Teror bom Thamrin yang bikin heboh pekan lalu juga semakin memperkuat riset Ericsson tentang perlunya aplikasi pelaporan gawat darurat yang bebas pulsa dan bebas paket kuota data.
Selain itu, kejadian semacam ini juga mendorong semakin banyaknya jurnalisme warga di media sosial. Kedua tren ini, yang disebut sebagai Emergency Chat dan Netizen Journalists, masuk dalam Top 10 mobile consumer 2016 yang diinginkan oleh 40 ribu responden dari 24 negara yang disurvei Ericsson Consumer Lab.
"Emergency chat ini sangat perlu kalau melihat kejadian minggu lalu yang sangat menyedihkan dan meresahkan karena tidak adanya jalur informasi yang jelas," kata Vice President Marketing & Communication Ericsson Indonesia Hardyana Syintawati di Marche, Plaza Senayan, Jakarta, Selasa (19/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalnya kemarin ada yang bilang, teroris bawa ak47 ke Alam Sutera. Tidak semua orang tahu itu hoax apa bukan. Itu sebabnya kita butuh aplikasi itu. Dan diharapkan bisa disediakan oleh penyedia jaringan secara gratis," paparnya.
"Kenapa harus gratis? Karena di ponsel itu kalau nggak ada pulsa bisa telepon 112 untuk emergency, kalau di Amerika Serikat mereka pakai 911. Jadi kita tanpa pulsa pun bisa telepon ke 112 tanpa pulsa. Nah di aplikasi ini harusnya tanpa paket data supaya bisa emergency chat," jelas Nana Lebih lanjut.
Sementara untuk tren netizen journalists ini sebenarnya bukan tren baru. Tapi menurut survei Ericsson, para pewarta warga secara online ini ikut memberikan kontribusi dalam melaporkan kondisi terbaru, misalnya saat teror bom Thamrin.
"Memang ini bukan tren baru, sudah lama, tapi ke depan akan terus berlanjut dengan netizen journalist gaining more credibility. Orang sekarang lebih percaya ribut di online ketimbang lapor polisi,"
"Lebih ke arah pelaporan, ada yang salah dilaporkan oleh netizen. Memang pengaruhnya semakin besar. Minggu lalu juga banyak netizen journalism, banyak sumber dari netizen. Ada yang benar ada yang hoax, jadi pengguna juga harus bisa filter sumber beritanya, cari yang lebih dipercaya," pungkas Nana.
(rou/fyk)