menggunakan Waze sebagai alat bantu navigasi. Saat patroli itu mereka diarahkan secara tidak sengaja oleh Waze untuk melewati batas antara Israel - Palestina.
Lebih parahnya, mereka memasuki sebuah kawasan pengungsi Palestina, di Kalandia. Nyasarnya tentara Israel ini memprovokasi penduduk lokal untuk melempari mobil tersebut dengan batu dan bom molotov karena disangka akan melakukan serangan militer, dikutip detikINET dari New York Times, Kamis (3/3/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua tentara malang itu akhirnya ditemukan sedang bersembunyi di sebuah lembah dekat kawasan pengungsi tersebut. Namun masalah timbul ketika militer Israel akan mengambil kendaraan yang ditinggalkan dua tentaranya itu. Yaitu bentroknya tentara Israel dan penduduk lokal Palestina di lokasi tersebut, yang kemudian menewaskan seorang warga Palestina.
Letnan Kolonen Peter Lerner, juru bicara militer Israel menyebut kalau Waze memang populer di Israel, namun para tentara diperintahkan untuk tak menggunakan GPS di daerah yang tak mereka kenali. "Mereka seharusnya menggunakan peta, dan mereka seharusnya mengetahui rutenya," tambahnya.
Waze pun angkat bicara soal kejadian ini. Menurut mereka, dua orang tentara itu tak mengaktifkan fitur Waze yang memberikan informasi untuk menghindari rute-rute berbahaya dan rawan konflik.
Pada Juni 2015 lalu dua orang tentara Israel juga pernah nyasar gara-gara Waze. Yang membuat mereka memasuki sebuah kota di Palestina bernama Tulkarm. Waze adalah sebuah layanan peta digital yang dikembangkan di Israel yang kemudian diakuisisi oleh Google dengan nilai lebih dari USD 1 miliar pada tahun 2013. (asj/ash)