Awan kelabu menyelimuti dunia teknologi di penghujung 2015. Ian Murdock, salah satu dedengkot sistem operasi Linux, menghembuskan nafas terakhirnya.
Pria penuh talenta dalam pemrograman ini meninggal pada Senin malam waktu Amerika Serikat. Namun kabar ini baru diketahui publik melalui postingan blog seorang karyawan Docker, perusahaan software yang juga menjadi tempatnya bekerja dalam dua bulan terakhir.
Murdock, seperti dikutip dari Fortune, Kamis (31/12/2015), baru bergabung di Docker sebagai staf teknis pada November silam. Namun rekam jejaknya di dunia teknologi sangat diperhitungkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Linux old timer. Debian founder. Sun alum. Salesforce ExactTarget exec," demikian Murdock mendeskripsikan dirinya.
Belum diketahui penyebab kematian Murdock. Pria 42 tahun ini diketahui teman-temanya sedang dalam keadaan sehat. Tak heran, banyak yang terkejut dengan kepergiannya. Pesan duka pun langsung membanjiri, terutama di kalangan komunitas Linux.
"Rest in Peace Ian. You left a mark and made the world better. We miss you," tulis hacker ternama Solomon Hykes sekaligus rekan kerja Murdock di Docker.
"We mourn the loss of Ian Murdock - he made immeasurable contributions to OSS - The circumstances are puzzling though," tulis Werner Vogels.
Sumber kepolisian yang menyelidiki kematian Murdock belum mengungkap informasi detail. Sebelum kematiannya, polisi menerima laporan bahwa Murdock berupaya mendobrak rumah dalam keadaan mabuk dan menolak ditangkap.
Diduga, Murdock mengalami depresi berat. Belakangan, Murdock diketahui sempat memposting tweet mengenai rencana bunuh diri, sebelum ditemukan tewas.
"I'm committing suicide tonight.. Do not intervene as I have many stories to tell and do not want them to die with me," tulisnya.
Bagaimanapun, Murdock dengan talentanya telah ikut berperan dan memberikan kontribusi dalam dunia teknologi. (rns/ash)